DBD Meningkat di Matim, Dinkes Tak Bisa Fogging karena Terkendala Dana | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

DBD Meningkat di Matim, Dinkes Tak Bisa Fogging karena Terkendala Dana


Kadis Kesehatan Matim, dr. Surip Tintin. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

DBD Meningkat di Matim, Dinkes Tak Bisa Fogging karena Terkendala Dana


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) harus menjadi perhatian serius. Pasalnya, korbannya terus meningkat. Jumlah korban gigitan nyamuk aedes aegypti ini mencapai 117 orang. Rinciannya 113 kasus disepanjang 2020, dan empat kasus baru di awal Januari 2021 ini.

Kasus DBD ini menyebar di lima wilayah kecamatan di Matim. Satu orangnya di luar daerah, yakni wilayah Aimere, Kabupaten Ngada. Di tengah ancaman pandemi Covid-19 juga DBD, Dinas Kesehatan Matim tidak bisa melakukan fogging sebagai langkah antisipasi penyebaran nyamuk biang kerok DBD ini.

“Tahun 2021 ini, kita tidak bisa melakukan fogging. Karena DAU kita kurang. Tahun 2020 lalu saja, kita tidak bisa fogging semua wilayah sebagai titik kasus DBD. Termasuk anggaran VAR rabies,” ungkap Kadis Kesehatan Matim, dr. Surip Tintin, saat ditemui TIMEXKUPANG.com di kantornya, Rabu (6/1) siang.

Dokter Tintin mengatakan, berdasarkan data dan hasil evaluasinya, kasus DBD di Matim trennya meningkat terus. Dimana sejak Januari-Oktober 2020, tercatat sebanyak 24 kasus DBD. Memasuki akhir Desember 2020, jumlahnya meningkat tajam mencapai 113 kasus. Rinciannya untuk Kecamatan Borong sebanyak 66 kasus/orang, Kota Komba 25 orang, Rana Mese 13 orang, Lamba Leda 4 orang, dan Kecamatan Sambi Rampas sebanyak 4 orang.

Masuk awal Januari 2021, kata dr. Tintin, jumlah yang terserang penyakit DBD bertambah 4 kasus. Dimana sebanyak 2 orang dari Kecamatan Borong dan 2 orang lainya dari wilayah Kecamatan Kota Komba. Dari data yang ada, satu orang anak dari Kecamatan Kota Komba tercatat meninggal dunia.

Dokter Tintin menyebutkan, selama ini para penderita DBD menjalani perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan di Matim. Ada juga yang dirujuk ke RSUD dr. Ben Mboi Ruteng, Kabupaten Manggarai. Penderitanya, tidak saja anak-anak, tapi remaja, dan orang dewasa.

“Meningkatnya kasus DBD ini, disaat wilayah Matim diguyur hujan. Musim hujan seperti sekarang ini yang perlu diwaspadai oleh semua kalangan masyarakat. Saat musim hujan, nyamuk aedes aegypti harus kita jaga. Tentu dengan kita menjaga lingkungan yang sehat. Korbanya tidak mengenal usia,” katanya.

Dokter Tintin menganjurkan agar masyarakat menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat dengan menerapkan pola 3M, yakni menutup, menguras, dan mengubur atau membakar benda-benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Agar masyarakat bebas dari penyakit, Dinas Kesehatan melalui Puskesmas dan Pustu, terus mengimbau seluruh masyarakat untuk waspada terhadap penyakit-penyakit berbasis lingkungan, seperti DBD.

“Kami dari Dinas Kesehatan melalui petugas di tingkat bawah, tetap rajin memberi penyuluhan kepada masyarakat terkait penyakit lingkungan, seperti malaria dan DBD. Tujuannya masyarakat bisa lebih sadar untuk terus melakukan tindakan pembersihan lingkungan. Peran pemerintah desa juga sangat kita harapkan,” pungkas dr. Tintin. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top