Jalan Watu Cie-Deno Terancam Putus, Ini Harapan Warga | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jalan Watu Cie-Deno Terancam Putus, Ini Harapan Warga


AMBLAS. Ruas Jalan Watu Cie-Deno, di Desa Lento, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Matim terancam putus karena salah satu sisinya amblas akibat longsor. Kondisi ini butuh penanganan segara oleh pemerintah. Gambar diabadikan Kamis (28/1). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Jalan Watu Cie-Deno Terancam Putus, Ini Harapan Warga


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Ruas Jalan Watu Cie-Deno, di Desa Lento, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), terancam putus. Hal ini diakibatkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi di wilayah itu juga faktor struktur tanah yang mudah terjadi longsor.

Sebagaimana terpantau media ini Kamis (28/1), sekira 1,5 meter badan jalan sisi kiri dari arah Watu Cie, mengalami longsor. Termasuk bahu jalan yang lebarnya sekira 3 meter, ikut tergerus. Akibatnya badan jalan dengan lebar sekira 3 meter itu kini tersisa hanya 1,5 meter. Hanya cukup dilalui satu kendaraan roda empat.

Karena itu, para pelintas di jalur ini harus ekstra hati-hati. Saat melintas, kendaraan harus mengantri. Kendaraan bermuatan berat, sebaiknya memilih jalur alternatif lain. Karena dikhwatirkan semakin memperparah kondisi jalan itu yang terancam amblas seluruhnya. Jika kondisi jalan itu semakin parah, ditambah dengan hujan yang terus mengguyur, maka bisa saja jalan itu putus total.

Ternyata kondisi ini juga ditemukan pada beberapa titik pada ruas jalan yang sama. Pada beberapa titik, sebagian badan jalan ada yang tertutup material longsor berupa bongkahan tanah dan batu dari tebing sisi kiri maupun kanan jalan. Di sejumlah titik, bangunan jalannya sudah rusak dan butuh perbaikan.

“Peristiwa badan jalan tergerus longsor ini sudah terjadi awal Januari 2021. Setelah wilayah ini diguyur hujan sejak akhir Desember 2020,” ungkap warga Desa Lento, Marselinus dan Yanto Nari, saat ditemui TIMEXKUPANG.com di desa setempat, Kamis (28/1) petang.

Menurut Marselinus, akibat hujan dengan intensitas tinggi, selain badan jalan tergerus longsor, juga kondisi bangunan jalan di jalur Watu Cie-Deno, banyak yang rusak. Penyebabnya, selain karena tertimbun material batu dan tanah longsor yang menutup jalan, juga karena air hujan mengalir di badan jalan akibat tidak adanya bangunan drainase.

“Kalau terkait badan jalan itu rusak tergerus longsor, itu karena kondisi tanah labil. Termasuk material longsor dari tebing yang menutup bahu dan badan jalan di sejumlah titik. Tapi kondisi permukaan aspal yang rusak di sejumlah titik, termasuk bahu jalan rusak, itu disebabkan air hujan mengalir di jalan karena tidak ada bangunan drainase,” kata Marselinus diamini Yanto.

BACA JUGA: Bangun Jalan dan Sarana AMB, Pemkab Matim Pinjam Rp 150 Miliar ke PT. SMI

BACA JUGA: Warga Matim Keluhkan Jalan Negara yang Sering Tergenang Air

Warga lain, Ivan Gagut, mengatakan kondisi karena hujan terus menguyur wilayah itu dan tanah labil, membuat sejumlah titik pada ruas jalan Watu Cie-Deno, terjadi longsor. Termasuk titik dimana badan jalan teracam putus karena tergerus longsor. Ivan pun meminta para pengguna jalan, khususnya kendaraan yang melintas jalur itu untuk berhati-hati.

“Saya minta bagi yang melintas di ruas jalan ini, harap untuk selalu hati-hati. Karena ada sejumlah lokasi sering terjadi longsor. Kadang ada material dari dinding tebing sisi kiri-kanan yang jatuh ke badan jalan, juga bahu dan badan jalan amblas tergerus longsor,” beber Ivan.

Kata dia jalur setiap hari ramai untuk lalu lintas kendaraan. Termasuk angkutan penumpang yang hendak pergi pulang ke pusat kecamatan, kota kabupaten, ibu kota Kabupaten Manggarai, dan sejumlah wilayah desa di Kecamatan Poco Ranaka.

Ivan berharap, ada penanganan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Matim, untuk lokasi badan yang jalan terancam putus karena tergerus longsor.

“Kita berharap ada penanganan cepat dari pemerintah di lokasi yang badan jalannya sudah rusak karena longsor. Supaya tidak terjadi putus totol akses di jalur ini. Mungkin dilakukan pelebaran pada satu sisi, biar kondisi jalan tidak sempit. Juga saat cuaca bersahabat, dipasang bronjong. Biar tidak terjadi longsor susulan,” saran Ivan.

Ivan menambahkan, jika ke depan pada ruas jalan itu diintervensi program pembangunan jalan, sebaiknya dibangun lengkap dengan saluran drainase. Biar saat hujan, pada badan jalan itu tidak tampak seperti air yang mengalir di kali. Sebab konstruksi badan jalan di ruas jalan itu, banyak dengan kondisi rusak karena air hujan mengalir bebas di jalan.

“Sehebat apa pun kontraktor dengan mempertahankan kualitas pekerjaanya, sama dengan bohong kalau dalam perencanaan paket pekerjaan, tidak lengkap dengan saluran drainase. Itu mau aspal dan hotmix, pasti tidak lama rusak kalau air hujan megalir terus di badan jalan. Harapan kami masyarakat, ke depan bangun jalan itu, harus lengkap dengan drainase,” pintanya. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top