Lahan Kritis Disulap Jadi Kebun Produktif, Kini Hasilnya Menjanjikan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Lahan Kritis Disulap Jadi Kebun Produktif, Kini Hasilnya Menjanjikan


BUAH KERJA KERAS. Tanaman buah naga yang tumbuh subur di atas lahan kritis, di Desa Kolobolon, Kecamatan Lobalain, Rote Ndao. Ini merupakan buah dari kerja keras kelompok tani kebun produktif Modokpedak. (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Lahan Kritis Disulap Jadi Kebun Produktif, Kini Hasilnya Menjanjikan


Buah Naga ‘Modopedak’ Desa Kolobolon Hasilkan Ratusan Juta

BA’A, TIMEXKUPANG.com-Buah Naga, yang dihasilkan dari Desa Kolobolon, Kecamatan Lobalain, saat ini semakin dikenal luas di Kabupaten Rote Ndao. Padahal, sebelumnya sangat diragukan, karena ditanam di atas lahan kritis, tapi bakal menghasilkan ratusan juta tahun ini.

Upaya ini bermula dari kesepakatan beberapa warga Desa Kolobolon Kecamatan Lobalain, untuk mulai menanam tananam buah naga. Saat itu, motivasinya tidak terlalu berlebihan, karena mereka hanyalah petani biasa. Akses informasi yang mereka miliki pun terbatas.

Jumlah anggota disaat terbentuk tahun 2015 silam, tak terlalu banyak. Awal terbentuk hanya berjumlah 12 orang. Mereka kemudian menggarap lahan seluas 40 are atau 0,4 hektare. Lahan inipun kondisinya sangat kritis, berbatu, kering, serta di daerah berbukit.

Sebanyak 68 pohon buah naga, jenis ‘Hylocereus Polyrhizus’ mulai ditanam di tahun pertama usaha mereka. Dengan jarak tanam 2,5 meter yang dibuat berjejer, kemudian setiap jejer berjarak 3 meter dengan jejeran lainnya.

Pada tiap jejeran yang berjarak 3 meter itu, kelompok tani ini mengolahnya lagi menjadi bedeng-bedeng untuk menanam tanaman sayur. Jumlahnya 15 bedeng. Boleh dikata apa yang dilakukan kelompok tani ini luar biasa ulet dan tekun. Pasalnya tanah yang mereka olah itu penuh bebatuan.

Jenis sayuran yang ditanam bervariasi. Tomat, terung, kangkung, juga cabai. Sayur-sayuran ini tumbuh subur di atas lahan yang dulunya hanya ditumbuhi tumbuhan liar atau tananam tidak produktif. Begitu juga pepaya California, yang ditanam sebanyak 78 pohon.

Namun, baru setengah perjalanan di tahun pertama, 7 dari 12 anggota mulai mundur. Otomatis, hanya tersisa 5 anggota lainnya yang terus melanjutkan perawatan terhadap tanaman yang mulai tumbuh itu.

“Baru berjalan enam bulan, 7 anggota mundur. Alasanya, mereka ragu untuk menanam di atas lahan kritis,” kata pendamping pengembang, Watson Sodi Mbui, saat diwawancarai Timor Express, pertelepon Kamis (28/1).

Dengan mundurnya beberapa anggota tersebut, merupakan pukulan tersendiri bagi anggota yang masih bertahan. Walau demikian, tak ada pilihan lain, selain tetap melanjutkan aktifitas yang sudah dirintis bersama.

Seiring berjalannya waktu, buah dari kerja keras lima anggota tersisa, akhirnya membuahkan hasil. Setahun kemudian pasca terbentuk kelompok ini, tanaman pepaya yang ditanam menghasilkan buah yang sangat banyak. Sayangnya, hasil tersebut tidak sampai dipasarkan.

“Mereka gagal pasar untuk hasil buah papaya. Maklum, baru pertama sehingga belum terlalu paham untuk memasarkan,” kata Sodi Mbuik.

Setelah gagal memasarkan buah pepaya, buah Naga mulai membangkitkan semangat mereka yang mulai patah arang. Dari 68 pohon buah naga, diperoleh hasil perdana senilai Rp 3.200.000. Hasil atau pendapatan ini didapat melalui penjualan buah naga. Mereka menjual dengan harga Rp 30.000 per kilogram.

“Rata-rata, satu kilogram ada 3 sampai 4 buah. Ada juga yang lima buah. Per kilogram Rp 30.000,” kata Loisa Zacharya, Ketua Kelompok Kebun Produktif ‘Modokpedak’ kepada Timor Express.

Penghasilan khusus buah naga, sebut Loisa, terus meningkat. Bagi mereka, ini menjadi pelecut semangat bagi kelima anggota yang terus bertahan untuk mengembangkan usaha tani ini. Buktinya, dari usaha awal dengan 68 pohon, mereka menanam lagi 87 pohon buah naga, sehingga jumlahnya menjadi 155 pohon.

Walau belum menghasilkan dari pohon yang baru ditanam itu, namun 68 pohon sebelumnya telah memberi hasil senilai Rp 8.700.000 kepada kelima petani di tahun kedua usahanya. Hasil tersebut meningkat lagi menjadi Rp 17.000.000 di tahun ketiga.

Dari peningkatan hasil yang diperoleh, 11 orang warga sekitar kemudian memilih bergabung, untuk sama-sama mengolah lahan tersebut. Dengan jumlah anggota yang sudah 16 orang, mereka bersepakat menambah 645 anakan buah naga pada lahan seluas 0,6 hektar.

“Ada penambahan anggota di tahun ketiga, tahun 2018. Sehingga lahan yang dikembangkan mencapai satu hektar dengan 800 tanaman buah naga,” kata Loisa.

Di tahun keempat, yakni tahun 2019, hasil yang diperoleh meningkat drastis. Betapa tidak, dari sebelumnya Rp 17 juta, menjadi Rp 36 juta, hanya dari produksi buah naga.

Karena semakin menjanjikan, satu hektar lahan kritis yang berada di sekeliling kebun produktif tersebut, juga sudah dikembangkan. Yang secara keseluruhan, terdapat 1.600 pohon tanaman buah Naga yang tumbuh di atas lahan seluas dua hektar. Jumlah anggota pun bertambah, dimana kini sudah menjadi 28 orang.

Dari jumlah tersebut, kata Loisa, bisa menghasilkan hingga ratusan juta rupiah. Sebab, di tahun kelima, pada 2020 lalu, dari 800 pohon buah naga, diperoleh hasil penjualan senilai Rp 86 juta. Hasil tersebut tentu akan bertambah, karena ada 800 pohon yang sudah dikembangkan lagi.

“Kami dibentuk dan dibina oleh Yayasan Tanoba Lais Manekat (YTLM) melalui pendampingan. Dan kami terus diajar untuk membangun kesadaran supaya maju bersama,” beber Loisa.

Terpisah, Freand Teddy Neno, pendamping dari YTLM yang merintis terbentuknya kelompok tersebut, mengaku pendampingan yang dilakukanya. Dimana, kelompok tersebut mulai membersihkan lokasi untuk mulai menanam, usai memanen padi. Yang kemudian dilanjutkan dengan aktifitas menanam buah naga di bulan Juli 2015.

“Sekitar awal Maret 2015, kami membersihkan lokasi. Yang kemudian disepakati untuk mulai tanam di bulan Juli,” kata pendamping perintis kebun produktif ‘Modokpedak’, kepada Timor Express, Kamis (28/1). (mg32)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top