BNN Belu Beber Hasil Kerja Setahun, Apa Saja? | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

BNN Belu Beber Hasil Kerja Setahun, Apa Saja?


Ketua BNN Belu, Muhammad Rizal (kedua kiri) bersama Koordinator Bidang Pencegahan, Gregorius Kali Bau dan Koordinator Bidang Rehabilitasi, Victorius saat memberi keterangan pers akhir tahun di Atambua, Selasa (29/12). (FOTO: FOTO JOHNI SIKI/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

BNN Belu Beber Hasil Kerja Setahun, Apa Saja?


ATAMBUA, TIMEXKUPANG.com-Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Belu mengumumkan temuan selama setahun bekerja. Dari data temuan, terdapat satu kasus sindikat penyelundupan dan dua kasus pengguna narkotika.

Ketua BNN Kabupaten Belu, Muhammad Rizal dalam jumpa pers akhir tahun di Atambua, Selasa (29/12), menjelaskan, selama setahun ini, pihaknya berhasil mengungkap satu kasus sindikat penyelundupan lima gram tembakau jenis gorila dari Timor Leste pada April 2020 lalu. Penanganan kasus sindikat ini diserahkan ke BNN Provinsi NTT untuk proses hukum.

Selain itu, lanjut Muhammad, BNN Belu juga melakukan rehabilitasi terhadap dua warga Belu sebagai pengguna narkotika. Dua warga pengguna ini berinisiatif mendatangi BNN untuk melakukan rehabilitasi atau pemulihan.

Menurutnya, dari data setahun penanganan narkotika di wilayah perbatasan RI-Timor Leste itu, bukan berarti Kabupaten Belu minim kasus sindikat penyelundupan maupun pemakai narkotika. Sebab wilayah perbatasan negara itu tentunya berpotensi sehingga pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan dan penindakan.

“Kita terus berupaya dengan langkah strategis untuk selamatkan generasi Belu dari ancaman narkotika. Perbatasan negara termasuk potensi terjadinya peredaran sindikat narkotika,” tandasnya.

Muhammad meminta masyarakat di daerah perbatasan dan instansi teknis untuk bersama terus berkolaborasi dalam upaya mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran narkotika di wilayah perbatasan negara ini.

“Tentunya di tengah pandemi ini merupakan tantangan tersendiri, tetapi kami tidak lengah. Kita selalu berkoordinasi untuk mengantisipasi peredaran narkoba,” tandasnya.

Koordinator Bidang Pencegahan BNN Belu, Gregorius Kali Bau menambahkan, dalam menangani persoalan peredaran narkoba, pihaknya tidak mungkin bekerja sendiri. Kerja sama dan sinergitas semua komponen termasuk organisasi perangkat daerah juga Forkopimda Kabupaten Belu perlu ditingkatkan. Sebab masalah narkoba bukan saja urusan BNN tetapi tanggung jawab semua pihak, terutama dukungan pemerintah kabupaten.

“Kita terus melakukan langkah pencegahan. Termasuk ada tes urine tetapi dukungan pemerintah kabupaten perlu dimaksimalkan lagi. Salah satunya dukungan peraturan daerah,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, sejauh ini pihaknya terus melakukan upaya pencegahan seperti advokasi, tatap muka, sosialisasi, dan pengadaan media kampanye. Bahkan kata Gregorius, saat ini terdapat 78 pegiat pemerhati narkoba di Belu, termasuk membentuk Desa Silawan sebagai desa binaan. Sehingga syarat ouput dari tujuh target dalam 24 program nasional, Belu melebihi standar tujuh program nasional.

“Untuk Belu kita melebihi target nasional. Tetapi sebagai wilayah perbatasan tidak boleh lengah. Peran serta masyarakat dan semua komponen termasuk media sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Koordinator Bidang Rehabilitasi BNN Belu, Victorius mengatakan, layanan rawat jalan dan rehabilitasi berbasis rawat nginap untuk sementara di RS Halilulik.

Selain rawat jalan rehabilitasi melalui dukungan masyarakat, tahun ini juga BNN Belu sudah membentuk tim kader rehabilitasi berbasis masyarakat. Dengan demikian masyarakat diajak proaktif melaporkan pasien pengguna narkotika. Ini bertujuan mencegah melalui program rehabilitasi.

“Selama ini, belum semua masyarakat diedukasi secara baik. Sehingga mau melapor tapi takut karena narkoba identik dengan pidana,” tandasnya.

Dikatakan peran kelompok masyarakat dalam pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN) terus dilakukan sehingga masyarakat bisa mengerti dan sadar akan bahaya narkoba.

Untuk diketahui, data BNN Belu menunjukkan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, jumlah pasien yang direhabilitasi berjumlah 13 orang. Rinciannya tahun 2018 rehabilitasi sebanyak tiga pasien, lalu tahun 2019 sebanyak delapan pasien, dan tahun 2020 sebanyak dua pasien. “Sedangkan kasus tindak pidana narkotika tahun 2018 sebanyak 0 kasus, tahun 2019 sebanyak 1 kasus, dan tahun 2020 sebanyak 1 kasus,” pungkasnya. (mg33)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top