Dinas LH Matim Belum Beri Rekomendasi, PT Menara dan Wae Kuli Ditutup | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Dinas LH Matim Belum Beri Rekomendasi, PT Menara dan Wae Kuli Ditutup


Kadis Lingkungan Hidup Kabupaten Matim, Donatus Datur. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

BISNIS

Dinas LH Matim Belum Beri Rekomendasi, PT Menara dan Wae Kuli Ditutup


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Aktivitas usaha pertambangan batuan, pengoperasian AMP, dan stone crusher milik PT Menara Armada Pratama dan PT Wae Kuli di Desa Watu Mori, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), masih ditutup.

Pasalnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Matim belum mengeluarkan rekomendasi kelayakan lingkungan untuk keberlangsungan usaha tersebut. Pihak perusahan membutuhkan rekomendasi Dinas LH untuk selanjutnya menjadi bahan permohonan izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi di Kantor perizinan Provinsi NTT. Padahal semua syarat telah dipenuhi oleh dua perusahan tersebut.

“Kegiatan rapat pembahasan dokumen pengelolaan lingkungan hidup (DPLH) sudah dilaksanakan oleh dua perusahan. Masih ada sedikit bahan yang kurang lengkap. Kalau itu sudah lengkap, kita keluarkan rekomendasi,” ungkap Kepala Dinas (Kadis) LH Matim, Donatus Datur, kepada TIMEXKUPANG.com di Borong, Senin (7/12) siang.

Menurut Donatus, dalam kegiatan DPLH itu hadir sejumlah pihak sebagai peserta. Termasuk pemerintah desa, kecamatan, dan masyarakat. Soal lokasi usaha dari dua perusahan tersebut, kata Donatus jauh dengan permukiman warga. Sehingga tidak ada dampaknya. Juga untuk tanaman sekitar, tidak ada pengaruhnya.

“Di sini tidak ada masalah atau penolakan dari warga masyarakat  sekitar. Adapun saran atau masukan dari peserta rapat DPLH, dan masukan itu diterima oleh perusahan. Sehingga semua hasilnya nanti demi kebaikan kita bersama,” ungkap Donatus.

Dikatakanya, saat ini untuk aktifitas masih boleh dilakukan oleh perusahaan. Namun belum bisa untuk produksi. Menurut Donatus, pada prinsipnya tugas DLH disini, untuk bagaimana lingkungan di sekitar lokasi pertambangan sehat. Artinya tidak membawa dampak yang buruk bagi masyarakat sekitar.

“Dua perusahan ini sangat serius untuk memperbaiki dan melengkapi dokumen yang diperlukan. Setelah dokumen tersebut semuanya sudah diperbaiki oleh pihak perusahan, sesuai ketentuan dalam berita acara yang disepakati, maka DLH akan mengeluarkan rekomendasi kelayakan lingkungan,” jelasnya.

Sebelumnya Inspektur Tambang, Direktorat Teknik dan Lingkungan Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM RI, Herman Kasidin, yang dihubungi melalui HP menjelaskan, di Kabupaten Matim hanya ada dua kelompak usaha yang telah mengantongi izin operasi produksi, yaitu Kelompok CEU dan Watu Tahang, di Desa Watu Mori.

Untuk IUP Eksplorasi ada 2, yakni PT Menara Armada Pratama dan PT Wae Kuli. Saat ini masih urus peningkatan IUP eksplorasi menjadi IUP operasi produksi. Dimana saat ini sedang melengkapi dokumen UKL/UPL, dan studi kelayakan lingkungan. Menurut Kasidin, setiap izin yang ada berlaku selama tiga tahun.

“Izin itu hanya berlaku 3 tahun dan kemudian diperpanjang. Untuk sementara, PT Wae Kuli dan Menara, kami tutup sementara aktifitas usahanya. Keduanya sudah kantongi IUP eksplorasi dan sedang mengurus IUP operasi produksi. Sementara untuk kegiatan tambang galian c lain di Matim, belum ada izin,” ungkap Kasidin. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top