Belum Ada Perbaikan, Warga Minta Polisi dan Jaksa Usut Proyek Irigasi Wae Laku | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Belum Ada Perbaikan, Warga Minta Polisi dan Jaksa Usut Proyek Irigasi Wae Laku


BELUM DIPERBAIKI. Titik kerusakan saluran irigasi pembagian ke wilayah Mondo, Desa Bangka Kantar, Kecamatan Borong, yang jebol dan belum diperbaiki hingga saat ini. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)BELUM DIPERBAIKI. Titik kerusakan saluran irigasi pembagian ke wilayah Mondo, Desa Bangka Kantar, Kecamatan Borong, yang jebol dan belum diperbaiki hingga saat ini. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Belum Ada Perbaikan, Warga Minta Polisi dan Jaksa Usut Proyek Irigasi Wae Laku


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Warga Bangka Kantar, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) meminta aparat penegak hukum, baik Kepolisian maupun Kejaksaan untuk mengusut proyek irigasi Wae Laku di wilayah itu. Pasalnya hasil dari proyek APBN itu mengecewakan masyarakat. Belum setahun usianya, sudah rusak dan hingga kini belum diperbaiki.

Titik kerusakan irigasi itu berada di Lodos, Desa Bangka Kantar, Kecamatan Borong. Sekira 25 meter dinding sisi kiri saluran induk pembagian air ke wilayah persawahan Kampung Mondo, ambrol pada 27 November 2020 lalu. Bangunan irigasi itu diketahui dikerjakan PT. Floresco pada 2019 lalu.

“Kami kecewa dengan hasil proyek irigasi ini. Usianya belum satu tahun, tapi rusak. Yang bikin kecewanya lagi, sampai sekarang saluran itu belum diperbaiki. Kami minta polisi dan kejaksaan supaya usut kerusakan itu,” tutur sejumlah warga setempat, yakni Marselis, Herman, dan Agus Par, kepada TIMEXKUPANG.com di Borong, Sabtu (9/1) petang.

Menurut Marselis, semestinya kerusakan itu masih menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana. Marselis tidak mengetahui apa yang menyebab saluran irigasi itu rusak. Dugaan, mungkin karena kualitas atau mungkin ada kesalahan teknis sehingga ini harus diselidiki.

“Kami tidak tahu kenapa dinding irigasi ini bisa jebol. Kami juga tidak mengerti, kenapa pemerintah, dalam hal ini Balai Wilayah Sungai (BWS) II NTT masa bodoh dan tidak perintahkan kontraktornya untuk perbaiki,” ungkap Marselis diamini Agus dan Herman.

Masih kata Marselis, akibat kerusakan saluran irigasi itu, sekira puluhan hektar sawah di wilayah Mondo, Desa Bangka Kantar, kesulitan mendapat pasokan air. Tanaman padi dengan beragam usia tanam, mulai kering dan terancam puso. Warga tidak bisa berbuat apa-apa atas kerusakan irigasi itu. Hanya bisa pasrah dan kecewa.

BACA JUGA: Bangunan Irigasi APBN di Matim Jebol, Kades: Tidak Perbaiki, Polisi Usut

“Kami sudah upaya bendung air di titik kerusakan itu dengan menggunakan papan dan karung berisi material pasir, tapi tidak berhasil. Itu karena volume kerusakanya cukup panjang,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Bangka Kantar, Mendik Rawan, juga mengaku kecewa dengan pihak BWS II dan kontraktor pelaksananya. Pasalnya, kerusakan itu belum juga diperbaiki. Padahal dirinya telah menyampaikan peristiwa itu ke BWS melalui PPK Proyek irigasi Wae Laku dan melalui Dinas PUPR Matim.

“Belum ada tanda-tanda untuk perbaiki. Padahal saya sudah sampaikan secara lisan kepada PPK dan Dinas PUPR Matim. Setahu saya kerusakan itu masih dalam tahap pemeliharaan. Karena untuk saluran pembagian ke Mondo itu, dikerjakan tahun 2019 lalu,” kata Mendik.

Jika saja proyek itu sudah FHO dan tidak lagi menjadi tanggung jawab kontraktor, lalu apa kerusakan itu dibiarkan begitu saja. Juga kalau hasil proyeknya belum berusia lama, apa itu harus diam begitu saja? Mendik sendiri tidak tahu, apa yang menyebabkan bangunan irigasi itu, jebol.

“Saya tidak tahu kenapa sampai terjadi jebol. Saya juga tidak tahu secara teknis dari bangunan itu, dimana pasir dari kali yang masuk ke saluran irigasi itu, menumpuk dan menyumbat aliran air. Buat saya, kerusakan ini diperbaiki. Sayang ini proyek menelan anggaran miliar,” kata Mendik.

Dikatakanya, saluran irigasi khusus pembagian ke wilayah Mondo itu, dapat mengairi puluhan hektar sawah. Namun selama saluran tidak berfungsi karena rusak, petani tidak bisa berbuat apa-apa dan khawatir tanaman padi miliknya jadi kering. Dia berharap pihak BWS II NTT sebagai pemilik proyek untuk perintahkan kontraktornya memperbaiki.

“Yang saya tahu kontraktor pelaksana proyek ini adalah PT. Floresco. Karena tahun 2020, proyek lanjut irigasi Wae Laku ini, kontraktornya lain. Kalau PT. Floresco tidak mau perbaiki, saya pikir permintaan dari warga untuk diusut oleh pihak aparat hukum, juga tidak ada salahnya,” bilang Mendik. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top