Longsor di Bantaran Kali Liliba Renggut Nyawa Pasutri, Pemkot Evakuasi 146 Jiwa | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Longsor di Bantaran Kali Liliba Renggut Nyawa Pasutri, Pemkot Evakuasi 146 Jiwa


TANAH LONGSOR. Tampak rumah warga di RT 16 Kelurahan TDM rusak dihantam batu besar akibat tanah longsor, Senin (25/1) dinihari tadi. (FOTO: IMRAN LIARIAN/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Longsor di Bantaran Kali Liliba Renggut Nyawa Pasutri, Pemkot Evakuasi 146 Jiwa


Evakuasi Ke Halaman Gereja St. Petrus Rasul TDM

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Bencana alam tanah longsor di Kota Kupang menelan korban jiwa sepasang suami istri (Pasutri) yang selama ini bermukim di bantaran kali Liliba, tepatnya di wilayah RT 16/RW 04, Kelurahan Tuak Daun Merah, Kecamatan Oebobo, Senin (25/1) dinihari. Pasutri yang menjadi korban itu adalah Paulus Takela, 35, dan Welmince Lakapu, 28. Kedua korban baru menikah pada 22 Oktober 2020 lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, Senin (25/1), pasutri itu menempati sebuah rumah kontrakan di bantaran Kali Liliba.

Rumah kontrakan itu dihuni 4 jiwa, termasuk dua korban tewas. Saat kejadian dua orang lainnya berhasil selamat. Korban tewas akibat terlindas batu yang turun dari halaman belakang rumah warga Paulus Kollo yang berada pada posisi ketinggian. Atap rumah korban dan dinding rumah hancur akibat hantaman batu. Kedua jenazah korban pun telah dibawa ke RS Leona.

Margaretha, salah satu warga yang tinggal berdekatan dengan rumah korban, saat ditemui di lokasi kejadian mengaku saat kejadian sekira pukul 05.00 Wita, ia sedang tertidur lelap. “Saya kaget bangun ketika mendengar suara warga sekitar yang berteriak,” katanya.

Hal senada disampaikan Marince Ndun, 42, yang rumahnya bertetangga dengan korban. Ia mengisahkan bahwa saat kejadian kondisi cuaca lagi turun hujan.

“Saya dengar seperti ada banjir, tapi setelah saya keluar rumah dan lihat ternyata itu bukan banjir. Saya lihat rumah korban sudah roboh akibat hantaman batu,” jelasnya.

Warga lainnya, Martin Tibo, 26, mengaku bahwa saat kejadian ia masih dalam tertidur lelap. Dirinya mengetahui adanya tanah longsor ketika ada teriakan warga yang sudah ramai menuju ke lokasi.

“Kami ada 8 orang yang bantu angkat korban atas nama Paulus Takela, dari rumahnya. Kami sempat kewalahan karena kondisi jalan mendaki,” sebutnya.

Terdapat sejumlah luka-luka disekujur tubuh badan korban, kaki korban kemungkinan besar patah akibat hantaman batu besar. “Kedua korban baru menikah tiga bulan lalu dan belum punya anak. Almarhum Paulus bekerja sebagai supir pada Toko Sinar Bangunan. Kami kenal betul almarhum sangat baik dan mudah bergaul. Kalau ada kegiatan apa-apa seperti kerja bakti atau kegiatan lainnya korban selalu hadir bersama warga untuk membantu. Almarhum juga memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi,” ungkapnya.

Pasutri korban longsor di Kelurahan TDM, Paulus Takela dan Welmince Lakapu. (FOTO: ISTIMEWA)

Ketua RT 16/RW 4, Kelurahan TDM, Paskalis Dora, menjelaskan, wilayahnya dihuni 30 kepala keluarga (KK) dengan 146 jiwa. Khusus untuk warga yang mendiami area pinggiran kali sebanyak 22 KK atau 63 jiwa termasuk dua orang korban.

“Kedua korban meninggal akibat tanah longsor yang turun disertai dengan batu berukuran besar yang melindas kedua korban dengan status pasangan suami istri sah,” jelasnya.

Lokasi yang ditempati warga di area tebing pinggiran kali Liliba merupakan area rawan longsor. Setiap tahun memasuki musim penghujan, ia mengaku tidak pernah bosan-bosan untuk mengimbau warga agar selalu waspada, apalagi ketika curah hujan yang turun dengan intensitas lebat karena rawan longsor.

Dari kejadian ini, lanjutannya, telah membangun komunikasi dengan pihak Gereja St. Petrus Rasul-TDM, agar menggunakan sementara halaman gereja untuk ditempati sementara oleh warga terdampak longsor.

“Hujan yang masih terus turun ini sangat rawan terjadi longsor susulan sehingga warga yang tinggal di bantaran kali dievakuasi sementara di halaman Gereja St. Petrus Rasul,” sebut Ketua RT 16, Paskalis seraya mengucapkan terima kasih kepada Romo dan pihak gereja yang sudah mengizinkan halaman gereja dipakai sementara oleh warga.

Lurah TDM, Imanuel E. Uly, menyatakan, terkait musibah ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPBD Kota Kupang, Dinas Sosial Kota Kupang dan Kepolisian Polres Kupang Kota untuk melakukan evakuasi semua warga guna menempati halaman Gereja St. Petrus Rasul Kelurahan TDM.

“Semua warga berjumlah 30 KK dengan 146 jiwa kita sudah evakuasi sementara ke halaman Gereja St. Petrus Rasul TDM. Mengingat sewaktu-waktu akan terjadi longsor susulan sehingga kita cegah terjadinya korban,” katanya.

Terpantau, sejumlah warga sementara menempati tenda-tenda darurat milik BNPB. Pemasangan tenda darurat ini dibantu Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Kupang Dinas Sosial Kota Kupang dibantu aparat Polres Kupang Kota dan Babinsa.

Dalam kesempatan itu hadir di halaman Gereja St. Petrus Rasul, yakni Asisten II Pemerintah Kota Kupang, Ely Wairata, Kadis Sosial Kota Kupang, Lodowyk Djungu Lape, Kepala BPBD Kota Kupang, Jemy Didok, Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P.T., Binti, SIK, Kapolsek Oebobo, AKP Magdalena Gollu Mere, SH. (mg22)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top