Meredam Pandemi, Melawan Covid-19 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Meredam Pandemi, Melawan Covid-19


dr. Dewa Ayu Made Dwi Suswati WP, MARS. (FOTO: Dok. Pribadi)

OPINI

Meredam Pandemi, Melawan Covid-19


Oleh: dr. Dewa Ayu Made Dwi Suswati WP, MARS *)

Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 semakin mengganas. Kasus baru terus bermunculan dan belum bisa dihentikan. Lebih dari 1 juta orang di Indonesia sudah dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. 30 ribu lebih orang sudah meninggal karena korona, termasuk kematian tenaga kesehatan (Nakes) yang hampir mencapai 600 orang.

Kondisi ini sungguh mengkhawatirkan. Jumlah kasus terkonfirmasi positif semakin menanjak. Bisa dipastikan angka kematianpun akan semakin meningkat. Apakah dia tetangga kita, rekan kerja kita, sahabat kita, bahkan mungkin keluarga kita yang kita sayangi. Haruskah kita menyerah dengan situasi ini? Menanti setiap hari, mendengar, dan melihat, siapa lagi yang terkonfirmasi positif. Siapa lagi yang sudah sembuh dan menjalani isolasi mandiri, atau meratapi siapa lagi yang meninggal. Sangat menyedihkan.

Berbagai dilemma terjadi di lapangan saat ini. Mulai dari penolakan untuk dinyatakan sebagai penderita Covid-19. Proses menunggu hasil swab PCR yang keluarnya lumayan lama. Ketidakpatuhan menjalani isolasi mandiri oleh karena berbagai kondisi. Kesulitan mencari tempat isolasi mandiri. Kekurangan SDM tenaga kesehatan yang menangani Covid-19. Kesulitan menyiapkan sarana tempat rawat inap. Penolakan dimakamkan sebagai pasien Covid-19. Kesulitan memenuhi kebutuhan oksigen yang sangat banyak. Sampah medis infeksius Covid-19 yang semakin menumpuk, dan berbagai masalah lainnya.

Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa pandemi Covid-19 ini tak kunjung berhenti?

Kali ini penulis ingin menyampaikan sedikit pendapat berkaitan dengan semakin meluasnya pandemi Covid-19 ini, khususnya di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Upaya-upaya apa yang mungkin bisa kita lakukan sehingga pandemi ini bisa kita redam. Sehingga situasi mencekam ini bisa kita hentikan, dan agar jumlah kasus yang semakin menanjak ini, grafiknya bisa kita turunkan.

Semua ini adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya pemerintah. Bukan hanya tenaga kesehatan. Bukan hanya rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Kita semua merasa jenuh. Kita semua merasa bosan, jengkel, marah, was-was, takut, dan berbagai perasaan yang berkecamuk di benak kita. Oleh karena itu, kitalah yang harus secara sadar, bersama-sama  turut berkontribusi, sesuai dengan tugas dan kemampuan kita masing-masing. Apakah kita sebagai pribadi. Apakah kita sebagai bagian dari institusi, lembaga, sektor pemerintah maupun swasta. Tidak usah lagi kita mencari kambing hitam, dan saling menyalahkan. Mari kita cari jalan agar pandemi ini bisa kita redam.

Saat ini berbagai slogan dan strategi sudah dijalankan oleh pemerintah.  Kita sering mendengar ungkapan 3T, Tracing: pelacakan kasus, Testing: pemeriksaan laboratorium swab PCR atau swab Antigen,  dan Treatment: pengobatan, termasuk perawatan dan isolasi mandiri bagi mereka yang kontak erat dengan orang yang positif sampai terbukti tidak mengidap Covid-19.

Selain itu kita sering mengenal imbauan untuk mematuhi protokol Kesehatan 5T: Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, dan Mengurangi mobilitas. Namun sampai saat ini, pandemi ini tidak juga kunjung berakhir.

