Pasien Reaktif Membludak, Manajemen RSUD SoE Tutup IGD | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pasien Reaktif Membludak, Manajemen RSUD SoE Tutup IGD


PENGUMUMAN DI IGD. Manajemen RSUD SoE mengeluarkan pengumuman pada selembar kertas bertuliskan tak menerima pasien yang ditempelkan di pintu masuk IGD . Gambar diabadikan Jumat (8/1). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Pasien Reaktif Membludak, Manajemen RSUD SoE Tutup IGD


DPRD Sarankan Gunakan Gedung Kosong yang Disediakan

SOE, TIMEXKUPANG.com-Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten TTS makin mengkhawatirkan. Hal ini dibuktikan dengan terus bertambahnya pasien Covid-19 maupun pasien dengan status reaktif hasil rapid test. Kondisi ini menyebabkan daya tapung Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) SoE terpaksa ditutup sementara.

Penutupan ini dilakukan agar petugas mempersiapkan membuka ruangan perawatan baru di SMK Negeri 2 SoE dan RSIA untuk membantu pelayanan pasien reaktif sehingga ruangan IGD RSUD Soe bisa dibuka kembali untuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Ia benar saat ini IGD ditutup tetapi pasien yang sudah datang dilayani melalui poliklinik rawat jalan. Jika sesuai indikasi medis harus rawat inap kita tetap layani karena ruangan rawat inap dan poliklinik tetap menerima pelayana seperti biasa,” ujar Direktur RSUD SoE, dr. Ria Tahun ketika dikonfirmasi melalui Kabag Tata Usaha, Rikardus Sareng, Jumat (8/1).

Dikatakan penutupan tersebut sebagai upaya mencegah dan memutus rantai penyebaran Covid-19 karena sekarang eskalasinya meningkat jadi kapasitas ruangan dan tempat tidur di rumah sakit penuh.

“Semua fasilitas di IGD penuh jadi kita sementara mengupayakan pemindahan sehingga belum bisa memindahkan pasien reaktif yang ada di IGD,” ungkap Rikardus.

Selain penutupan IGD, menejemen RSUD SoE sudah bersurat ke Bupati selaku Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di TTS dan sudah diambil langkah dengan membuka ruangan perawatan baru memanfaatkan ruangan di SMK Negeri 2 SoE dan RSIA.

Mendapat informasi penutupan IGD RSUD SoE, Ketua dan anggota Komisi IV DPRD TTS langsung turun memantau kondisi tersebut.

Ketua Komisi IV, Marthen Tualaka membenarkan bahwa IGD RSUD SoE sedang ditutup. Hasil konfirmasi DPRD TTS dengan security bahwa pelayanan di IGD dihentikan karena ada pasien reaktif meninggal di ruang IGD sehingga sementara proses evakuasi dan disteril dengan penyemprotan disinfektan.

Ketua DPC Hanura TTS itu meminta agar segera percepat proses evakuasi dan juga penyemprotan agar segera kembali melakukan pelayanan kepada pasien yang datang RSUD SoE untuk mendapat pelayanan medis terutama pelayanan di IGD kembali berjalan normal. Jika tidak, akan berdampak bagi pasien rujukan dan atau pasien emergensi lainnya.

Ketua Komisi IV DPRD TTS, Marthen Tualaka bersama anggota ketika meninjau ke RSUD SoE, Jumat (8/1). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

Marthen menilai kebijakan yang diambil menejemen RSUD SoE itu merupakan kebijakan yang sangat fatal bagi daerah, sebab RSUD SoE merupakan rumah sakit yang melayani pasien rujukan dari semua Puskesmas di TTS.

“Ada opini berkembang bahwa menejemen RSUD SoE menutup pelayanan bagi pasien di IGD tersebut, sehingga kami beranggapan bahwa kebijakan itu akan fatal bagi daerah ini, sebab TTS hanya memiliki satu rumah sakit, maka kemana pasien rujukan diberikan perawatan medis nanti,” kata Marthen Tualaka kepada TIMEXKUPANG.com usai memantau di RSUD SoE.

Selain rumah sakit rujukan pasien dari Puskesmas, Marthen menjelaskan juga rumah sakit yang melayani pasien emergensi seperti ibu hamil yang hendak bersalin, kecelakaan, penganiayaan dan pasien darurat lainnya. Sehingga jika IGD RSUD SoE ditutup itu sangat fatal bagi daerah. “Dampaknya (Tutup IGD, Red) akan sangat besar,” jelasnya.

Terkait alasan semua fasilitas RSUD sudah terisi pasien, menurut Marthen itu bukan menjadi alasan. Sehingga jika itu menjadi alasan maka managemen RSUD SoE tidak kreatif. Jika ada pasien yang terpapar Covid-19 dan reaktif itu semestinya sudah harus dikarantina mandiri di ruang isolasi mandiri Covid-19.

“BLK Kehutanan di Taman Bu’at SoE itu bisa digunakan untuk karantina mandiri bagi pasien terkonfirmasi reaktif dan positif, bukan di RSUD SoE tapi BLK itu menjadi rekomendasi DPRD untuk dijadikan tempat karantina,” sebut Marthen.

Marthen mengatakan pihaknya merekomendasikan BLK tersebut meskipun jarak jauh tetapi soal kenyamanan sangat terjamin. Tetapi jika pasien reaktif dan positif ditampung di RSUD SoE maka sudah pasti akan penuh sehingga mempengaruhi bagi pelayanan pasien lainnya.

“Dengan demikian, kebijakan yang diambil untuk menampung semua pasien reaktif dan positif Covid-19 itu sangat tidak efektif ditampung di RSUD SoE, sehingga harus dievakuasi keluar,” tutupnya.

Untuk diketahui, jumlah pasien positif Covid-19 di TTS hingga saat ini tercatat sebanyak 32 orang. Dari jumlah itu yang sudah sembuh sebanyak 22 orang, masih dalam perawatan 9 orang, dan 1 orang meninggal dunia. Sedangkan pasien probable yang meninggal sebanyak 3 orang. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top