dr. Elric Malelak Beber Tantangan Penanganan Kasus Emergency Bedah Saraf di NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

dr. Elric Malelak Beber Tantangan Penanganan Kasus Emergency Bedah Saraf di NTT


Spesialis bedah saraf di NTT, dr. Elric Brahm Malelak, SpBS. (FOTO: ISTIMEWA)

KABAR FLOBAMORATA

dr. Elric Malelak Beber Tantangan Penanganan Kasus Emergency Bedah Saraf di NTT


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Salah seorang dokter spesialis bedah saraf di NTT, dr. Elric Brahm Malelak, SpBS, membeberkan tantangan bagaimana menangani kasus emergency bedah saraf di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tantangan ini dibeberkan dr. Elric ketika menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan-Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia cabang Bali-Nusa Tenggara (PKB PERSPEBSI Bali-Nusra). Pelatihan bertema Pelayanan Bedah Saraf di Rural Area ini digelar secara daring, Senin (28/12). Selain dr. Elric, kegiatan tersebut juga menghadirkan empat nara sumber lainnya, yakni dr. Bambang Priyanto, SpBS., Dr. dr. Rohadi, SpBS., dr. I Nyoman Gede Wahyudana SpBS., dan dr. David Prakasa SpBS.

Dokter Elric mengatakan, Provinsi NTT dengan jumlah penduduk 5,4 juta jiwa, memiliki karakteristik berbeda dengan provinsi lainnya di Indonesia. Provinsi kepulauan dengan 21 Kabupaten dan 1 Kota ini memiliki 1.192 pulau dengan tiga pulau besar, yaitu Flores, Sumba, dan Timor.

Dengan kondisi ini, demikian dr. Elric, dalam penanganan kasus neurotrauma yang harus ditangani segera karena merupakan kasus yang emergency dan live saving, sering terkendala pada minimnya sarana pendukung dan akses atau jangkauan rumah sakit.

“NTT merupakan provinsi kepulauan, sehingga kita memiliki karakteristik geografis yang berbeda dari provinsi lainnya. Selain itu kekurangan fasilitas kesehatan dan tenaga dokter ahli juga merupakan tantangan tersendiri dalam penanganan kasus-kasus emergency,” ungkap dokter spesialis bedah ini.

Dokter Elric membeberkan, misalnya di Flores dengan populasi penduduk sekitar 1,8 juta jiwa dengan 8 kabupaten, memiliki 10 rumah sakit pemerintah dan 8 rumah sakit swasta. Namun tidak ada rumah sakit Tipe A dan tipe B. Hanya ada 8 RS tipe C dan 8 RS tipe D. Sudah begitu, baru ada dua RS yang memiliki CT Scan, yakni RSUD dr. TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, dan RS Siloam di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
“Selama ini pasien-pasien neurotrauma di daratan Flores, Lembata, dan Alor kami arahkan ke kedua rumah sakit tersebut. Kemudian dari kedua rumah sakit tersebut berkonsultasi dengan kami di Kupang jika bersedia di rujuk,” jelasnya.

Menurut dr. Elric, jika dilihat perbandingan angka kejadian neurotrauma yang harus dioperasi sebanyak 61 persen dan angka rujukan, ini masih dalam kategori rendah. Hal ini dikarenakan terkendala pada biaya transportasi dan biaya perawatan bagi pasien yang belum mempunyai BPJS.
“Kalau ada keluarga pasien yang mampu untuk dimobilisasi atau dirujuk ke Kota Kupang barulah akan dirujuk, sedangkan untuk pasien yang tidak sanggup dirujuk berarti hanya tindakan konservatif dengan obat-obatan,” bebernya.

Sebagai contoh, kata dr. Elric, dari Labuan Bajo ke Kupang jika menggunakan jalur laut memakan waktu hampir satu hari lebih. Hal ini tentu sangat sulit untuk melakukan tindakan tepat waktu. “Sementara jika menggunakan jalur udara, cukup memakan biaya sehingga tidak semua bisa dirujuk ke Kota Kupang,” katanya.

Selanjutnya di Pulau Sumba, sambung dr. Elric, dengan populasi hampir mencapai 750 ribu penduduk yang bermukim di empat kabupaten, dimana populasi paling besar adalah Waingapu, Sumba Timur, terdapat tiga rumah sakit pemerintah, dan empat rumah sakit swasta. Dan semua RS itu bertipe C dan D.

“RSUD Umbu Rara Meha di Waingapu merupakan satu-satunya rumah sakit yang memiliki CT Scan, sehingga kasus neurotrauma di daratan Sumba diarahkan ke Waingapu dan dikonsultasikan dengan kami di Kupang. Selama ini untuk kasus-kasus tertentu (kasus ekstradural) ditangani oleh dokter bedah umum,” paparnya.

Kasus neurotrauma, demikian dr. Elric, berkaitan dengan golden periode, yakni membutuhkan penanganan segera di bawah enam jam. Sementara jarak tempuh antar wilayah/daerah di NTT dengan karakteristik geografis kepulauan menjadi salah satu tantangan tersendiri.

Elric melanjutkan, di Pulau Timor dengan jumlah penduduk terbesar yaitu 1,9 juta jiwa, terdapat 13 rumah sakit pemerintah, dan 11 rumah sakit swasta. Dari jumlah itu, terdapat dua RS tipe B, 14 RS tipe C, dan delapan RS tipe D.

“Di Kota Kupang ada empat rumah sakit yang memiliki CT Scan, yaitu RS Bhayangkara, RS Carolus Borromeus, RS Siloam, dan RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes. Namun sampai saat ini rumah sakit yang sanggup melakukan operasi bedah saraf hanya RS Siloam dan RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes. Dua rumah sakit merupakan rumah sakit rujukan dan terbesar di NTT,” terangnya.

Sesuai rencana, Kota Kupang akan memiliki Rumah Sakit Umum Pusat Vertikal langsung dengan Kementerian Kesehatan, dimana proses peletakan batu pertama sudah dilakukan pada 3 Desember 2020 lalu. “Sesuai rencana, rumah sakit ini selesai pada pertengahan 2022 mendatang. Mudah-mudahan rumah sakit tersebut juga dapat menjadi salah satu rumah sakit rujukan untuk kasus-kasus bedah saraf,” harapnya.

Dikatakan, tim bedah saraf NTT sementara mengupayakan pola sistem rujukan yang lebih baik untuk pasien-pasien di kabupaten, terutama di Pulau Flores, Alor, Sumba, Sabu, dan Rote sehingga dapat dievakuasi secepat mungkin agar bisa mendapat penanganan maksimal.

Dokter Elric juga berharap ke depannya banyak generasi muda NTT yang bisa menjadi ahli bedah saraf untuk mengisi kekosongan dokter bedah saraf di kabupaten-kabupaten, terutama di Flores, Alor, Sumba, Sabu, dan Rote.

“Sekarang kami terus meminta Pemerintah di NTT untuk melengkapi fasilitas kesehatan terutama menyediakan MRI, sehingga dapat digunakan untuk kasus neurotrauma spine dan kasus-kasus lainnya,” ujarnya.

Selain kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai, kata dr. Elric, masalah lainnya adalah kurangnya tenaga kesehatan, yakni spesialis bedah saraf, sehingga diharapkan PERSPEBSI, terutama PERSPEBSI Bali-Nusra dapat memberi perhatian lebih terutama untuk anak-anak NTT agar dapat melanjutkan program pendidikan dokter spesialis. (mg25)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top