Mengais Rezeki di Pinggir Jalan untuk Beli Kado Natal | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Mengais Rezeki di Pinggir Jalan untuk Beli Kado Natal


KAIS REZEKI. Thobias Dunggun (kanan, duduk) berjuang mengais rejeki di momentum Natal dengan berjualan bunga rampai, Kamis (24/12). Hasil jualannya dipakai membeli kado Natal untuk dua buah hatinya. (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Mengais Rezeki di Pinggir Jalan untuk Beli Kado Natal


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Barang yang dijajakanya hanya berupa daun pandan dan bunga warna-warni. Yang dijual serba lima ribu, persis di tepi jalan, seputaran Lelain, Desa Holoama, Kecamatan Lobalain, jelang hari Natal, Kamis (24/12).

Untuk bunga, sudah diiris-iris dan dicampur, dalam wadah tas kresek berukuran kecil. Sedangkan daun pandan, diikat sebanyak belasan lembar dalam satu ikatan.

Dengan begitu sabar, Thobias Dunggun, 35, menanti jika ada pengendara yang mau menepi, membeli jualannya yang hanya dilakukan setahun sekali. Yang paling banyak membeli secara paketan, bunga dan daun pandan, ada pula yang beli terpisah.

“Bukan baru kali ini. Setiap mau Natal, saya jualan begini,” kata Thobias Dunggun, kepada Timor Express, Kamis (24/12).

Thobias mengaku, sudah beberapa tahun berjualan irisan bunga dan daun pandan. Menurutnya jualan ini laris manis sebelum hari Natal. Ia memanfaatkan momen peziarah yang mau nyekar ke makam jelang perayaan Natal bagi umat Kristiani.

Irisan bunga yang dijajajakanya dibutuhkan banyak orang pada momen tersebut (Natal). Betapa tidak, daun pandan dengan wangi khas akan diiris kecil kemudian dicampur dengan bunga-bunga tadi. Lalu ditabur pada makam bagi keluarga yang mau nyekar ketika tiba hari raya Natal.

Hingga saat ini, pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru), tak sedikit orang yang masih melakukanya. Tujuanya sebagai bentuk penghormatan di hari raya, sekaligus mewakili ungkapan selamat merayakan di dunia yang berbeda.

“Paling banyak saat-saat begini. Ada yang beli 3 sampai 5 paket,” kata Thobias.

Saat ditemui Timor Express, Kamis (24/12) sekira pukul 09.30 wita, Thobias sudah memperoleh Rp. 355.000, dari hasil jualannya. Lembaran uang yang terdiri dari pecahan seratus ribu, lima puluh ribu, dan dua puluh ribu, menghiasi tangannya.

Begitu juga pecahan sepuluh ribu dan lima ribu masing-masing satu lembar, digenggamnya dengan penuh syukur. Thobias kemudian menundukan kepala dan mencoba untuk menutup lembaran uang kertas dengan tangan kananya.

Walau demikian, Thobias tak bisa menepis kebahagiaanya untuk bisa membeli kado Natal untuk kedua anaknya. Karena dia berjualan bungai rampai hanya untuk membeli kado Natal. “Sudah bisa beli kado. Biasanya anak-anak minta beli baju baru, untuk Natal,” katanya.

Thobias kemudian mengisahkan proses pembuatan jualannya itu. Daun pandan diperoleh dari tetangga, sedangkan bunga dicari sendiri, yang menurutnya tumbuh liar di hutan.

Bunga-bunga yang dikumpulkan, kemudian diiris kecil. Dan untuk proses tersebut, Thobias dibantu istrinya, yang sehari bisa menghasilkan 50-60 tas kresek kecil.

Biasanya, tanggal 20 Desember, mereka sudah mulai menyiapkan. Sehingga dalam sehari, sekitar 100-an paket dibawa untuk dijual.

“Hari ini saya bawa dua karung. Satu karung bisa muat sampai 60 tas plastik,” beber Thobias.

Ternyata, selain di tempatnya berjualan, paket-paket tersebut juga dijajakan di tempat berbeda, yang hanya berjarak beberapa meter. Ada seorang anak kecil yang menjaga jualan itu.

Banyak pula yang dijual. Tujuannya untuk menjaring lebih banyak pembeli. Anak kecil yang membantunya, diakui sebagai keponakan dari istri.

Sehingga, rata-rata dari jualan tersebut, kata Thobias, menghasilkan Rp 1 juta dalam sehari. Uang tersebut selain membeli kado, juga dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Setelah hari raya Natal, Thobias yang merupakan warga RT 2, RW 1, Dusun Holoama, Desa Holoama, Kecamatan Lobalain ini, akan kembali melakoni aktifitasnya sebagai petani. Tetapi baginya, selain diberkati melalui lahan yang diolah, berkat lain juga tersedia baginya.

Bahkan, Thobias mengatakan, selalu ada berkat untuk semua orang. Yang untuk memperolehnya, tak selamanya melalui profesi yang sedang ditekuni. “Saya seorang petani, juga berhak menerima berkat ini. Dan semua orang punya kesempatan itu,” ujarnya. (*)

PENULIS: Max Saleky

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top