Menyebarkan Cinta dan Kasih Selama Masa Pandemi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Menyebarkan Cinta dan Kasih Selama Masa Pandemi


Mathilda M. Siga. (FOTO: DOK. PRIBADI)

OPINI

Menyebarkan Cinta dan Kasih Selama Masa Pandemi


Oleh: Mathilda M. Siga *)

Setahun yang lalu tepat di bulan Desember 2019, kita mendengar di Kota Wuhan Tiongkok munculnya virus baru yang akhirnya meneror seluruh dunia. Virus itu  disebut dengan Korona.

Virus Korona merupakan salah satu bagian dari virus yang menyebabkan masalah pada saluran pernapasan sehingga menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan dari yang ringan, sedang bahkan berat.

Hingga saat ini ada 7 jenis corona virus yang diidentifikasi, dan yang kita pernah dengar kasus yang menggemparkan dari ke tujuh virus corona ini adalah SARS, MERS dan yang sekarang ini dikenal COVID-19.

COVID-19 ini menyebar melalui percikan air liur dari penderita seperti saat bersin atau batuk, dan menyentuh benda atau orang yang terinfeksi.

COVID-19 menyerang atau terjadi pada siapa saja tanpa pandang bulu dan yang paling rentan terkena COVID-19 adalah anak-anak, lansia dan orang memiliki riwayat penyakit komplikasi.

Hal ini disebabkan karena sistem imun yang rendah pada golongan yang rentan tersebut.

Masa inkubasi rata-rata 2-14 hari setelah terinfeksi dan reaksi yang timbul setelah terinfeksi COVID-19 berbeda pada setiap orang.

Ada yang tidak mengalami gejala apapun walaupun sudah terinfeksi, ada yang mengalami gajala ringan, sedang hingga berat yang dapat menyebabkan kematian.

Akibat dari COVID-19 berdampak pada semua sektor kehidupan, termasuk sosial, dan ekonomi. Pada sektor ekonomi terjadi kerugian besar bagi pedagang maupun pengusaha, bahkan sampai ada yang gulung tikar.

Namun dampak yang paling besar adalah pada bagian sosial dimana munculnya stigma negatif tentang penderita COVID-19.

Sebagai contoh dalam penanggulangan COVID-19, yang positif terinfeksi , memiliki kontak erat dengan yang terinfeksi, para pelaku perjalanan lintas daerah diharapkan untuk mengisolasi diri selama 14 hari atau 2 minggu.

Namun persepsi yang timbul di masyarakat dari mengisolasi adalah mendiskriminasi atau mengucilkan.

Seperti kejadian yang pernah terjadi yaitu penolakan jasad yang akan dikuburkan, pengusiran tenaga kesehatan dari kontrakan mereka, penolakan orang tanpa gejala yang akan mengisolasikan diri di rumah akibat rumah sakit penuh dan lain sebagainya.

Stigma negatif yang diterima ini tentu saja berdampak pada psikologi seseorang yang terinfeksi maupun tidak terinfeksi.

Pada orang yang terinfeksi memiliki tekanan psikis tersendiri ditambah lagi dengan tekanan sosial menyebabkan sistem imun dari penderita bisa menurun dan memperparah kondisi penyakitnya.

Begitu juga dengan orang yang belum tentu terinfeksi yang diakibtkan karena telah kontak langsung ataupun sebagai pelaku perjalanan yang memiliki stigma bahwa mereka yang menyebar COVID -19 sehingga mereka tidak mengisolasi diri karena takut dikucilkan di masyarakat.

Padahal tujuan utama dari isolasi atau karantina untuk membatasi pergerakan orang yang berpotensi menyebarkan penyakit menular agar tidak menyebarkan ke orang lain dan tentunya dapat diawasi perkembangan inkubasi apabila terinfeksi.

Dalam ilmu Keperawatan ada konsep eksitensialisme yang dikembangkan oleh seorang wanita Katolik bernama Josephine Paterson dan temannya Loretta Zderad pada tahun 1976.

Konsep ini didasari dari ilmu jiwa dimana seseorang membantu orang lain lewat pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing individu dan bersama-sama mencari solusi dan membuat pilihan yang bertanggung jawab pada setiap individu dan sebagai umat Katolik yang setia pada ajaran Tuhan Yesus Kristus, kita sepatutnya menyebarkan Cinta dan Kasih kepada sesama kita karena kita adalah makhluk sosial yang memiliki akal dan budi.

Bagaimana cara menyebarkan Cinta dan Kasih di masa pandemi ini? Yaitu dengan bersama-sama menyingkirkan stigma negatif yang ada dengan tidak menyebarkan berita palsu atau hoax.

Memberikan informasi dari sumber yang benar, memberi dukungan pada sesama kita yang terinfeksi COVID-19 maupun yang menjalani karantina lewat media elektronik seperti pesan dan doa.

Membantu atau mengirimkan bantuan seperti sumbangan kepada sesama kita yang terinfeksi maupun yang sedang bekerja dalam Tim Satgas COVID-19.

Dan yang terpenting adalah mengikuti protokol kesehatan yang telah disampaikan oleh pemerintah yaitu program 3 M. Yakni menggunakan masker yang baik dan benar yaitu menutupi hidung hingga dagu saat keluar rumah, mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan setelah menyentuh barang atau seseorang dan setelah sampai di rumah, dan menjaga jarak dengan orang lain setidaknya satu meter serta menghindari kerumunan.

Dengan melakukan hal tersebut kita bukan saja menyelamatkan diri kita tetapi secara tidak langsung kita menyelamatkan orang lain di sekitar kita. (*)

*) Mahasiswi Fakultas Keperawatan UNAIR

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top