“Tugas Kenabian Tidak Hanya Dilaksanakan dari Atas Mimbar, Turunlah ke Jemaat…” | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

“Tugas Kenabian Tidak Hanya Dilaksanakan dari Atas Mimbar, Turunlah ke Jemaat…”


PELAYAN BERDEDIKASI. Pdt. Lorry Lena-Foeh memegang piagam penghargaan sebagai Tokoh Agama Sadar Inflasi bersama ibu-ibu anggota KWT Ora Et Labora. (FOTO: STENLY BOYMAU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

“Tugas Kenabian Tidak Hanya Dilaksanakan dari Atas Mimbar, Turunlah ke Jemaat…”


In memorian Pdt. Lorryane Lena-Foeh, Sm.Th, Tokoh Sadar Inflasi dari GMIT (1)

RABU (3/2), Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) kehilangan seorang pendetanya. Duka itu tak hanya dirasakan warga GMIT, tapi dirasakan juga komunitas kreatif Kota Kupang, para aktivis lingkungan dan pegiat tanaman holtikultura. Salah seorang tokoh penting dalam pelayanan, dan juga gerakan menekan inflasi, berpulang. Pdt. Lorryane Lena-Foeh, Ketua Majelis Jemaat GMIT Baitel Maulafa, Klasis Kota Kupang yang juga penggagas Kelompok Wanita Tani (KWT) Ora Et Labora Maulafa, dipanggil pulang Sang Pencipta, di Siloam Hospital Kupang, karena terpapar Covid-19.

STENLY BOYMAU, Kupang

SEHARI sebelumnya, Selasa (2/2), ada pesan yang dikirim berulang-ulang di sejumlah WhatsApp Grup (WAG). Tentang permintaan dari keluarga kepada relawan agar bersedia mendonorkan plasma ke Pdt. Lorry. Pdt. Lorry sedang membutuhkan donor plasma itu pada kesempatan pertama. Kondisinya drop. Butuh plasma untuk mengimbangi virus dalam tubuh. Beberapa relawan lalu menuju ke UPT PMI. Atas tindakan itu, si gembala umat itu sempat tertolong bebeapa saat.

Hingga Rabu (3/2) pagi jelang siang, Dessy Ballo-Foeh, anggota DPRD Kabupaten Kupang yang adalah adik kandung Pdt. Lorry, mengumumkan ke semua keluarga, sahabat dan relasi, kakak kandungnya sudah tiada. Empat jam kemudian sudah harus dimakamkan, mengikuti protokol kesehatan terkait penanganan Covid-19. Tak lama, kerabat dan kenalan serta rekan sepelayanan di GMIT, termasuk Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Merry Kolimon, datang ke kamar jenazah RS Siloam, di Kelurahan Fatululi. Di sana, di pelataran rumah sakit, digelarlah ibadah singkat pelepasan jenazah oleh salah seorang pendeta yang kemudian dilanjutkan dengan pengusungan jenazah ke TPU Fatukoa.

Iring-iringan dua mobil jenazah, dua ambulance serta dua mobil Polri bergerak menuju ke TPU Damai Fatukoa. Ternyata di sana sudah menanti sejumlah kenalan. Mereka ingin melihat orang yang dikasihinya untuk terakhir kali. Hampir seluruhnya mengenakan busana kas tanda perkabungan. Dan hampir seluruhnya menangis. Tak sedikit yang meraung, seolah enggan melepas orang yang yangat dikasihinya.

Di TPU Damai, hadir setidaknya belasan pendeta. Seluruhnya mengenakan pakaian hitam. Ibadah pemakaman singkat serta penyematan sekuntum mawar diwakilkan oleh Pdt. Sam Pandie, serta Dessy Ballo mewakili keluarga. Tak jauh dari kubur, tepat di sisi timur, adik-adik almarhum yakni Yaherlof Foeh, Febby Foeh, dan Dessy, menangis sejadi-jadinya.

“Dia tidak saja kakak kami, melainkan dia mama kami. Tuhan Yesus, terlalu cepat Engkau ambil kakak dan mama kami. Tolong kasi kami waktu, kami masih mau dengan dia.” Demikian ratap adik-adik almarhumah, tak jauh dari liang lahat. Berdiri terpaku di ujung timur, sekira enam meter dari liang lahat, suami tercinta, Om Sem Lena. Tanpa menoleh sedikit pun, dia terus menatap ke sebuah peti berwarna coklat tua kehitaman, dengan bunga di atasnya. Peti itu, perlahan ditutupi tanah putih yang disekop petugas anggota Satgas Covid-19. Tujuh orang, seluruhnya berpakaian APD lengkap.