Vaksinasi yang diharapkan untuk membangkitkan antibody dan herd imunity atau kekebalan kelompok tengah berlangsung. Tapi baru sebagian kecil yang divaksinasi. 3T dan 5M belum maksimal dilaksanakan. Perlu dikuatkan secara bersama  dan menjadi kesatuan. Tidak bisa yang satu kuat, tapi yang lainnya lemah. Strategi yang sudah ada tersebut, sudah bagus namun semuanya harus kuat agar bisa saling mendukung.

Berkaca pada negara lain atau provinsi lain yang sudah berhasil menurunkan angka kejadian Covid-19 ini, penulis mencoba menyampaikan beberapa pemikiran tentang hal-hal yang sudah diupayakan, tapi masih terasa lemah dalam pelaksanaannya. Langkah-langkat yang perlu kita ambil adalah : testing cepat, isolasi ketat dan terpusat serta pengobatan yang cepat dan tepat.

  1. Testing Cepat

Testing perlu dilakukan secara masif dan masal kepada seluruh kontak erat, baik yang bergejala maupun tidak bergejala. Testing juga perlu dilakukan secara cepat dan memperoleh hasil yang cepat, sehingga mereka bisa segera tahu, apakah dia terifeksi Covid-19 atau tidak. Kecepatan memperoleh hasil juga sangat berpengaruh terhadap upaya menurunan angka kejadian Covid-19 ini. Karena, bila hasil segera diketahui, yang bersangkutan bisa segera menentukan langkah apa yang harus ditempuh.

Sebaliknya kalau hasil testing lama baru diketahui, membuat orang-orang yang melakukan testing berada dalam situasi ketidakpastian. Efeknya yang bersangkutan menjalankan protokol isolasi mandiri setengah-setengah. Ini bisa disebabkan tuntutan tugas dan kewajibannya, juga dorongan kebutuhannya. Rasa bosan dan situasi lainnya yang menyebabkan dia tidak bisa berlama-lama menjalani isolasi mandiri.

Beberapa metode testing yang bisa dilakukan adalah, Swab Antigen, Swab PCR atau GeNose.

Swab Antigen sudah diakui sebagai salah satu metode testing untuk memastikan adanya virus Covid-19 selain swab PCR. Metode pemeriksaan yang lebih sederhana dari swab PCR, dimana hasil bisa diketahui dalam 15 menit. Harganya pun tidak terlalu mahal. Berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu rupiah. Karena lebih sederhana, tidak terlalu mahal, lebih mudah  serta hasilnya bisa diketahui dengan cepat, maka metode ini bisa dipertimbangkan untuk dilakukan secara masal.

Pemeriksaan Swab PCR, merupakan pemeriksaan yang disebut sebagai gold standard dengan akurasi 100 persen dalam penegakan diagnose Covid-19. Namun kelemahannya hanya tersedia di beberapa tempat, terbatas, tidak dapat memenuhi kebutuhan sampel yang akan diperiksa. Selain itu harganya pun cukup mahal. Berkisar Rp 900 ribu. Karena banyaknya sampel yang harus diperiksa, melebihi kapasitas kemampuan laboratorium menyebabkan  hasil test keluar 3-5 hari kemudian, bahkan bisa 2 minggu.

Dapat dibayangkan, apabila sampel ini adalah sampel pasien yang bergejala Covid-19 berat atau kritis kemudian meninggal, akan terjadi konflik di rumah sakit. Penolakan untuk diperlakukan secara Covid-19 akan terjadi. Tuduhan bahwa rumah sakit meng-covid-kan pasien pun  akan muncul.

Kondisi ini menciptakan situasi ketidakpastian. Penuh tanda tanya yang berpengaruh pada apa yang harus dilakukan selanjutnya. Bagi pasien yang tengah dirawat, akan terlambat dalam pemberian obat, demikian pula akan berpengatruh  terhadap kepatuhan dalam melaksanakan protokol Kesehatan yang sesuai dengan Pencegahan dan Penularan Inferksi (PPI). Hasil tes yang terlalu lama juga memungkinkan orang yang diperiksa tersebut tidak menjalani isolasi mandiri, yang akan menjadi sumber penularan ketika orang tersebut ternyata bertatus Orang Tanpa Gejala (OTG).

