Isoman di Rumah Picu Klaster Covid-19 Keluarga di Surabaya | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Isoman di Rumah Picu Klaster Covid-19 Keluarga di Surabaya


PENGINGAT DISIPLIN. Papan update kasus Covid-19 dipasang di frontage road Ahmad Yani sekitar bundaran Cito, Surabaya, kemarin (24/1). Papan ini didirikan Satlantas Porestabes Surabaya untuk mengingatkan masyarakat tertib dan disiplin dalam menegakkan protokol kesehatan. (FOTO: Dimas Maulana/Jawa Pos)

NASIONAL

Isoman di Rumah Picu Klaster Covid-19 Keluarga di Surabaya


Karena tidak Ada Pengawasan

SURABAYA, TIMEXKUPANG.com-Jumlah pasien Covid-19 di Surabaya terus bertambah. Dari data pemkot setempat, lonjakan kasus itu ditemukan pada klaster keluarga. Warga yang terpapar enggan melakukan isolasi di tempat yang sudah disediakan.

Temuan pemkot itu berasal dari hasil analisis data tracing. Deteksi warga yang terpapar virus korona dimulai pada 10 Januari hingga 17 Januari. Pemkot mengambil sampel 150 orang yang terinfeksi Covid-19.

Dari hasil evaluasi itu, mayoritas warga terinfeksi Covid-19 dari kontak erat keluarga. Persentasenya mencapai 28 persen. Urutan kedua adalah warga yang memiliki penyakit komorbid. Data yang didapatkan mencapai 24,7 persen. Posisi ketiga ditempati warga yang bepergian dari luar kota sebanyak 14,7 persen.

Selanjutnya, tertular dari tempat kerja. Persentasenya mencapai 12,7 persen. Disusul warga yang berkerumun. Jumlahnya mencapai 10 persen. Nah, warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 itu selanjutnya menjalani isolasi. Namun, tidak seluruhnya melakukan isolasi di rumah sakit dan tempat yang ditetapkan pemkot. Justru banyak yang memilih beristirahat di rumah.

Wakil Sekretaris Satgas Percepatan Penanganan Covid-19, Irvan Widyanto menjelaskan, isolasi di rumah memang diperbolehkan. Warga berhak memilih beristirahat di rumah jika dipandang lebih nyaman.

Namun, hunian yang dijadikan tempat isolasi harus memiliki sejumlah persyaratan. Contohnya, rumah harus luas dan layak untuk menghindari kontak langsung dengan warga yang terpapar. Kamar isolasi harus terpisah dengan penghuni lain. Termasuk peralatan makan, mandi, serta pakaian harus dipisahkan.

Menurut Irvan, banyak yang belum memahami bahwa virus korona bisa cepat menyerang. Ketika tubuh tidak fit, penyakit asal Tiongkok itu menginfeksi. ’’Temuan itu yang terlihat ketika warga menjalani isolasi mandiri,’’ terangnya.

Pasien yang menjalani isolasi mandiri beraktivitas biasa di rumah. Berkomunikasi tanpa jarak. Alhasil, dalam waktu singkat, satu keluarga tertular. ’’Karena tidak ada pengawasan,’’ paparnya.

Melihat itu, pemkot mengeluarkan imbauan. Warga yang terkena virus korona sebaiknya tidak melakukan isolasi mandiri (Isoman). Namun, perawatan dilakukan di tempat yang ditetapkan. Misalnya, rumah sakit dan Hotel Asrama Haji (HAH).

Irvan menjelaskan, kapasitas di HAH sejatinya sangat mencukupi. Jumlah kamar yang disediakan lebih dari 1.000 unit. Itu tersebar di tiga gedung. Saat ini warga yang menjalani isolasi di tempat tersebut hanya 304 orang.

Perawatan pasien korona di HAH juga terbukti manjur. Sejak Covid-19 merebak di Kota Pahlawan, HAH menampung total 10.966 pasien. Sebanyak 10.662 orang sudah dinyatakan sembuh. Mereka diperbolehkan kembali pulang.

Yang tidak kalah penting adalah langkah preventif. Yakni, meminta satgas Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo melakukan tracing kepada warga yang baru tiba dari luar kota. Selain itu, setiap kantor harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Kabag Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara menjelaskan kunci penanganan korona di HAH. Mengapa tempat itu mampu menyembuhkan ribuan pasien? Sebab, petugas memperhatikan kesehatan pasien. Pemantauan dilakukan 24 jam. Dengan demikian, penanganan berjalan dengan cepat. ’’Petugas bergantian memantau kondisi pasien. Pagi, siang, dan malam,’’ ucapnya.

Ketika ada pasien yang mengalami gangguan kesehatan, petugas langsung turun. Di tempat itu, asupan makanan pasien diperhatikan. Mereka diberi makanan yang bergizi tinggi. Ditambah vitamin. ’’Setiap pagi pasien diajak berolahraga. Sehingga meningkatkan imunitas tubuh,’’ jelasnya.

Motivasi juga diberikan. Petugas terus memberikan perhatian serta semangat. Harapannya, pasien segera sembuh. (aph/c6/git/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top