Simak Pesan Penting 3 Dokter Ahli di Kupang Terkait Covid-19 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Simak Pesan Penting 3 Dokter Ahli di Kupang Terkait Covid-19


AYO HIDUP SEHAT. dr. David Santosa, SpPD saat menjelaskan penanganan pencegahan penyebaran Covid-19 di Provinsi NTT dalam sesi jumpa pers di Kantor Gubernur NTT, Jl. El Tari, Jumat (4/12). Tampak Karo Humas dan Protokol Setda NTT, Jelamu Ardu Marius, dr. Yaditta Mirdania, Sp.PD, dr. Putu Pradipta, Sp.PD, dan penyintas Covid-19, Imo Ataupah (kiri). Agar terbebas dari Covid-19, terapkan pola hidup sehat dengan menerapkan protokol kesehatan 3M.(FOTO: YOPI TAPENU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Simak Pesan Penting 3 Dokter Ahli di Kupang Terkait Covid-19


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Dokter Yaditta Mirdania, Sp.PD mengimbau masyarakat agar tidak memberi stigma negatif terhadap pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Dokter spesialis penyakit dalam ini menekankan hal tersebut sebab umumnya yang terjadi selama ini adalah ketika masyarakat terpapar Covid-19, memperoleh stigma negatif dari masyarakat, lebih khusus di lingkungan tinggal si pasien Covid-19 itu.

Kondisi itu, kata dr. Yaditta, tentu semakin memperpuruk keadaan kesehatan si pasien Covid-19. “Maka dari itu, pasien Covid-19 tidak boleh distigma negatif,” ungkap dr. Yaditta Mirdania saat memberi keterangan pers di Kantor Gubernur NTT terkait perkembangan penanganan Covid-19 di NTT.

Dokter Yaditta mengatakan bahwa akibat stigma negatif oleh masyarakat terhadap pasien Covid-19, menyebabkan terjadinya peningkatan pasien Covid-19 di rumah-rumah sakit yang ada. Ada fakta bahwa akibat pasien terpapar Covid-19, setelah sembuh mereka tidak ingin kembali ke rumah karena mendapatkan stigma megatif dari lingkungan.

Kondisi itu juga ikut menyebabkan lambannya proses penyembuhan terhadap pasien yang terpapar akibat mengalami stres terhadap stigma yang diterimanya. “Jadi saya harap kita jangan menstigma negatif pasien terpapar Covid-19,” harap dokter yang bertugas di RSUD SK Lerik dan RS Bhayangkara Drs. Titus Uly itu.

Sementara itu, dr. Putu Pradipta, Sp.PD, menuturkan Provinsi NTT merupakan salah satu provinsi yang pasien terpapar Covid-19 terus bergerak naik dari waktu ke waktu.

Hal itu terjadi lantaran kurangnya disiplin masyarakat, terhadap protokoler kesehatan pencegahan Covid-19 yang sudah ditetapkan pemerintah. Padahal untuk mencegah penyebaran Covid-19 hanya cukup dengan melaksanakan rumus 3M, yakni Memakai masker, Menjaga jarak, dan Mencuci tangan secara rutin dengan sabun di air mengalir.

Namun fakta di NTT, kata dr. Putu, masih terdapat masyarakat yang tidak disiplin menerapkan 3M. Tidak sedikit masyarakat yang tidak menggunakan masker, ketika bekerja di luar rumah. Bahkan ada juga masyarakat yang menggunakan masker, namum sering kali diturunkan sehingga tidak menutup mulut dan hidung. Masih juga dilakukan acara-acara yang mengumpulkan orang banyak, sehingga gagal mencegah kurumunan orang banyak. Akibatnya, perkembangan Covid-19 di NTT marak terjadi akibat transmisi lokal.

“Seharusnya pemerintah memberikan sanksi tegas kepada masyarakat yang tidak taat terhadap protokoler kesehatan pencegahan Covid-19,” pinta dr. Putu yang bertugas di RS Siloam itu.

Dokter David Santosa, SpPD yang juga hadir dalam sesi jumpa pers yang diadakan Humas dan Protokol Setda NTT itu mengatakan, dalam penanganan pasien Covid-19 hingga saat ini, pihaknya memperoleh beberapa kesimpulan baik diperoleh dari masyarakat maupun mantan pasien penderita Covid-19.

