Disbudpar Ronda Gelar Festival Budaya, Wabup: Perkuat Branding | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Disbudpar Ronda Gelar Festival Budaya, Wabup: Perkuat Branding


PAMER SASANDO. Beberapa produk kerajinan alat musik Sasando dipamerkan dalam festival budaya Disbudpar Rote Ndao, di Auditorium Ti’i Langga, Senin (14/12). (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Disbudpar Ronda Gelar Festival Budaya, Wabup: Perkuat Branding


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Rote Ndao (Ronda), menggelar festival budaya, Senin (14/12). Kegiatan yang dihelat di Auditorium Ti’i Langga ini, menampilkan sejumlah kerajinan, kuliner, dan kesenian daerah setempat.

Untuk kerajinan tangan, terdapat lima stand yang diikutkan dalam pameran tersebut. Stand-stand itu menampilkan sejumlah hasil karya tenunan, ayaman, dan pandai perak.

Tenunan dengan motif khas Rote Ndao, menghiasi pameran tersebut, dengan ukuran yang variatif. Ada sudah dalam bentuk siap pakai maupun yang masih setengah jadi. Diantaranya, benang yang sementara dibentuk, kain selimut, dan selendang serta pakaian pria dan wanita.

Begitu juga terhadap kerajian pandai perak, yang memamerkan pernak-perniknya dengan warna kuning keemasan. Semuanya dihasilkan melalui tangan-tangan terampil yang hanya berasal dari Pulau Ndao.

Sedangkan untuk kuliner, disajikan beragam produk dari empat stand. Misalnya produk kuliner Susu Goreng (Sapi), Kue/lie, ‘Tanggo Rote’ (Teng-teng), serta daging se’i (Sapi dan Ayam).

Stand yang menampilkan kuliner ini memamerkan produk olahan kue yang termodifikasi dengan bahan-bahan lokal, seperti kue moringga, kue labu, kue botok, dan juga nastar yang dibuat dari bahan daun kelor.

“Ini untuk terus meperkenalkan kekayaan Rote Ndao, lebih khusus terhadap budaya,” kata Plt. Kepala Dinas Budpar Rote Ndao, Jermi Haning, PhD, melalui Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran, Bambang Haryo Basuseno, kepada Timor Express, Senin (14/12).

Sementara itu, Wakil Bupati Rote Ndao, Stefanus M. Saek, SE, M.Si, yang mengunjungi masing-masing stand, memberi dukungan kepada peserta pameran. Dengan begitu saksama, Wabup Stefanus mengamati setiap karya yang ditampilkan.

Saat tiba di stand yang menampilkan alat musik Sasando, Wabub Stefanus tampak berhenti. Betapa tidak, alat musik tradisional yang khas pentatonik tersebut, dipamerkan dengan beberapa ukuran sekaligus.

Mulai dari Sasando model asli berdawai 9, berdawai 46 hingga dawai 62. Jumlah dawai dari Sasando mempengaruhi nada. Semakin banyak, semakin menghasilkan nada yang begitu kompleks.

Sasando-sasando tersebut, dihasilkan melalui tangan terampilnya Herman Adolf Ledoh. Dia (Herman) bahkan membuat gong dengan ukuran besar, yang berdiameter kurang lebih 60 cm.

“Semua ini bapak yang buat?” tanya Wabup Stefanus Saek kepada pengrajin Sasando.

Sambil berdialog dengan pengrajin, Wabup Stefanus kemudian memberi masukan kepada instasi terkait. Yang bertujuan untuk mendukung promosi budaya Rote Ndao.

Dimulai dengan pemilihan branding, yang menurut Wabup Stefanus, harus diperkuat dengan membuat menarik dan punya nilai estetika. Hal tersebut dirasa penting dilakukan untuk menarik perhatian melalui promosi secara digital.

Selain itu, produk yang dipromosikan, kata Wabup Stefanus, benar-benar menjaminkan kepuasan konsumen dengan menjaga ketersediaan bahan baku. Sehingga produk yang dihasilkan tetap berkelanjutan.

“Branding harus dibuat menarik. Dan yang paling penting, menjamin ketersediaan bahan baku sehingga produksi berkelanjutan,” kata Stefanus. (mg32)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top