Fakta Ini Terungkap Saat Rekonstruksi Kasus Pelecehan di Rujab Bupati TTU | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Fakta Ini Terungkap Saat Rekonstruksi Kasus Pelecehan di Rujab Bupati TTU


TERTUTUP. Tampak Kasat Reskrim Polres TTU, AKP Sujud Alif Yulamlam saat melakukan upaya untuk membuka pintu pagar masuk ke Rujab Bupati TTU guna melakukan rekonstruksi terhadap kasus dugaan tindak pidana penganiayaan dan pelecehan seksual terhadap BWA oleh pelaku Le Ray, Selasa (19/1). (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Fakta Ini Terungkap Saat Rekonstruksi Kasus Pelecehan di Rujab Bupati TTU


Penganiayaan dan Pemerkosaan terhadap BWA oleh Tersangka Le Ray

KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Tim Penyidik Satreskrim Polres Timor Tengah Utara (TTU) menguak fakta baru dalam kasus dugaan tindak pidana penganiyaan dan pelecehan seksual terhadap BWA yang dilakukan oleh Le Ray beberapa waktu lalu di rumah jabatan Bupati TTU dan kebun milik Raymundus Sau Fernandes.

Fakta baru itu ditemukan penyidik saat proses rekonstruksi yang berlangsung Selasa (19/1). Dalam rekonstruksi itu terkuak bahwa pelaku Ley Ray telah melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap korban. Padahal ketika memberi keterangan kepada penyidik, Le Ray menyatakan tidak melakukan tindakan pelecehan seksual. Fakta dalam rekonstruksi itu bersesuaian dengan keterangan korban saat melapor ke polisi.

Pantauan langsung Timor Express, Selasa (19/1), kegiatan rekonstruksi yang menghadirkan pelaku Le Ray itu dipimpin langsung Kasat Reskrim Polres TTU, AKP Sujud Alif Yulamlam. Hadir saat itu korban BWA bersama LSM yang mendampingi dan keluarga.

Rekontruksi berlangsung ditiga lokasi berbeda, yakni di rumah kontrakan Frids, pengelola akun Suluh Desa yang terletak di sekitaran Pasar Baru Kefamenanu, Kelurahan Benpasi, lalu Rujab Bupati TTU, serta kebun pepaya milik Raymundus Sau Fernandes yang terletak di Naen, Kelurahan Tubuhue.

Proses rekonstruksi yang digelar secara tertutup itu berjalan lancar tanpa ada hambatan berarti meski sempat menyedot perhatian warga yang melintasi jalur tersebut.

Usai rekonstruksi di TKP I tersebut, tersangka dan korban serta pendamping langsung dibawa ke Rujab Bupati TTU sebagai TKP II.

Sesampainya di depan rujab, tampak gerbang depan tertutup rapat. Setelah dilakukan koordinasi beberapa saat, pintu gerbang tersebut akhirnya dibuka oleh anggota Satpol PP yang berjaga.

Proses rekonstruksi yang awalnya berjalan tenang tiba-tiba memanas lantaran gerbang samping kiri untuk masuk ke dalam rumah jabatan Bupati TTU terkunci rapat.

Petugas Satpol PP yang berjaga saat ditanyai keberadaan kunci gerbang tersebut mengaku dipegang oleh Bagian Umum Setda TTU. Keluarga korban yang mengetahui hal tersebut sempat marah-marah dan mengeluarkan suara protes yang cukup keras.

Upaya koordinasi yang dilakukan pihak Polres TTU agar bisa mendapat kunci gerbang tersebut pun tidak membuahkan hasil. Setelah hampir setengah jam menunggu, Polres TTU langsung membawa korban dan tersangka ke kebun pepaya milik Bupati Raymundus yang merupakan TKP ke III. Sesampainya di TKP, proses rekonstruksi pun berjalan aman dan lancar.

Polisi hanya mengizinkan korban didampingi oleh pendamping dari Yayasan Amnaut Bife Kuan (YABIKU) NTT untuk ikut bersama tersangka menggelar rekonstruksi kejadian. Sementara keluarga korban dan warga tidak diizinkan sama sekali untuk mendekat.

Usai rekonstruksi di lokasi ketiga, polisi pun kembali membawa korban dan tersangka ke Rujab Bupati TTU yang merupakan TKP ke II.

BACA JUGA: Polres TTU Resmi Tetapkan Le Ray sebagai Tersangka

Sesampainya di rujab Bupati, gerbang samping pun masih terkunci. Setelah beberapa saat berkoordinasi, akhirnya pintu samping kanan pun bisa dibuka, sehingga polisi bisa masuk melakukan rekonstruksi kasus di salah satu kamar tidur yang menjadi tempat kasus kriminal terjadi.

Akhirnya tim penyidik berhasil melakukan rekonstruksi dari TKP pertama hingga TKP terakhir dengan runut dan mendapatkan fakta baru di TKP II.

Direktris Yayasan Amnaut Bife Kuan (YABIKU) NTT, Maria Filiana Tahu kepada Timor Express, Selasa (19/1) mengatakan, pada dasarnya seluruh proses rekonstruksi yang diperagakan pada tiga TKP tersebut sesuai dengan keterangan korban.

Meski di TKP kebun pepaya dan rujab, tersangka sempat mengelak beberapa fakta yang terjadi namun akhirnya mengakui. Pengakuan tersebut setelah ditegaskan korban dan ditanya berkali-kali oleh penyidik.

“Awalnya dia (Tersangka Le Ray, Red) tidak mau mengakui menusuk gagang sapu di kemaluan korban, tapi setelah direka ulang akhirnya dia mengakui perbuatannya itu,” kata Maria.

Maria menambahkan, seharusnya pihak Kepolisian memasang garis polisi atau police line di tiga TKP tersebut sehingga tidak menghilangkan barang bukti atau merubah bentuk sejumlah alat bukti yang digunakan oleh tersangka saat menganiaya dan melakukan pelecehan seksual terhadap korban.

“Yang saya sesalkan itu kehilangan alat bukti, pakaian korban yang waktu itu dirobek oleh tersangka sama sekali tidak ada lagi, itu di antaranya kemeja dan pakaian dalam. Saya melihat itu tidak ada karena lokasi kejadian itu tidak dipasang police line,” tukasnya.

Atas beberapa fakta baru dalam rekonstruksi tersebut, kata Maria, secara nyata menunjukkan jika tidak hanya terjadi penganiayaan, namun juga pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Karena itu, Maria meminta kepada pihak Kepolisian Resort TTU untuk tidak hanya menerapkan pasal penganiayaan, namun juga pasal pelecehan seksual dan pemerkosaan. “Jangan terapkan pasal tunggal saja untuk pelaku, namun seharusnya pasal berlapis,” tegasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres TTU, AKP Sujud Alif Yulamlam ketika dikonfirmasi Timor Express melalui telepon selulernya, Selasa (19/1) membenarkan adanya pelaksanaan rekonstruksi kasus dugaan penganiayaan dan pelecehan seksual terhadap korban BWA oleh pelaku Le Ray di tiga TKP tersebut.

Dikatakan, proses rekonstruksi tersebut atas permintaan pihak keluarga korban yang menilai adanya beberapa fakta yang tidak diakui pelaku, sehingga untuk mengungkap fakta tersebut perlu adanya rekonstruksi.

“Selama ini kita sudah minta mau rekonstruksi tetapi korban belum bersedia karena rekonstruksi ini harus digelar dengan korban dalam keadaan sehat sehingga kita baru lakukan rekonstruksi karena korban sudah sehat,” jelasnya. (mg26)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top