Harga Kedelai Impor Melambung, Produsen Tahu-Tempe Mogok | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Harga Kedelai Impor Melambung, Produsen Tahu-Tempe Mogok


Pengrajin Tahu. (FOTO: JawaPos.com)

BISNIS

Harga Kedelai Impor Melambung, Produsen Tahu-Tempe Mogok


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Produsen tahu tempe dalam negeri dihadapkan pada dilema. Harga kedelai impor naik. Agar bertahan, mereka harus menaikkan harga jual karena ongkos produksi juga membengkak. Tapi, daya beli masyarakat sedang sangat lemah karena pandemi Covid-19.

Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo) mereaksi kenaikan harga kedelai impor dengan mogok. Selama tiga hari, mulai 1 Januari lalu, para perajin tahu tempe menghentikan produksi. Selain agar mendapatkan atensi dari pemerintah, Gakoptindo memanfaatkan mogok sebagai titik awal penyelarasan strategi bisnis para perajin tahu tempe.

“Sebagian pengusaha sebenarnya sepakat menaikkan harga sekitar 10 sampai 20 persen. Namun, rencana ini ternyata belum diikuti semua pengusaha,” ujar Ketua Umum Gakoptindo Aip Syaifuddin, Senin (3/1).

Dengan menaikkan harga jual tahu tempe, Gakoptindo berusaha meminimalkan potensi kerugian para pengusaha dan perajin. Sebab, kenaikan harga bahan baku memang memicu kenaikan biaya produksi. Gakoptindo berharap, kebijakan itu diterapkan seluruh anggota. Dengan demikian, tidak akan ada yang ambil untung dengan tetap menjual dengan harga normal.

Kenaikan harga kedelai impor bukan baru kali ini terjadi. Biasanya, menurut Aip, faktor pemicunya adalah nilai tukar mata uang. Namun, kali ini, pemicunya bukan itu. Dengan demikian, Gakoptindo merasa perlu berkoordinasi dengan pemerintah. Khususnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) terkait isu komoditas kedelai.

Kuat dugaan, melonjaknya harga kedelai impor dipicu permintaan dari Tiongkok yang meningkat pesat. Belakangan, demand Tiongkok terhadap Amerika Serikat (AS), produsen utama kedelai, menanjak. Hal tersebut terjadi karena hubungan dagang kedua negara semakin baik.

“Pembeli terbesar kedelai di dunia adalah China, yakni sekitar 70 juta ton per tahun. Negara produsen menjual semuanya ke China karena mereka membeli yang grade-nya bagus,” bebernya.

Senada dengan Aip, Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto menyatakan bahwa harga kedelai di pasar global memang tengah melejit. Desember lalu, harga kedelai dunia tercatat sebesar USD 12,95 per bushels. Harga itu naik 9 persen dari catatan bulan sebelumnya yang berkisar USD 11,92 per bushels.

Data Food and Agriculture Organization (FAO), harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 tercatat sebesar 461 USD per ton. Atau, naik 6 persen dibanding bulan sebelumnya yang sekitar 435 USD per ton.

Suhanto menambahkan bahwa faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia adalah lonjakan permintaan dari Tiongkok ke AS. Pada Desember 2020, permintaan kedelai Tiongkok naik 2 kali lipat. Yakni, dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton.

Sementara itu, menyikapi kegundahan para perajin tahu tempe, Kemendag mengimbau Gakoptindo untuk mengajak anggotanya tetap berproduksi. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat terhadap tahu tempe juga tercukupi. Namun, karena harga bahan baku menyumbang 70 persen dari total biaya produksi, mau tidak mau harga jual pun naik.

Terpisah, ekonom Insitute Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai bahwa kenaikan harga kedelai pun ujungnya akan membebani masyarakat. Khususnya, kelas menengah ke bawah.

“Dalam kondisi resesi ekonomi seperti ini, yang biasa beli telur, ayam, dan daging sapi bergeser ke tahu tempe. Kalau sampai naik tinggi harga di pasaran akan sangat berisiko bagi ekonomi masyarakat. Apalagi jika sampai para perajin stop berproduksi,” tandasnya. (agf/c13/hep/jpg)

TREN IMPOR KEDELAI INDONENESIA

Tahun | Volume (dalam juta ton)

2015 | 2,3
2016 | 2,3
2017 | 2,7
2018 | 2,6
2019 | 2,7

TREN PRODUKSI KEDELAI LOKAL

Tahun | Volume (dalam ton)

2015 | 963.183
2016 | 859.653
2017 | 538.728
2018 | 982.598
2019 | 480.000

Sumber: Kementerian Pertanian

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top