Cegah Klaster Keluarga, Uskup Atambua Imbau Warga Kurangi Mobilitas | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Cegah Klaster Keluarga, Uskup Atambua Imbau Warga Kurangi Mobilitas


Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr. (FOTO: JOHNI SIKI/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Cegah Klaster Keluarga, Uskup Atambua Imbau Warga Kurangi Mobilitas


ATAMBUA, TIMEXKUPANG.com-Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr., mengimbau seluruh warga di wilayah perbatasan untuk meningkatkan kewaspadaan selama masa pandemi Covid-19 ini. Salah satu imbauan Uskup Domi Saku adalah mengurangi mobilitas atau aktifitas di luar rumah yang tidak perlu.

Uskup Domi Saku mengatakan hal ini karena klaster keluarga maupun penularan dengan transmisi lokal di Kabupaten Belu terus saja meningkat. “Ini menjadi ancaman serius akibat tingginya mobilitas dan rendahnya kesadaran warga akan penerapan protokol kesehatan,” ungkap Uskup Domi Saku saat di temui di sela-sela kegiatan pencanangan nasional vaksinasi tingkat Kabupaten Belu di Rumah Sakit (RS) TK. IV Atambua, Kamis (4/2).

Uskup Domi Saku menyetbukan, berdasarkan data gugus tugas, jumlah kasus terkonfirmasi postif Covid-19 terus melonjak akhir-akhir ini. Bahkan korban meninggal dunia akibat Covid-19 juga terus bertambah. Karena itu, Uskup Domi Saku berharap seluruh masyarakat tetap menjaga dan mematuhi protokol kesehatam sesuai anjuran pemerintah.

“Perlu ada sikap tegas pemerintah untuk membatasi kegiatan sosial yang tidak penting. Lihat saja dalam waktu singkat, dua minggu belakangan ini NTT pegang rekor kasus Covid-19. Padahal sebelumnya kita aman-aman saja,” ujarnya.

“Kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan. Kita harus akui itu. Salah satu caranya membatasi kegiatan atau mobilitas sosial yang tidak penting, melalui intervensi aturan dari pemerintah,” tegasnya.

Uskup Domi Saku mengaku merasa kesal sebab kelalaian bukan hanya masyarakat tetapi pemerintah yang tidak tegas. Seperti kecolongan dalam rangkaian Natal dan Tahun Baru, dimana karena merasa pandemi belum ada sehingga orang bebas bepergian untuk liburan seperti di Kupang yang saat itu sudah zona merah.

“Jika ada lockdown tentunya bisa menekan penyebaran kasus Covid-19 seperti saat ini. Saya sebagai Uskup menyesal. Kita kecolongan pada rangkaian natal dan tahun baru. Jika waktu itu bandara, pelabuhan, dan pos perbatasan diperketat penjagaannya, ada larangan pembatasan sosial tentu kasusnya bisa ditekan. Tidak seperti saat ini,” ujarnya.

Uskup Domi Saku juga menyinggung kesiapan rumah sakit, baik itu dukungan kelengkapan fasilitas dan tenaga yang memadai untuk penanganan pasien.

Sebelumnya, dalam pertemuan di Emaus, Uskup Domi Saku sempat meminta pemerintah untuk tidak boleh terlena dengan status zona hijau. Sebab dukungan tenaga medis dan fasilitas kesehatan yang terbatas tentunya akan kesulitan ketika menghadapi kasus yang jumlahnya banyak.

“Bayangkan petugas medis layani 10 orang pasien saja sudah kesulitan, apalagi jumlahnya lebih dari 100 pasien. Buktinya dalam waktu singkat di Belu kasusnya sudah sampai ratusan, baik hasil rapid tes antigen maupun swab,” ujarnya.

Uskup Domi secara khusus mengapresiasi pemerintahan Presiden Jokowi yang cepat mengambil langkah penanganan pencegahan melalui program vaksinasi. Ini tentunya perlu dukungan semua pihak agar program ini bisa sukses. Masyarakat bisa divaksin agar tubuhnya menjadi kebal sehingga tetap sehat. Namun, bukan berarti hadirnya vaksin lantas semua bebas beraktifitas dengan melanggar protokol kesehatan Covid-19.

“Semua kita harus tetap waspada. Ikuti protap sesuai anjuran pemerintah. Masing-masing orang harus sadar untuk lindungi diri, keluarga, dan sesama,” tandasnya.

Bukan hanya itu saat ini sejumlah daerah sudah menerapkan larangan seperti wajib menunjukan keterangan sehat rapid, swab, dan vaksin. Seperti di Kabupaten TTS, setiap pelintas wajib tunjukan surat kesehatan Covid-19. “Tentunya larangan ini membatasi mobilitas warga bila tidak penting tentunya tidak bepergian,” pungkas Uskup Domi. (mg33)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top