Kecam Penolakan Hasil Diagnosa, IDI TTS Keluarkan 8 Pernyataan Sikap | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kecam Penolakan Hasil Diagnosa, IDI TTS Keluarkan 8 Pernyataan Sikap


ILUSTRASI. Ikatan Dokter Indonesia. (ISTIMEWA/twitter)

KABAR FLOBAMORATA

Kecam Penolakan Hasil Diagnosa, IDI TTS Keluarkan 8 Pernyataan Sikap


SOE, TIMEXKUPANG.com-Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Timor Tengah Selatan (TTS) mengecam tindakan masyarakat yang menolak dan menuduh tenaga kesehatan (Nakes) meng-covid-kan pasien.

IDI TTS juga mendesak kepada pemerintah dan aparat penegak hukum untuk senantiasa memberikan perlindungan, keselamatan, dan kesehatan kerja, moral serta kesusilaan, perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia kepada seluruh tenaga kesehatan tanpa terkecuali selama menjalankan tugas kemanusiaan. Kepada aparat penegak hukum, diminta untuk menindak tegas oknum warga yang melakukan penolakan terhadap prosedur-prosedur protokol kesehatan.

“Kami organisasi profesi IDI Cabang Kabupaten TTS yang terlibat dalam penatalaksanaan pasien dalam kondisi wabah covid-19 pertama-tama mengucapkan turut berdukacita atas wafatnya beberapa pasien kasus probable atau terkonfirmasi covid-19,” ujar Ketua IDI TTS, dr. Hardiman Luat P. Sitorus.

Dikatakan penyataan sikap tersebut dibuat agar tidak ada paradigma negatif tentang rumah sakit dan nakes yang bertugas serta menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Masyarakat sebenarnya bisa mendukung untuk memutus rantai penularan di wilayah TTS, bukan menolak hasil diagnosa karena hasil itu keluar berdasarkan tahapan pemeriksaannya,” ungkapnya.

Menyikapi tindakan masyarakat itu, IDI Cabang TTS menyampaikan delapan poin pernyataan sikap, diantaranya:

1. Kami mengecam keras atas respon penolakan dari oknum masyarakat yang tidak menerima jika terdiagnosa Kasus Suspeki Probable covid-19 sesuai prosedur,

2. Kami tegaskan bahwa pasien yang meninggal dunia terdiagnosa Covid-19 maupun suspect Covid-19 (Probable) harus dilakukan perawatan dan pemulasaran jenazah sesui dengan prosedur-prosedur yang telah ditentukan. Jadi tidak beralasan untuk menolak dan memberikan stigma negatif yang berlebihan terhadap jenazah.

3. Penegakan diagnosa Kasus suspek/probable Covid-19 itu bukan hanya semata-mata dari hasil rapid antibodi dan rapid/swab antigen saja. Diagnosa itu ditegakkan dengan melihat kondisi/tampilan klinis pasien, riwayat penyakitnya, foto rontgen parunya, hasil-hasil aboratortum penunjang larnnya. Kemudian baru diagnosa terkonfirmasi Covid-19-nya didapatkan dari hasil swab PCR (gold standarnya).

4. Semua orang yang menunjukkan gejala-gejala ringan/sedang/bahkan berat, walaupun hasil rapid/swab antigen negatif, maka harus dilanjutkan dengan pemeriksaan swab PCR untuk menentukan apakah betul terinfeksi Covid-19 atau tidak.

5. Perlu diketahui bersama, bahwa masih ada kemungkinan 37 persen hasil pemeriksan swab PCR jalse negative (negatif palsu), bisa dikarenakan cara pengambilannya yang kurang tepat, atau bisa juga karena kondisi pasien gelisah tidak kooperatif misalkan karena pasien dalam kondisi sesak napas berat, dan ada kemungkinan-kemungkinan lainnya yang bisa mempengaruhi hasilnya. Oleh karena itu, dokter akan tetap melihat kondisi/tampilan klinis pasien beserta hasil-hasil laboratorium/radiologi lainnya, apabila mencurigakan pasti akan dilakukan pemeriksaan swab PCR ulangan apabila kondisi pasien memungkinkan.

6. Sesuai pedoman pengendalian dan penanganan Covid-19 dari Kemenkes, bahwa perlakuan kita terhadap jenazah kasus suspek/probable Covid-19 adalah sama seperti perlakuan terhadap jenazah kasus terkonfirmasi Covid-19 (kasus positif dari swab PCR). Tujuannya adalah untuk melindungi keluarga dan masyarakat yang datang melayat dari paparan wabah virus yang kemungkinan besar ada di jenazah tersebut.

7. Demikian juga dengan pasien-pasien yang berdasarkan pemeriksaan klinis, pemeriksaan penunjang (Laboratorium dan Radiologi) dinyatakan sebagai Kasus suspek/probahle Covid-19 harus segera dipisahkan tempat perawatannya dari pasien yang lain. Tujuannya adalah supaya bisa mencegah transmisi/penularan virus SARS-Cov 2 ke pasien/orang lain di sekitarnya. Oleh karena itu mereka harus dirawat di ruang isolasi Covid-19 yang sudah disiapkan sesuai standar.

8. Di akhir penjelasan panjang di atas, kami dokter-dokter yang tergabung dalam IDI Cabang TS menyatakan bahwa, KAMI NAKES TIDAK PERNAH “MENG-COVID-KAN PASIEN”. Karena kami sudah disumpah dan berjanji akan memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat TTS sesuai kemampuan dan bidang keilmuan kami masing-masing.

“Kami memastikan seluruh masyarakat telah diberikan layanan Kesehatan berdasarkan kode etik, sumpah profesi dan standar yang profesi yang tertanam sejak menjadi seorang tenaga kesehatan dengan semangat jiwa nasionalisme yang tinggi, tulus ikhlas, mengutamakan kepentingan pasien dan kepentingan kemanusiaan di atas kepentingan pribadinya,” pungkas dr. Hardiman. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top