Peran Komunitas Umat Basis (KUB) dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Peran Komunitas Umat Basis (KUB) dalam Menghadapi Pandemi Covid-19


Wilhelmus Petrus Gua. (FOTO: DOK. PRIBADI)

OPINI

Peran Komunitas Umat Basis (KUB) dalam Menghadapi Pandemi Covid-19


(Membaca Kembali Teori Health Care System Betty Neuman)

Sekilas Pintas tentang Betty Neuman

Betty Neuman merupakan seorang tokoh keperawatan yang lahir di Ohio (Salah satu Negara bagian Amerika Serikat) pada tahun 1924. Pujian dari ayahnya terhadap perawat  yang merawatnya ketika mengalami penyakit gagal ginjal membuat Neuman bercita-cita untuk menjadi seorang perawat yang baik dan selalu dekat dengan pasien. Tahun 1947 Neuman  menerima gelar diploma. Tahun 1956, Neuman memasuki program Sarjana Muda di Sekolah Keperawatan Universitas California-Los Angeles.

Dari waktu ke waktu, ketertarikan dari Neuman dalam dunia kesehatan, makinlah meruncing. Sehingga, setelah melewati perjuangan yang begiru hebat, tahun 1985, Neuman memperoleh gelar Phd dalam Psikologi Klinis dari Western University, LA (Alligood, 2007). Neuman mngemukakan model Health Care System yaitu sebuah konsep yang dapat membantu tenaga kesehatan memberikan tindakan keperawatan yang berkualitas kepada individu dan keluarga dengan berbasis praktik masyarakat pada kelompok dengan prinsip holistik (Alligood, 2017).

Covid-19 dan Tawaran dari Neuman

Berdasarkan teorinya, Neuman berpendapat bahwa kesehatan seseorang dapat dipengaruhi oleh keluarga, kelompok, komunitas bahkan oleh lingkungan sosialnya dan salah satu cara untuk mencegahnya terjadinya penyakit adalah dengan melakukan pencegahan primer. Dalam pencegahan primer terdapat kegiatan berupa promosi kesehatan, pendidikan kesehatan dan praktik-praktik perilaku sehat. Sasaran dari kegiatan pencegahan primer ini dapat diilakukan di komunitas (Mubarak & Chayatin, 2009 dalam Sari Yulida Kencana, 2019).

Hemat penulis, teori yang disampaikan oleh Neuman dapat menjadi salah satu acuan yang dapat digunakan pada zaman modern ini. Saat ini dunia tengah berjuang dalam menghadapi pandemi Covid-19. Hingga sampai saat ini, para ahli kesehatan dari berbagai negara sedang berusaha untuk mencari obat serta vaksin untuk mengobati dan mencegah penyebaran virus ini. Tetapi selain itu, di tengah badai corona ini, pemerintah Indonesia telah tanpa kenal lelah, mengimbau kepada masyarakat untuk membiasakan diri menerapkan protokol kesehatan dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru.

Dalam menjalankan kebiasaan baru ini, terdapat kegiatan 3M yang selalu ditekankan, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Tentu saja dibutuhkan peran serta dari semua masyarakat, karena bila masih ada orang yang melawan terhadpat protokol kesehatan, maka dapat dipastikan bahwa penyebaran Covid-19 akan terus meningkat. Penyesuaian diri dengan kebiasaan baru ini tentu membutuhkan waktu agar dapat diterapkan di masyarakat secara konsisten.Untuk itu diperlukan kegiatan sosialisasi yang terus menerus tentang kebiasaan 3M ini.

Ya, sosialisasi dan praktik terhadap penerapan kegiatan 3M perlu terus dilakukan secara terus-menerus agar masyarakat menjadi terbiasa. Dan kegiatan ini, selain disampaikan melalui media massa perlu juga dilakukan di komunitas-komunitas yang lebih kecil. Tujuannya tentulah sangat mulia, yakni agar penyebaran virus yang ganas ini, bisa dihentikan.

Gereja Katolik, misalnya. Ia tentu saja harus berpartisipasi dalam melakukan sosialisai Adaptasi Kebiasaan Baru ini. Gereja Katolik memiliki perkumpulan yang paling kecil yang disebut dengan Komunitas Umat Basis (KUB). Sosialisasi pendidikan kesehatan dan praktik perilaku sehat selain dapat disampaiakan melalui mimbar di setiap gereja juga dapat dilakukan pada tingkat KUB.

Komunitas Umat Basis (KUB) dapat menjadi sasaran yang tepat untuk  menerapkan pencegahan primer pada situasi pandemi Covid-19. Para tenaga kesehatan khususnya perawat yang berada di Puskesmas dapat bekerja sama dengan para pengurus KUB untuk bersama-sama melakukan kegiatan sosialisasi dan praktik adaptasi kebiassaan baru pada umat di KUB.

Dengan demikian, semakin sering dan gencarnya sosialisasi pendidikan kesehatan dan praktek kegiatan 3M ini (terutama dalam jumlah masyarakat yang kecil), maka pemahaman masyarakat terhadap penyesuain diri terhadap kebiasaan baru pun semakin baik. Bersamaan dengan itu, kepatuhan mereka dalam melaksanakan protokol kesehatan semakin meningkat. (*)

*) Penulis adalah seorang Mahasiswa Alih Jenis pada Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top