Mengeluh Pupuk Langka, Petani Matim Harap Pemerintah Beri Solusi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Mengeluh Pupuk Langka, Petani Matim Harap Pemerintah Beri Solusi


BELUM DIPUPUK. Agus Deok, petani di Desa Golo Wune, Matim berdiri di areal persawahan miliknya yang belum dipupuk akibat adanya kelangkaan pupuk. Padahal tanaman padi ini sudah berusia satu bulan. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Mengeluh Pupuk Langka, Petani Matim Harap Pemerintah Beri Solusi


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Petani di Desa Leong, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), mengaku kesulitan mendapatkan pupuk. Baik pupuk subsidi maupun nonsubsidi. Para petani berharap ada solusi dari pemerintah terhadap masalah ini di tahun baru.

“Kami sekarang alami kesulitan untuk dapat pupuk. Tidak saja pupuk subsidi, tapi juga nonsubsidi. Kami sudah cari ke tempat biasa jual, tapi selalu saja stoknya habis,” ungkap petani Desa Leong, Sipri Wangkang dan Uncok Bos, saat ditemui Selasa (29/12) petang.

Menurut Sipri, kesulitan petani memperoleh pupuk, bukan baru terjadi di tahun 2020 ini. Hal ini sudah biasa dialami petani di Matim. Dan kelangkaan ini biasanya terjadi pada bulan terakhir dan memasuki tahun baru setiap tahun. Seperti Desember-Januari. Persedian pupuk itu biasanya di pusat kecamatan dan juga pusat ibu kota kabupaten. Terkadang ada stok pupuk, tapi harganya meroket.

“Ada petani yang terpaksa beli, walau harga mahal. Kita tidak tahu apa itu pupuk bersubsidi atau tidak. Karena kita bawa kartu kelompok tani, penjualnya beralasan pupuk yang ada, bukan pupuk subsidi. Kalau harga ini jualnya di desa, pasti semua petani beli. Tapi petani juga pikir dengan ongkos transportasinya ke desa,” kata Sipri diamini Uncok.

Dikataknya, akibat sulit mendapat pupuk, tanaman petani, khususnya padi di sawah yang kini baru berumur hampir dua bulan, belum bisa disiram pupuk. Dampaknya tentu pada kesuburan tanaman padi itu sendiri. Biasanya pupuk yang digunakan petani disana jenis SP36, Urea, dan Ponzka.

Petani telah berupaya mencari hingga Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai. Kadang pupuk ada jual di Ruteng, namun dibatasi takaranya. Padahal kebutuhan pupuk petani disesuaikan dengan luas lahan. Selain itu kadang juga ada juga petani yang menggunakan pupuknya utuk jenis tanaman lain selain padi.

“Kita juga cari sampai di Borong, ibu kota kabupaten Matim. Kita sudah jauh-jauh pergi ke Borong dan juga ke Ruteng, tapi pupuknya kosong. Kami sangat berharap ada satu solusi dari pemerintah terkait kelangkaan pupuk seperti ini. Sekarang tanaman di sawah kami belum disiram pupuk,” katanya.

Lanjut dia, khusus kondisi tanah areal wilayah Poco Ranaka, tanaman tidak bisa subur jika belum diberi pupuk. Petani pun berencana untuk antisipasi dengan daun tanaman pohon gamal, akasia, sensus, dan kotoran ternak untuk membantu menyuburkan tanah sawah. Untuk wilayah Desa Leong, ada ratusan hektare sawah, dan sebagiannya bisa ditanam dua kali setahun.

“Kami usul kepada pemerintah sebaiknya pupuk itu dijual bebas di toko dan kios atau buka agennya di setiap desa. Biar petani tidak mengalami kesulitan dalam membeli pupuk. Kapan saja petani membutuhkan pupuk selalu ada ditempat. Kebutuhan pupuk tidak hanya untuk tanaman padi tetapi juga usaha lain seperti sayur, buah, dan kacang-kacangan,” harap Sipri.

Mengenai adanya jenis pupuk bantuan pemerintah, menurut para petani, sebagaimana dikemukakan Sipri, sebaiknya didistribusikan ke kelompok tani pada Oktober. Karena untuk daerah pegunungan, petani mulai bekerja sawah pada November dan panen pada Maret. Umur padi dari tanam hingga panen itu mencapai lima bulan. Sedikit berbeda dengan daerah panas yang umur tanaman bisa seratus hari.

Hal yang sama diungkapkan petani lain di Desa Golo Wune, Agus Deok. Dia mengatakan setiap tahun masalah kelangkahan pupuk menjadi persoalan yang selalu dikeluhkan petani. Bantuan pupuk dari pemerintah kabupaten yang lewat kelompok tani selalu terlambat. Sehingga hasil padi dari setiap petani selalu menurun.

Agus mengaku, tanaman padi miliknya, sejak ditanam pertengahan November 2020 hingga sekarang berusia sekira satu bulan lebih, belum pernah disiram pupuk. Akibatnya, kata Agus, kondisi tanaman padinya kurang bagus. Tidak seperti biasanya kalau sudah disiram pupuk. Dia juga berharap kepada pemerintah untuk mencari solusi agar masalah kelangkaan pupuk ini bisa diatasi.

Agus juga meminta pemerintah mencari tahu apa penyebabnya sehingga setiap akhir tahun selalu terjadi kelangkaan pupuk. “Saya sepakat dengan petani lain, sebaiknya pupuk itu dijual bebas tanpa harus masuk kelompok tani. Karena menunggu pupuk subsidi selalu terlambat dan selalu saja stok habis. Juga kalau boleh buka agen jual pupuk subsidi di setiap desa. Kadang ada jenis pupuk bantuan dari pemerintah, saat pendistribusian ke desa, tanaman sudah berumur dua bulan,” beber Agus. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top