Sahabat Tolak Teken Berita Acara Pleno, Pertimbangkan Gugatan ke MK | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Sahabat Tolak Teken Berita Acara Pleno, Pertimbangkan Gugatan ke MK


Pendukung paslon Sahabat saat mengikuti proses tabulasi data hasil pemilihan di posko pemenangan paslon petahana itu, Rabu (9/12) malam lalu. (FOTO: JOHNI SIKI/TIMEX)

POLITIK

Sahabat Tolak Teken Berita Acara Pleno, Pertimbangkan Gugatan ke MK


ATAMBUA, TIMEXKUPANG.com-Pleno rekapitulasi perolehan suara hasil pencoblosan Pilkada Belu pada Rabu (9/12) lalu ditingkat panitia pemilihan kecamatan (PPK) berakhir hari ini (14/12).

Berdasarkan data hasil pleno dari total 426 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di 12 kecamatan, pasangan calon (paslon) Bupati-Wakil Bupati Belu nomor urut 2, Agustinus Taolin-Aloysius Hale Serens (Paket Sehati) berhasil mengungguli paslon nomor urut 1 yang adalah petahana, Wilybrodus Lay-J. T. Ose Luan (Paket Sahabat).

Sesuai data yang dihimpun Timor Express, dari total 100.999 suara sah hasil pleno 12 PPK, paslon Sahabat mengantongi dukungan 50.376 suara, sedangkan paket Sehati meraup dukungan tertinggi dengan 50.623 suara. Raihan suara paslon Sehati terpaut sangat tipis, yakni hanya unggul 247 suara atas paslon Sahabat.

Sayangnya, hasil pleno ini tak direspon dengan baik oleh kubu paslon Sahabat. Di sebagian besar kecamatan, saksi paslon petahana ini menolak menandatangi berita acara hasil pleno.

Hal ini dibenarkan Juru Bicara (Jubir) paket Sahabat, Helio Caetano Monis. Ia mengaku telah mengantongi seluruh hasil pleno rekapitulasi tingkat kecamatan, hanya mereka menolak menandatangani hasil pleno itu di sebagian besar kecamatan. Alasan penolakan, kata Helio, karena ada sejumlah permintaan tim paslon Sahabat yang tak dipenuhi PPK.

Helio menyebutkan, dari 12 kecamatan, hasil pleno saksi paket Sahabat menyampaikan keberatan dan tidak melakukan paraf. Misalnya ketika pihak paket Sahabat meminta menunjukkan daftar hadir tambahan, PPK dan Panwas menolak. Sehingga setelah selesai pleno di kabupaten tentunya akan ada sikap tegas yang diambil paket Sahabat.

Paket Sahabat, kata Helio, punya tiga pertimbangan untuk menyikapi proses dan hasil Pilkada Belu 2020 ini.

Helio mengatakan, terdapat tiga pilihan yang nanti diputuskan dalam tim pemenangan paket Sahabat. Sahabat menilai telah terjadi pelanggaran yang terstruktur, sistematis, dan masif dalam penyelenggaraan Pilkada kali ini.

Paket Sahabat, demikian Helio menemukan adanya indikasi money politik, pembagian sembako, dan pengerahan massa saat pencoblosan. “Ada beberapa TPS yang bermasalah sehingga harus dilakukan pemungutan suara ulang,” tegasnya.

BACA JUGA: Pleno PPK di Belu Tuntas, Paket Sehati Menang Tipis Atas Petahana

“Pleno di kabupaten nanti kita tidak membicarakan hasil. Tetapi kita lihat itu masalah administrasi dan dugaan pelanggaran lain di sejumlah TPS,” sambungnya.

Helio menambahkan, menyikapi sejumlah persoalan di atas, pihaknya mempertimbangkan untuk membentuk tim guna melayangkan gugatan ke Mahkamah konstitusi (MK). “Tapi bisa juga tidak (Gugat ke MK, Red). Intinya sangat tergantung dari keputusan tim dalam beberapa hari ke depan,” kata Helio.

Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan paslon nomor urut 2, Paket Sehati, Cypryanus Temu saat konfirmasi sebelumnya menegaskan pihaknya siap menghadapi langkah hukum bila ada upaya untuk menggugat hasil perolehan suara yang ada.

“Kami memang belum berpikir ke sana, tetapi kalau ada pikiran terkait sengketa hasil tentunya kita sangat siap untuk menghadapi setiap gugatan,” tegasnya.

Menurut Cyrianus, pihaknya saat ini lebih fokus mengawal hasil, mengikuti pleno rekapitulasi di tingkat kecamatan hingga pleno penetapan di kabupaten untuk bisa melihat bersama hasil perolehan suara. Tetapi jika ada indikasi kecurangan silakan menempuh jalur hukum, dan paket Sehati siap menghadapi setiap persoalan.

“Sehati siap menghadapi sepanjang sesuai ketentuan aturan. Kami mengkalim menang karena dasarnya C1 KWK asli itu rekapan seluruh TPS,” tegasnya.

Sebelumnya, Jubir KPU Belu, Herlince E. Asa saat dikonfirmasi Senin (14/12) mengatakan, saat pleno berjalan, saksi paslon nomor urut 1, Sahabat meminta untuk membuka kotak suara dengan alasan untuk mendokumentasi salinan daftar pemilih. Tetapi untuk administrasi tidak bisa diberikan ke saksi apalagi membuka kotak suara. Kecuali ada alasan mendasar. Dan ini terjadi hampir disemua kecamatan.

“Untuk saksi dan Bawaslu kita serahkan berita acara dan salinan C1 hasil. Itu kita serahkan di TPS begitu juga hasil pleno di kecamatan,” jelasnya.

Herlince menyebutkan, saksi dari paket Sahabat dihampir semua kecamatan menolak untuk menandatangani berita acara dan mencatat form kejadian khusus yakni keberatan. “Nantinya catatan saksi akan dibacakan saat pleno tingkat kabupaten,” ungkap Herlince. (mg33)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya POLITIK

To Top