RSUD Bajawa Tangani 151 Kasus DBD Selama 2020, Ini Jumlah Pasien Meninggal | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

RSUD Bajawa Tangani 151 Kasus DBD Selama 2020, Ini Jumlah Pasien Meninggal


Direktur RSUD Bajawa, drg. Maria Wea Betu saat diwawancarai Senin (14/12). (FOTO: ISTIMEWA)

KABAR FLOBAMORATA

RSUD Bajawa Tangani 151 Kasus DBD Selama 2020, Ini Jumlah Pasien Meninggal


BAJAWA, TIMEXKUPANG.com-Di tengah terpaan pandemi Covid-19 yang melanda dunia, khususnya di Kabupaten Ngada, ancaman penyakit musiman seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) juga menyerang warga di kabupaten ini.

Data Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bajawa sejak Januari hingga pertengah Desember 2020 ini, terdapat 151 kasus DBD yang ditangani rumah sakit itu.

Penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk betina yang sudah terinfeksi virus dengue ini juga merupakan salah satu jenis penyakit yang mengancam nyawa manusia jika terkena.

Direktur RSUD Bajawa, drg. Maria Wea Betu saat dihubungi TIMEX, Senin (14/12) mengatakan, selama tahun 2020 pihaknya menangani sebanyak 151 kasus BDB. Dari jumlah itu, ada pasien yang kritis hingga meninggal di rumah sakit tersebut.

“Meski demikian, dari 151 orang pasien DBD yang ditangani di RSUD Bajawa, sebanyak 149 orang pasien sembuh. Dua orang pasien lainnya meninggal dunia saat di rumah sakit,” ungkap drg. Maria Wea Betu.

Menurut drg. Maria, selama pihaknya menangani pasien DBD, tidak pernah ada kendala dalam pelayanan. Khusus untuk kasus pasien meninggal, kata drg. Maria, lebih disebabkan pasien tersebut dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis sudah dalam keadaan kritis. Akibatnya tidak bisa tertolong. “Untuk saat ini, di RSUD Bajawa tidak ada pasien yang terpapar DBD,” katanya.

Dokter Maria berharap seluruh masyarakat Ngada selalu menjaga kesehatan secara holistik, baik kesehatan fisik, psikologi maupun spiritual serta perlu juga menjaga kesehatan lingkungan sekitar.

“Apalagi dalam masa pandemi Covid-19 sekarang ini, harus selalu bersih, cuci tangan sebelum dan sesudah beraktifitas, makan dan minum teratur, istirahat yang cukup, dan patuhi protokol kesehatan,” pesannya.

Dokter Maria juga mengimbau masyarakat Ngada, jika menderita sakit, agar segera ke Puskesmas terdekat sehingga bisa cepat ditangani pasiennya. Jangan menunggu sampai keadaan kritis baru mendatangi fasilitas kesehatan yang ada. “Kami sampaikan hal ini karena melihat pengalaman yang sudah ada, dimana pasiennya tidak bisa tertolong pihak medis karena sudah kritis,” kata drg. Maria.

Sementara itu, Camat Golewa, Kanisius Logo kepada TIMEX mengatakan, pihaknya pernah mendapat laporan sebelumnya, dimana ada 20 pasien DBD di wilayah kecamatan Golewa. “Yang kita dapat dari dua puskesmas, yakni Puskesmas Koeloda sebanyak 10 orang pasien dan Puskesmas Radabata sebanyak 10 orang pasien. Kini semua pasien sudah dinyatakan sembuh,” kata Kanisius.

Pemerintah Kecamatan Golewa, lanjut Kanisius, terus berupaya untuk mencegah penyakit DBD ini melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melibatkan semua lapisan masyarakat dan lintas sektor di wilayah Golewa. Selain melaksanakan PSN mereka juga mengadakan pembersihan lingkungan.

Kanisius Logo juga mengimbau agar masyarakat Golewa harus waspada terhadap DBD dan menjaga kebersihan lingkungan di sekitar rumah warga.

“Masyarakat harus melakukan pencegahan agar tidak terjangkit DBD dengan cara menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk. Menggunakan kelambu saat tidur. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk serta menanam tanaman pengusir nyamuk,” saran Kanisius Logo. (*)

Penulis: Saver Bhula

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top