SMAN Poco Ranaka Dapat Dana Rp 4 M, Ini Pesan Anggota DPRD Yohanes Rumat | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

SMAN Poco Ranaka Dapat Dana Rp 4 M, Ini Pesan Anggota DPRD Yohanes Rumat


SIMBOLIS. Anggota DPRD NTT, Yohanes Rumat (kiri) menyerahkan dokumen bantuan anggaran pembangunan 13 item gedung SMPN 4 Poco Ranaka yang diterima Kasek Maximus Sensi, Rabu (13/1). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

PENDIDIKAN

SMAN Poco Ranaka Dapat Dana Rp 4 M, Ini Pesan Anggota DPRD Yohanes Rumat


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Anggota DPRD Provinsi NTT, Yohanes Rumat membawa dan menyerahkan dana sebesar Rp 4 miliar lebih untuk pembangunan gedung SMA Negeri 4 Poco Ranaka, di Kampung Rejo, Desa Leong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Rabu (13/1) siang.

Yohanes Rumat menyerahkan dana itu secara simbolis kepada Kepala Sekolah (Kepsek), Maximus Sensi berlangsung di ruang Perpustakaan SMAN 4 Poco Ranaka. Dalam kesempatan itu juga, Yohanes Rumat menyerahkan bantuan untuk masyarakat melalui kelompok tani, yakni ternak kambing dan handtraktor.

Penyerahan ini disaksikan langsung Ketua Komite SMA Negeri 4 Lamba Leda, Yohanes Reiman dan Kepala Desa (Kades) Leong Yohanes Jeharu. Hadir juga dalam kesempatan itu anggota DPRD Matim, Bona Jemarut, para guru dan pegawai di SMAN 4 Poco Ranaka, siswa, dan tokoh masyarakat.

“Alasan utama kita hadir di sini, memberikan dampak politik bagi masyarakat. Dimana dalam proses perjuangan itu memberikan buah atau hasil. Khusus untuk SMAN 4 Poco Ranaka, tahun 2021 dapat dana sebesar Rp 4.218.724.000,” ujar Yohanes Rumat pada acara itu.

Menurut dia, dana sebesar Rp 4 miliar lebih itu diperuntukan membangun 13 item gedung, yakni Laboratorium Kimia, Laboratorium Biologi, Laboratorium Fisika, Laboratorium Komputer, Laboratorium Bahasa, ruang guru, toilet, ruangan tata usaha, ruangan kepala sekolah, ruangan UKS, pengadaan peralatan teknologi, informasi dan komputer, dan pengadaan media pendidikan.

Selain SMAN 4 Poco Ranaka, kata Yohanes, tahun ini ada tiga sekolah lain yang diintervensi oleh Pemprov NTT, yakni SMAN 4 Borong sebesar Rp 3.844.974.000, SMAN 5 Borong (Rp 2.670.216.000), dan SMKN 2 Elar (Rp 3.321.223.000). Selain itu dua sekolah lain di Kabupaten Manggarai, yakni SMAN 2 Cibal dengan dana sebesar Rp 3.489.910.000. Lalu SMAN 2 Rahong Utara sebesar Rp 1.480.475.000.

Ada tiga sekolah di Manggarai Barat, yakni SMAN 3 Macang Pacar dengan intervensi dana sebesar Rp 2.801.682.000, SMAN 1 Lembor (Rp 3.034.901.000), dan SMKN St. Tresia Nangalili (Rp 3.366.701.000). Seluruhnya ada sembilan sekolah di Manggarai Raya.

“Total anggaran untuk sembilan sekolah ini sebesar Rp 28.228.806.000. Dari sembilan sekolah ini, alokasi dana paling besar adalah Rp 4 miliar lebih. Anggaran ini dialokasikan tentu karena sesuai kondisi sekolah, Dapodiknya bagus, dan sebelumnya sekolah yang ada pernah dapat bantuan sebelumnya, tapi tidak cukup,” jelas Yohanes Rumat.

Yohanes Rumat menyebutkan, dengan bantuan tersebut, sekolah, khususnya SMA/SMK yang menjadi kewenangan Pemprov agar ikut berjuang memajukan mutu pendidikan sehingga ke depan NTT tidak lagi berada di peringkat 32 nasional, namun bisa masuk ke peringkat 18. “Tentu ujung tombaknya ada di sekolah,” kata Yohanes.

Yohanes juga menegaskan agar SMA/SMK harus memahami delapan standar pendidikan secara baik demi terwujudnya mutu atau kualitas pendidikan NTT yang lebih baik. “Kalau NTT masih bodoh, ikutanya miskin. Saya minta para guru di sekolah ini, agar memahami tuanya sendiri. Dimana tuanya itu Gubernur dan DPRD Provinsi,” katanya.

Kepala SMAN 4 Poco Ranaka, Maximus Sensi, menyampaikan terima kasih kepada Pemprov dan DPRD NTT, yang sudah mengalokasi anggaran sebesar Rp 4 miliar lebih untuk sekolah yang ia pimpin itu. Tentu lembaga sekolah, komite, dan masyarakat, sangat bangga dan berbahagia dengan alokasi anggaran yang ada.

“Terima kasih dengan alokasi anggaran yang ada untuk kami di SMAN 4 Poco Ranaka. Situasi sarana dan prasarana di sekolah ini, memang masih sangat kurang. Hari ini Bapak Yohanes Rumat datang membawa semangat dan angin segar bagi kami di sekolah dan juga masyarakat di Poco Ranaka,” ucap Maximus.

Menurutnya, sejak awal pembukaan sekolah itu, kegiatan KBM menggunakan bangunan darurat yang dibangun secara swadaya masyarakat. Tahun 2015 sekokah itu mendapat alokasi dana APBD Matim untuk membangun ruang kelas dan perpustakaan. Saat itu SMA masih menjadi kewenangan kabupaten.

“Awalnya kami buka dengan 4 ruang darurat. Kondisi sampai sekarang hanya ada tiga ruangan kelas permanen dan satu perpustakaan. Itu dibangun dari APBD Kabupaten Matim tahun 2015. Lainnya, kami masih pakai bangunan darurat dengan dinding bambu, lantai tanah, dan atap seng,” katanya.

Dengan suport dana dari Pemprov NTT, kata Maximus, pihaknya akan memanfaatkan untuk membangun enam ruang kelas baru. Sehingga kegiatan KBM, tidak lagi memanfaatkan ruangan darurat. Jumlah murid seluruhnya di sekolah itu sebanyak 157 orang. Sementara guru dan pegawai sebanyak 31 orang.

“Dari jumlah itu, hanya 5 orang guru berstatus ASN. Lainnya guru komite dan satu orang guru tenaga kontrak Provinsi NTT. Tentu ke depan kalau sudah ada lengkap semua bangunan gedung permanen di sekolah ini, pasti minat orang untuk sekolah disini semakin banyak. Saya juga minta kepada teman-teman guru untuk terus tingkatkan profesionalitas,” tutupnya. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top