Araksi dan Pospera Dukung Fortuna Usut Tuntas Kasus Dugaan Pemerasan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Araksi dan Pospera Dukung Fortuna Usut Tuntas Kasus Dugaan Pemerasan


Ketua Fortuna NTT, Stanislaus Wasonono (kiri) didampinggi Ketua Biro Hukum Fortuna NTT, Kosmas D. Boymau, (tengah) dan Sekretaris Fortuna NTT, Antonius Mau usai melakukan pertemuan di Kupang untuk melaporkan dugaan pemerasan oleh oknum penyidik Polres TTS, Rabu (23/12). (FOTO: KOSMAS BOYMAU FOR TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Araksi dan Pospera Dukung Fortuna Usut Tuntas Kasus Dugaan Pemerasan


Pospera TTS: Harus Menjadi Atensi Polda NTT

SOE, TIMEXKUPANG.com-Dua organisasi masyarakat, yakni Aliansi Rakyat Anti Korupsi Indonesia (Araksi) NTT dan Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) TTS menyatakan sikap mendukung upaya Forum Pengusaha Batu Warna (Fortuna) NTT untuk melaporkan oknum penyidik berinisial MK di Polres TTS ke Propam Polda NTT.

Selain mendukung, kedua organisasi yang genjot memerangi perilaku korupsi dan persoalan masyarakat itu akan melakukan koordinasi dan penelusuran atas dugaan pemerasan yang diduga dilakukan penyidik MK terhadap sejumlah pengusaha pemilik truk pengangkut batu warna Kolbano.

Ketua Araksi NTT, Alfret Baun kepada TIMEXKUPANG.com, di SoE, Rabu (23/12) mengatakan, pihaknya secara kelembagaan telah menyatakan sikap memberi dukungan kepada Fortuna tetapi pihaknya perlu melakukan investigasi.

Dijelaskan, sikap dan dukungan tersebut tidak serta merta diwujudkan, namun akan diikuti dengan melakukan ivestigasi untuk mengetahui letak persoalan dan mengumpulkan bukti-bukti yang berkaitan dengan kasus dugaan pemerasan tersebut.

“Investigasi di lapangan ini akan dilakukan bersama-sama dengan Pospera. Upaya penelusuran ini sudah dilakukan dan hasil sementara telah mengantonggi signal bahwa ada pengusaha dan pemilik mobil maupun partisipasi dari pihak lain yang juga merupakan pengusaha mengumpulkan uang yang angkanya mencapai Rp 100 juta lalu diberikan kepada oknum penyidik Polres TTS,” jelasnya.

Meski sudah mendapatkan data tersebut, namun kata mantan anggota DPRD NTT ini, pihaknya belum mengambil kesimpulan karena masih mendatanggi sejumlah narasumber lagi guna mendapatkan keterangan tambahan.

“Nanti kita akan buat kesimpulan, apakah masalah ini dibawa ke ranah hukum atau tidak. Tetapi pada dasarnya kami mendukung Pak Kosmas Boymau untuk mengadukan masalah itu ke Propam Polda NTT,” kata Alfred.

Alfred menambahkan, persoalan ini diduga bukan merupakan yang pertama kalinya, namun sudah banyak korban yang mengeluh terhadap perilaku para oknum polisi. Hanya saja ini semua tanpa dasar atau bukti yang kuat.

“Banyak masyarakat yang mengeluh tapi kita tidak kantongi bukti jadi belum bisa usut,” tandasnya.

Sekertaris DPP Pospera TTS, Fredik Kase melalui sambungan telpon membenarkan sikap dan dukungan kepada Fortuna yang siap melaporkan oknum penyidik berinisial MK di Polda NTT.

Menurutnya, secara kelembagaan, Pospera merasa penting untuk melaporkan masalah ini dan harus menjadi atensi Polda NTT karena dugaan pemerasan ini bisa berdampak kepada penambang atau masyarakat di TTS.

“Secara hukum ekonomi, pengusaha pasti tidak ingin merugi, maka bisa saja harga batu warna bisa turun. Pengusaha bisa berdalih untuk membeli batu dengan harga yang lebih murah,” ungkap Fredik.

