Pasien di Belu Meninggal setelah Ditolak 3 Rumah Sakit | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pasien di Belu Meninggal setelah Ditolak 3 Rumah Sakit


BERDUKA. Rumah duka almarhumah Juleha, 62, warga Kelurahan Sukabiren, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu yang meninggal setelah ditolak tiga rumah sakit di wilayah itu. (FOTO: JOHNI SIKI/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Pasien di Belu Meninggal setelah Ditolak 3 Rumah Sakit


ATAMBUA, TIMEXKUPANG.com-Juleha, 62, warga Kelurahan Sukabiren, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, menjadi korban akibat pandemi Covid-19. Perempuan paruh baya ini meninggal dunia, Minggu (17/1) setelah ditolak semua Rumah Sakit di Kota Atambua.

Jumarni, anak kandung almarhumah saat ditemui di rumah duka menuturkan peristiwa naas yang merenggut ibundanya membuat keluarga besar merasa terpukul dan kesal. Padahal ibunya sakit dengan diagnosa komplikasi malaria tua, maag atau lambung akut sebagaimana hasil pemeriksaan dokter sebelumnya.

Sayangnya pada Jumat (15/1), penyakit ibundanya kumat sehingga dibawa ke RSUD Atambua, RS Sito Husada, dan RS Tentara tetapi ditolak. Buntutnya kondisi kesehatannya menurut hingga akhirnya meninggal dunia.

“Semua rumah sakit tolak tidak terima pasien. Kami hanya di rumah, karena ibu lemas akhirnya meninggal,” kisah Jumarni, yang juga Wakil Manajer Jabalmart Atambua ini.

Terpisah, Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) NTT, Fahmi H. Abdullahi sangat menyayangkan sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu. Mestinya pemerintah bersikap tegas melindungi masyarakatnya di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

BACA JUGA: IGD RSUD Atambua Kembali Beroperasi setelah Sepekan Ditutup

Menurutnya, jika fasilitas kesehatan RS ditutup karena alasan pandemi Covid-19, tentunya sangat merugikan masyarakat. Sebab tidak semua pasien terjangkit Covid-19 sehingga harus ditolak karena alasan ditutup tidak menerima pasien.

“Kita sayangkan sikap pemerintah. Seharusnya tanggap darurat terhadap situasi pandemi karena jumlah kasus bertambah sehingga rumah sakit ditutup,” kata Fahmi dengan nada kesal.

Mantan Ketua HIPMI NTT ini menuturkan, pemerintah seharusnya jauh hari sudah siapkan lokasi penampungan yang layak, sebagai ruang isolasi pasien Covid-19. Sebab jumlah kasus terus bertambah.

“Sebagai keluarga almarhumah, kami prihatin. Meninggal itu takdir tapi yang disayangkan semua rumah sakit tolak. Kalau begini mau ada harapan hidup bagaimana lagi? Padahal keluarga saya sakit bukan karena Covid-19. Saya tidak bayangkan terhadap warga lain pasti juga alami hal yang sama,” ujar Fahmi.

Fahmi yang juga CEO Jabalmart Grup menuturkan, jika Pemda kesulitan, tentunya berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk bisa membantu, seperti dukungan alat pengaman diri APD), obat-obatan dan lokasi penampungan isolasi pasien sehingga masyarakat tidak kesulitan. Seperti yang terjadi saat ini, rumah sakit menutup pelayanan karena alasan kasus bertambah sedangkan ruang isolasi terbatas.

“Sebagai penyelenggara negara, (Pemerintah, Red) harus ambil sikap tanggap darurat ada bantuan provinsi. Jangan biarkan masyarakat dibiarkan dan mati di rumah,” tandasnya. (mg33)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top