Ayah Ditemukan Gantung Diri, Anak Bersimbah Darah di Ruang Tamu | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Ayah Ditemukan Gantung Diri, Anak Bersimbah Darah di Ruang Tamu


VISUM. Pihak kepolisian dan tim medis usai melakukan visum terhadap kedua korban, Yohanis Sabat dan Maria Sabat, Senin (18/1). (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Ayah Ditemukan Gantung Diri, Anak Bersimbah Darah di Ruang Tamu


Diduga Nyawa Anak Dihabisi Ayah Kandung, Pemicunya Masalah Rumah Tangga

SOE, TIMEXKUPANG.com-Kasus dugaan pembunuhan dan gantung diri kembali terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Peristiwa berdarah ini menghebohkan warga Desa Nunusunu, Kecamatan Kualin menyusul penemuan mayat ayah dan anak dalam kondisi mengenaskan. Sang ayah yang terindentifikasi bernama Yohanis Sabat, 50, ditemukan dalam posisi tergantung di pohon asam, sementara sang anak, Maria Sabat, 14, ditemukan di dalam ruang tamu dengan kondisi bersimbah darah.

Kejadian tersebut terjadi di rumah korban yang beralamat di Aisio, RT 12/RW 10, Desa Nunusunu, sekira pukul 06.00 Wita, Senin (18/1).

Kapolres TTS, AKBP Andre Librian melalui Kasat Reskrim Polres TTS, IPTU Hendrick Bahtera di Mapolres TTS, Selasa (19/1) mengatakan, sesuai hasil olah TKP, ditemukan pakaian yang diisi dalam karung dan sebagian lainnya berserakan.

Ditemukan juga jenazah Yohanis Sabat dengan posisi tergantung di ranting pohon asam, menggunakan seutas tali plastik sepanjang lebih kurang tiga meter.

“Salah satu ujung tali diikat di ranting pohon (simpul hidup) dan ujung yang lain di ikat pada leher korban (simpul hidup), dimana posisi korban tergantung sekitar 3,9 meter. Disampingnya tergantung tas samping berwarna coklat dan di dalam tas korban terdapat dua lembar surat (surat wasiat) dan sebilah pisau bergagang kayu yang masih ada di dalam sarung berwarna merah,” jelasnya.

Sementara di dalam rumah korban tepatnya di ruang tamu ditemukan jenazah perempuan dalam posisi telungkup dan rambut berserakan hingga menutupi kepala korban. Disekitar kepala tepatnya pada tikar terdapat tumpukan darah segar.

“Dari hasil pemeriksaan dokter terhadap korban Yohanis terdapat bekas tali pada leher korban, tidak ditemukan kekerasan pada seluruh tubuh korban sedangkan anak kandung Yohanis terdapat luka robek dibagian belakang telinga kanan dengan ukuran panjang 3,5cm, lebar 2cm dengan kedalaman 3cm. Tidak ditemukan adanya kekerasan pada tubuh korban,” urai Hendrick Bahtera.

Setelah dilakukan olah TKP dan pemeriksaan oleh dr. Leonard Evan Mella, disimpulkan bahwa korban Yohanis Sabat meninggal dunia karena kekurangan oksigen akibat tali yang melilit pada leher korban. Sementara korban Maria Sabat meninggal dunia karena kekurangan darah akibat luka robek pada belakang telinga kanan.

“Motif dari kasus ini diduga terkait dengan permasalahan keluarga korban. Korban Maria diduga meninggal akibat dibunuh oleh ayahnya sendiri, lalu ayahnya nekad gantung diri,” bebernya.

Hendrick Bahtera menyebutkan, berdasarkan keterangan saksi Yosina Seo yang juga istri Yohanis, bahwa dirinya tidak berada di rumah sejak tanggal 4 Februari 2019. Yosina, kata Hendrick, mengaku sering mendapat penganiayaan dan ancaman menggunakan sebilah parang dan pisau oleh suaminya.

Selama tidak berada di rumah, ibu dari tujuh orang anak itu tinggal bersama Nius Seo di Desa Toineke, sedangkan Yohanis tinggal bersama anak kesayangannya Maria Sabat.

Yosina baru mengetahui kejadian tersebut sekitar pukul 09.00 Wita melalui salah satu anaknya Ardi Sabat bahwa suami dan anak kelimanya ditemukan meninggal.

Menurut keterangan saksi bahwa suaminya mengalami gangguan jiwa sehingga sifatnya sering berubah-ubah. Tidak hanya istrinya yang mendapat penganiayaan namun juga dialami oleh anak-anaknya.

Hardimas Sabat, 17, mengaku ayahnya sering mengomsumsi menuman keras dan selalu menganiaya anggota keluarga. Tak tahan dengan perlakuan ayahnya itu, ibunya terpaksa meninggalkan rumah dengan membawa dua orangnya yakni Fina dan Marsel Sabat, sementara beberapa kakanya sudah berkeluarga.

“Kami yang lain sudah keluar tinggal dengan kaka dan keluarga yang lain tapi Maria ini masih tinggal dengan bapak karena dia anak kesayangan bapak. Saya baru dua kali pulang rumah tapi tidak dapat laporan apa-apa dari Maria,” tuturnya.

Frengky Sabat, 25, juga mengaku bahwa kedua orang tuanya itu sudah pisah ranjang sejak Februari 2019 akibat masalah rumah tangga.

Ia baru mengetahui ayah dan adiknya meninggal sekitar pukul 07.00 Wita pada saat itu dirinya sedang membersihkan kebun. Ia diberitahu oleh Nifar Sole. Ketika mendapat kabar tersebut ia kemudian bergegas ke TKP dan mendapati ayahnya dalam posisi tergantung di atas pohon asam dan adiknya meninggal di dalam rumah. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top