Bahwa hingga saat ini, katanya, penderita Covid-19 di NTT terus saja ada bahkan jumlahnya terus bertambah, karena masyarakat NTT tidak efektif jika hanya melalui himbauan, melainkan harus diberikan testimoni secara nyata.

Maka dari itu, dr. David bersepakat untuk memberikan testimoni tentang bagaimana pencegahan, penyebaran, dan penanganan Covid-19 dengan memintai kesaksian dari mantan pasien Covid-19.

“Covid-19 itu ada dan nyata. Penyebarannya melalui manusia atau benda. Jadi masyarakat harus disiplin menerapkan protokoler kesehatan Covid-19,” saran dr. David yang bertugas di RS Kartini, RS Siloam, dan RS Carolus Borromeus itu.

Provinsi NTT, lanjut dr. David, pada masa lalu dikenal dengan daerah penderita demam berdarah. Kasus itu disebarkan oleh nyamuk, sehingga dapat dicegah dengan membasmi nyamuk. Sementara Covid-19 disebarkan oleh manusia, sehingga yang perlu dicegah adalah dengan cara disiplin menerapkan protokoler kesehatan pencegahan Covid-19.

Imo Ataupah, selaku salah penyintas Covid-19 pada kesempatan itu memberikan penyataan bahwa, ia adalah penderita Covid-19. Akibat terpapar Covid-19, ia harus menjalani perawatan medis di salah satu rumah sakit di Kota Kupang selama 17 hari.

Masa sulit itu diakui Imo ia dapat melaluinya akibat dukungan keluarga, masyarakat lingkungan sekitar tempat tinggalnya, sahabat, dan teman-temannya serta Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang.

Sebagai manusia, kata Imo, ketika ia divonis positif Covid-19, dirinya sempat stres dan putus asa. Namun akibat dukungan berbagai pihak itu, ia akhirnya mampu bangkit dan meyakini jika dirinya akan sembuh dan pada akhirnya ia dinyatakan sembuh oleh pihak medis setelah menjalani perawatan.

“Jadi saya sembuh karena mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pihak medis yang memberikan dukungan untuk saya,” beber Imo.

Atas pengalaman berharga itu, Imo mengimbau agar masyarakat tidak memberi stigma negatif terhadap masyarakat yang terpapar Covid-19. Jangan menjauhi pasien Covid-19, namun memberikan dukungan dengan tetap menerapkan protokoler kesehatan pencegahan Covid-19.

Hingga saat ini, ia meyakini bahwa sebagian masyarakat NTT masih beranggapan bahwa Covid-19 itu hanya tipu-tipu dan sesungguhnya tidak ada.

Namun ia selaku pasien yang pernah terpapar Covid-19 meyakini bahwa virus korona ada dan nyata. Ketika ia terpapar Covid-19, ia merasakan panas tinggi, sesak napas serta mengalami diare beberapa hari.

“Ada kelompok masyarakat di NTT yang belum percaya dengan adanya Covid-19. Saya mau bilang Covid-19 itu ada dan nyata. Jadi jangan anggap remeh Covid-19, tapi tetap disiplin terapkan protokoler kesehatan pencegahan Covid-19,” pesan Imo.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Jelamu Ardu Marius mengatakan, dengan adanya testimoni dan penjelasan dari para dokter ahli dan juga pasien penyintas Covid-19, diharapkan dapat meningkatkan disiplin diri masyarakat NTT untuk patuh menerapkan protokoler kesehatan pencegahan Covid-19.

Apa lagi di akhir tahun, pada umumnya masyarakat merayakan akhir tahun dan tahun baru. Fenomena itu, tentu melibatkan orang banyak sehingga pasti menimbulkan kerumuman.

Kondisi itu, tentu akan memperbanyak penyebaran Covid-19, sehingga diharapkan kepada masyarakat NTT untuk menahan diri dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang menyebabkan kerumunan banyak orang.

“Perayaan natal dan tahun baru, juga perlu diperhatikan agar tidak menyebabkan kerumunan orang banyak,” pinta Marius. (yop)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top