BACA JUGA: Waspadai Titik Lengah Kita dalam Kehidupan Sehari-hari yang Bisa Sebabkan Covid-19 Masuk  ke Tubuh Kita

Pemeriksaan GeNose adalah alat terbaru yang ditemukan untuk pendeteksi adanya virus Covid-19. Alat ini buatan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang bisa  mendeteksi virus korona melalui hembusan nafas. Alat ini sudah mendapat izin edar dari kementrian Kesehatan yang digunakan untuk screening. Biaya yang diperlukan tidak mahal, berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu.

 Testing masal dan massif perlu dilakukan, namun akan muncul masalah lain. Bagaimana biayanya. Gratis atau bayar? Kebijakan untuk memberlakukan pemeriksaan Swab PCR secara gratis perlu ditinjau kembali. Bahan habis pakai, reagen, dan alat mungkin disiapkan oleh pemerintah. Tetapi bagaimana dengan tenaga yang mengerjakan? Yang mengambil swab, yang menjemput dan mengantar sampel. Tenaga yang melakukan proses pemeriksaan. Tenaga yang menuliskan hasilnya apakah tidak pantas menerima jasa? Sekadar memberikan semangat dan membeli makanan atau suplemen yang lebih baik, agar mereka tetap kuat dan bisa bertahan terhadap pekerjaan yang sungguh berisiko.

Biaya jika negara atau pemerintah tidak mampu, mari kita kembalikan kepada masyarakat, atau barangkali sektor swasta, perusahaan, BUMN, dll. Karena semua lapisan masyarakat, institusi, lembaga, perusahaan terdampak oleh pandemi ini. Tentunya semuanya punya keinginan untuk mengakhiri pandemi ini. Gratis perlu dipertimbangkan. Tidak diberlakukan kepada semua orang, karena masih ada orang yang punya kemampuan untuk membayar dan menginginkan hasilnya lebih cepat.

Semakin banyak orang dengan kontak erat yang diperiksa, bisa dipastikan kita bisa menjaring lebih banyak lagi yang terinfeksi yang berpotensi menularkan. Khususnya orang yang tanpa gejala. Orang yang membawa virus, tapi tidak menyadari bahwa dia membawa virus dan bisa menularkan kepada orang lain yang berada di dekatnya, juga yang bergejala ringan. Yang selalu berpikir, bahwa sakitnya hanya flu biasa, masuk angin, kelelahan, dan lain sebagainya.

Untuk mendukung testing masif ini, tentunya harus didukung oleh tracking (pelacakan) dan Tracing (penelusuran) yang maksimal. Tracking dan Tracing dalam situasi pandemi ini tidak mesti tenaga kesehatan saja yang melakukannya. Masyarakat pun bisa dilibatkan sebagai sukarelawan, asalkan dilatih dan diarahkan dengan baik. Apalagi saat ini tenaga kesehatan sudah banyak yang terifeksi virus ini dan harus menjalanin isolasi mandiri.

  1. Isolasi Ketat dan Terpusat

Isolasi mandiri dilakukan bagi orang-orang yang dianggap berpotensi bisa menularkan Covid-19 kepada orang lain. Antara lain, yang kontak erat dengan orang yang terkonfirmasi positif. Orang yang hasil testing-nya positif tanpa gejala atau bergejala ringan. Juga pasien-pasien pasca penanganan di rumah sakit yang sudah menunjukkan perbaikan dan melanjutkan pengobatan di luar rumah sakit.