Fredik membeberkan, dari hasil investigasi telah mengetahui jumlah penambang di Kecamatan Kolbano itu mencapai 900 Orang. Apabila transaksional seperti ini bisa memiskinkan para penambang.

BACA JUGA: Oknum Polisi Diduga Peras Pengusaha, Begini Respon Kapolres

“Kami telah melakukan koordinasi dengan semua Pospera se Indonesia untuk mengambil sikap yang sama dalam memberantaskan persoalan dan penindasan seperti ini,” tegasnya.

Menurt Fredik, ini merupakan salah satu persoalan serius karena berhubungan langsung dengan hajat hidup 900 kepala keluarga di TTS. Lanjut Fredik, jika gerakan ini membutukan satu wadah atau aliansi perjuangan, maka Pospera, Araksi, dan Fortuna siap membentuk dan memeranggi para pelaku-pelaku tindak pidana serupa.

“Kalau ada upaya pemerasan dari aparat seperti ini lalu pengusaha merugi kemudian berhenti membeli batu warna, apakah tidak berdampak kepada ekonomi masyarakat? Maka kita dukung dan siap mengawal laporan tersebut ke Polda NTT,” tambahnya.

Ketua Fortuna Tak Mendukung

Upaya Kosmas Boymau yang siap mengadukan persoalan ini ke Propam Polda NTT, ternyata tak mendapat dukungan Ketua Fortuna NTT, Stanislaus Wasono.

Menurut Stanislaus, apa yang akan dilakukan Kosmas itu belum melalui kesepakatan bersama pengurus Fortuna. “Tindakan yang diambil Kosmas bukan merupakan tindakan lembaga karena tindakan yang diambil Kosmas tanpa melakukan koordinasi dengan dirinya sebagai Ketua Fortuna NTT,” ungkap Stanislaus.

Stanisius mengaku menyesalkan langkah yang diambil anak buahnya yang membawa-bawa nama lembaga Fortuna NTT. “Pak Kosmas melakukan upaya tersebut atas nama pribadi, sehingga kami secara kelembagaan tidak mendukung upaya yang ditempuhnya,” katanya saat menghubungi TIMEXKUPANG.com melalui sambungan telepon, Selasa (22/12).

Terhadap dugaan pemerasan dengan nilai uang sebesar Rp 100 juta untuk mengeluarkan izin pakai 7 mobil milik pengusaha batu warna, menurut Stanislaus, masalah tersebut sudah selesai dan saat ini para pengusaha sudah beraktivitas kembali secara normal.

“Ini masalah sudah selesai. Teman-teman sudah beraktivitas kembali secara normal. Saya kira tidak ada masalah dan tidak ada yang dirugikan dalam hal ini,” ujarnya.

Ditanya terkait pemberian uang oleh pengusaha yang masuk sebagai anggota Fortuna, ia mengaku awalnya sudah diatur secara baik namun karena kekurangan SDM, oleh para pemilik mobil lalu memberikan uang itu. “Kita sudah urus baik-baik awalnya, tapi tiba-tiba mereka berikan uang,” imbuhnya.

Menanggapi hal ini, Kosmas D. Boymau mengatakan, semua upaya yang dilakukannya itu sudah sesuai kesepakatan lembaga. Pasalnya pada 25 November 2020 lalu, sudah ada konferensi pers, dimana salah satu poin yang disepakati adalah mengadukan hal ini ke Propam Polda NTT.

“Kami sudah adakan jumpa pers dengan 7 orang wartawan serta semua pengusaha yang batunya itu ditahan dalam rangka melaporkan masalah ini. Trus dari mana yang bilang tidak atas nama lembaga?” tanya Kosmas.

Kosmas menegaskan bahwa pihaknya tetap akan melaporkan dugaan suap yang melibatkan aparat penegak hukum agar ditindak sesuai ketentuan. “Nanti pemberi maupun penerima kita laporkan semua. Dengan bukti rekaman percakapan ini, sebagai masyarakat saya laporkan apa lagi saya sesepuh juga. Termasuk Ketua Fortuna kita laporkan karena dalam pembicaraannya dia menanyakan uang itu sudah diserahkan atau belum ketika dijawab sudah dia membalas bahwa ow baik aman sudah. Ini tindak pidana dan tidak bisa ditolelir,” tuturnya. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top