Selama 2020, Polres Ngada Tangani 12 Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Selama 2020, Polres Ngada Tangani 12 Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur


Kasat Reskrim Polres Ngada, Iptu Ketut Ray Artika, SH saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (6/1). (FOTO: Saver Bhula/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Selama 2020, Polres Ngada Tangani 12 Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur


BAJAWA, TIMEXKUPANG.com-Kasus kekerasan seksual atau pencabulan dengan korban anak di bawah umur di Kabupaten Ngada tidak mengalami perubahan. Angka kasus kekerasan seksual tahun di tahun 2020 tetap sama dengan tahun 2019, yakni berjumlah 12 kasus.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Ngada, Roslyn Djawa mengatakan, selama tahun 2020, Polres Ngada menangani sebanyak 12 kasus pencabulan anak di bawah umur. Bahkan pada Desember kemarin terjadi satu kasus di wilayah Aimere.

“Ada 12 kasus, dipenghujung tahun kemarin ada laporan kasus pencabulan anak di bawah umur di Aimere,” ungkap Roslyn saat diwawancarai Rabu (6/1).

Ironisnya, terduga pelaku pencabulan anak di bawah umur tersebut adalah orang dekat korban bahkan ada yang pelakunya ayah kadung korban sendiri.

BACA JUGA: Mengaku Dukun, Warga Mabar Cabuli 5 ABG di Sikka, Pengakuan Korban Bikin Miris

“Tersangka sudah lari. Anak tersebut sudah hamil 6 bulan dan saat ini sedang dirawat di rumah aman,” beber Roslyn.

Roslyn menegaskan, khusus untuk pencabulan dan persetubuhan anak tidak ada istilah damai karena itu pihaknya pasti melakukan proses hingga putusan pengadilan.

“Tidak ada ampun untuk kasus pencabulan dan persetubuhan anak. Pasti kita proses karena menyangkut masa depan korban yang sudah dihancurkan pelaku,” tegas Roslyn.

Penegasan yang sama dikemukakan Kasat Reskrim Polres Ngada, Iptu Ketut Ray Artika, SH. “Soal kasus pencabulan anak di bawah umur itu tidak ada ampunnya. Akan ada penambahan hukuman jika pelakunya itu orang tua kandung, tenaga pendidikan, orang tua tiri bahkan anggota (Aparat keamanan, Red),” jelas Ray Artika saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (6/1).

Ray Artika menjelaskan, dari 12 kasus kekerasan seksual tersebut, 10 kasus sudah ditangani. “Ada satu kasus setelah melakukan pemeriksaan pihak polres Ngada, tidak termasuk kasus/pelaku pidana. Sedangkan, kasus di Aimere tersangkanya lari. Namun kita tetap proses,” pungkasnya. (*)

Penulis: Saver Bhula

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top