Berbagai permasalahan yang muncul berkaitan dengan isolasi mandiri ini, antara lain:

  1. Dimana dia harus diisolasi mandiri
  2. Apa yang harus dilakukan selama menjalani isolasi
  3. Siapa yang memantau saat menjalani isolasi
  4. Bagaimana kepatuhan yang bersangkutan menjalani isolasi mandiri
  5. Apakah keluarga siap menerima
  6. Bagaimana tatacara berinteraksi dengan anggota keluarga di rumah agar tidak terjadi penularan
  7. Bagaimana caranya dia memenuhi kebutuhannya ketika menjalani isolas, paling tidak makan dan minum
  8. Bagaimana agar yang menjalani isolasi tetap merasa nyaman dan tidak stress sehingga imunnya bisa menurun
  9. Dan berbagai permasalahan lainnya, yang perlu menjadi pemikiran kita bersama.

Isolasi Mandiri perlu dilakukan terpusat agar lebih mudah pemantauannya. Beberapa daerah lain menyulap gelanggang olah raga, hotel, balai latihan, untuk dijadikan pusat isolasi mandiri Covid-19. Di Surabaya misalnya, pemerintah menyiapkan 16 hotel untuk dijadikan tempat isolasi mandiri. di Jakarta disiapkan 33 hotel untuk isolasi mandiri. di Indonesia saat ini tercatat 9 provinsi yang menyiapkan fasilitas ini.

Penyiapan tempat isolasi mandiri yang terpusat ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan menekan angka Covid-19. Mereka akan lebih mudah dipantau, lebih mudah dilakukan edukasi, dan yang terpenting adalah bisa diisolir agar bisa mencegah penularan yang lebih luas lagi  ke orang lain.

Di tempat tersebut disiapkan petugas khusus, yang sudah dikasi pelatihan dan pemahaman tentang pencegahan dan pengendalian infeksi. Petugas cleaning service diberikan APD dan dukungan suplemen yang memadai. Sampah-sampah yang diproduksi dari sini, apakah sampah kering seperti tissue, masker, APD dan sampah basah seperti sisa makanan, plastik-plastik pembungkus, box makanan, sisa botol kemasan  obat dan lain-lain yang berasal dari penghuninya adalah tergolong sampah infeksius yang berpotensi menularkan virus bila tidak dikelola dengan baik. Kalau kesulitan biaya, mari dipikirkan bersama. Kita bebankan juga kepada keluarganya, atau para donator lainnya.

Saat ini, tidak semua daerah menyiapkan tempat isolasi mandiri yang terpusat. Sehingga mereka tersebar dimana-mana. Ada yang di hotel, losmen, rumah kos, dan di rumah sendiri. Situasi akan menjadi lebih parah lagi kalau mereka terpaksa menyembunyikan identitasnya, bahwa sebenarnya dia adalah seorang OTG. Dia bisa menularkan virus korona kepada setiap orang yang didekatnya, dan dilingkungan tempat dia berada. Belum lagi kalau yang bersangkutan tidak mematuhi protokol Kesehatan, penularan akan terjadi lebih cepat lagi.

  1. Obati Secara Cepat dan Tepat

Ketika seseorang sudah bisa dipastikan terkonfirmasi Covid-19 positif, sebaiknya segera diberikan pengobatan yang sesuai dengan standard, agar virus jangan terlanjur berkembang biak lebih banyak lagi dan menyebabkan kerusakan lebih parah lagi.

Kondisi saat ini yang yang terjadi, ketika seseorang menunjukkan gejala yang serupa dengan gejala Covid-19 yang sering ditemui, seperti batuk, sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, dan gejala lainnya yang dalam situasi pandemi saat ini sebaiknya dipastikan dengan testing Covid-19 atau bukan Covid-19. Banyak yang masih ketakutan divonis Covid-19, sehingga masih menganggap ini hanya flu biasa. Akhirnya beli obat flu sendiri di opotek. Kemudian datang lagi ke dokter atau ke rumah sakit karena penyakitnya sudah parah.

Pada orang ini, bila mau saja dia melakukan testing, segera tahu status covid-nya,bisa segera diobati dan menjalani isolasi yang terpantau.

Mari kita semua berkontribusi, meredam pandemi Covid-19 ini. Semoga pandemi ini cepat berlalu. SALAM SEHAT selalu!!! (*)

*) PKRS Rumah Sakit Bhayangkara Drs. Titus Uly Kupang

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top