Jaringan Induk Irigasi Wae Laku Tertimbun Longsor, Warga Minta Perhatian Pemerintah | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jaringan Induk Irigasi Wae Laku Tertimbun Longsor, Warga Minta Perhatian Pemerintah


LONGSOR. Salah satu titik longsoran dengan material batu dan tanah dari tebing runtuh dan menimbun bangunan saluran induk irigasi Wae Laku dekat bangunan bendungan. Tanah dititik ini ambrol akibat tergerus air hujan dan banjir. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Jaringan Induk Irigasi Wae Laku Tertimbun Longsor, Warga Minta Perhatian Pemerintah


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Sekira ratusan meter jaringan induk irigasi Wae Laku, di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), tertimbun material longsor. Akibatnya, aliran air pada saluran irigasi terhambat. Material longsor pun sulit disingkirkan secara manual.

Titik saluran irigasi yang tertimbun longsor itu, sekira 200 meter dari pintu Bendungan Wae Laku, Desa Compang Kantar, Kecamatan Rana Mese. Bencana longsor terjadi, saat wilayah itu diguyur hujan lebat. Material longsor dari tebing itu berupa tanah, batu, dan pohon turun menutupi salurang irigasi.

Selain itu, jalan menuju bangunan Bendungan Wae Laku yang mengapiti bangunan irigasi, juga amblas karena tergerus air hujan dan banjir kali Wae Laku. Bangunan irigasi pun terancam rusak, jika terjadi bencana longsor susulan.

“Kami sudah gotong royong untuk singkirkan material longsor di saluran irigasi, tapi mengalami kendala karena kubikasi material longsornya banyak,” ungkap warga Desa Golo Kantar, Kecamatan Borong, Blasius Gius, kepada TIMEXKUPANG.com di lokasi longsor, Senin (18/1) siang.

Menurut Gius, selain material tanah yang menutup saluran irigasi, juga material batu berukuran besar. Sehingga sulit untuk dievakuasi secara manual. Selain itu ada sejumlah batang pohon. Kata dia, material longsor yang ada harus disingkirkan dengan alat berat, seperti ekskavator.

Gius menuturkan, bangunan irigasi yang dibangun dengan dana APBN itu dikerjakan tahun 2018 lalu. Kontraktor pelaksananya adalah PT Floresco. Saluran irigasi bendungan ini menjadi pemasok air untuk ribuan hektar lahan sawah di empat desa, yakni Desa Bangka Kantar, Golo Kantar, dan Desa Nanga Labang di wilayah Kecamatan Borong, serta Desa Compang Kantar di Kecamatan Rana Mese.

“Kami minta pemerintah, khususnya pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) II NTT, untuk bisa turunkan alat berat ke lokasi longsor. Sehingga bisa singkirkan material longsor yang tutup saluran irigasi. Termasuk antisipasi jalan yang mengapiti bangunan irigasi. Karena kondisinya terancam rusak total, kalau saja terjadi ambrol dikemudian hari,” ungkap Gius.

BACA JUGA: Kades Bangka Kantar: Saluran Irigasi Wae Laku Mulai Diperbaiki

Hal yang sama dikemukakan warga Desa Bangka Kantar, Ito, Kladi, dan Pelipus. Kepada TIMEXKUPANG.com, ketiga menjelaskan, material longsor yang menutup saluran utama irigasi Wae Laku, tidak bisa dievakuasi secara manual. Kondisi di lokasi sangat membutuhkan alat berat. Jika tidak, bangunan irigasi dari pihak BWS, tidak berfungsi.

“Tanah dan batu ukuran besar, masuk dan tutup bangunan saluran irigasi. Tidak bisa disingkirkan secara manual. Kalau material longsor yang ada tidak dibersihkan, bangunan irigasi ini tidak berfungsi. Ribuan hektar lahan sawah dan kolam ikan milik petani, tentu terancam kering,” ungkap Ito diamini Kladi dan Pelipus.

Menurut Ito, peristiwa saluran irigasi Wae Laku itu tertimbun material tanah dan batu, saat wilayah Borong dan Rana Mese, diguyur hujan lebat. Mengakibatkan tebing tinggi sekira 75 meter sisi Timur bangunan saluran irigasi tertimpa material longsor. Akibatnya aliran air tersumbat. Petani saat ini sudah mulai cemas dengan peristiwa itu.

“Kami minta pihak berwenang, khususnya BWS, untuk merespon peritiwa longsor yang menutup saluran irigasi Wae Laku ini. Kalau saja tidak merespon, tujuan mereka bangun irigasi ini sia-sia dan tidak memberi manfaat bagi masyarakat alias mubazir,” bilang Ito.

Dia menambahkan, pemerintah tentu membangun bendungan dan jaringan irigasi yang ada, dalam rangka menjaga produktivitas pertanian yang berkelanjutan, demi terwujudnya ketahanan pangan nasional. Ekonomi masyarakat juga meningkat. Apalagi bendungan dan irigasi Wae Laku itu, dibiayai dengan nilai sekira Rp 40 miliar untuk tahap pertama tahun 2018.

“Tahun 2019 dan 2020, juga lanjut dengan nilai puluhan miliar. Tahun 2021 ini, kami lihat masih lanjut kerja proyeknya. Kami yakin irigasi ini dibangun, bukan sekadar untuk buang anggaran. Termasuk nanti atasi ambrolnya jalan menuju Bendungan Wae laku, yang mengapiti bangunan irigasi. Bahaya, bangunan irigasinya terancam rusak parah,” pungkasnya. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top