***

Banyak kisah unik dan prestasi dari seorang Pdt Lorry Lena-Foeh. Sosok yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai pelayan yang rendah hati, peduli, dan memiliki hati yang luas ini, ternyata seorang pekerja keras. Dia lahir pada 15 Februari 1961, dan bersuamikan Samuel F. Lena. Tahun 1986, oleh GMIT, dia ditempatkan melayani jemaat Tuhan di Biloto, Desa Kesetnana, Klasis Mollo Barat, Kabupaten TTS. Lalu pada 1990, ditugasi melayani di Jemaat Pal Satu Klasis Kota Kupang.

Tahun 1998 hingga tahun 2011, Pdt. Lorry dipercaya oleh GMIT melayani keluarga yang mengalami kedukaan di Instalasi Pemulasaran Jenazah RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Setiap jenazah yang dijemput keluarga, maka pihak RSU menghadirkan Pdt. Lorry untuk memimpin ibadah pelepasan. Tahun 2011 hingga 2016, Pdt. Lorry melayani di jemaat GMIT Horeb Perumnas. Dari Perumnas, Pdt. Lorry ditugasi melayani di jemaat Baitel Maulafa.

Siapa sangka, ternyata kehadiran si abdi Allah di dua gereja besar di Kota Kupang ini, memberi banyak perubahan. Halaman gereja mulai banyak bunga, juga dipenuhi tanaman sayur. Banyak jenisnya. Sayuran ini tidak saja dikonsumsi pelayan, melainkan oleh jemaat dan siapa saja yang butuh.

Hingga tahun 2018, Harian Timor Express bekerjasama dengan Pemerintah Kota Kupang menggelar Kupang Green and Clean (KGC), lalu salah satu item kegiatan, adalah kerjasama dengan Bank Indonesia. Ini semata adalah gerakan mengajak tokoh agama dan umatnya untuk menanam aneka tanaman sayuran serta hortikultura, yang tidak saja sebagai penunjang pakan dalam rumah tangga, melainkan untun menekan terjadinya inflasi. Nama kegiatannya ‘Gerkaan Sadar Inflasi’. Gerakan ini berlangsung sejak 2018. Salah satu item kegiatannya adalah penanaman secara simbolis aneka tanaman sayur dan cabe di lahan yang sudah disiapkan.

Pdt. Lorry mendampingi Gubernur Viktor Laiskodat saat gereja yang ia pimpin menggelar pameran hasil pertanian pada 2019 lalu. (FOTO: STENLY BOYMAU/TIMEX)

Kegiatan itu berlangsung cukup meriah, ditandai dengan seremoni pembuka di halaman Gereja Baitel Maulafa. Pdt. Lorry saat itu, sebagai tuan rumah, yang menyiapkan semuanya. Degan cekatan, dia menghadirkan puluhan ibu. Mereka adalah pekerja pada 17 titik lokasi penanaman. Ternyata, setiap lokasi, dikelola satu kelompok. Mereka bernaung dalam satu wadah besar yang dibentuk Pdt Lorry, yakni Kelompok Wanita Tani (KWT) Ora Et Labora.

Jika di-Indonesia-kan, artinya adalah berdoa dan bekerja. Dia mau menunjukkan bahwa, menjadi seorang umat yang baik, tidak saja melulu berdoa, melainkan disertai tindakan. Bekerja sekuat tenaga. Dan terbukti, mereka bekerja sehingga diberkati. Hadir dalam seremoni itu, Plt. Dirut Bank NTT, Absalom Sine, Direktur Dana, Alex Riwu Kaho (Kini Dirut Bank NTT, Red), Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu. Sedangkan dari Bank Indonesia, hadir Deputi BI Perwakilan NTT, Syahrial, dan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Winter Marbun. Dari Pemkot Kupang hadir Plt Sekkot, Thomas Jansen Ga, dan manajemen BPJS Ketenagakerjaan yang hadir untuk menyerahkan asuransi bagi seluruh ibu rumah tangga yang bergabung dalam KWT tersebut.

Usai seremoni, dilanjutkan dengan penanaman anakan. Kami diajak ke sebuah lokasi, yang semula dikira landai. Ternyata tidak. Puluhan pejabat ini diajak menuruni tanjakan terjal, menuju sebuah hamparan tak jauh dari gereja. Di sana ada bedeng-bedeng yang disiapkan oleh ibu-ibu rumah tangga anggota KWT. Mereka menanami bedeng itu dengan aneka sayuran. Ada brokoli, kaylan, cabe, sawi putih, kacang panjang, seledri, dan sebagainya. Yang membuat para tamu undangan kagum, adalah ternyata di beberapa lokasi itu, sayuran tidak ditanami di bedeng, melainkan di celah-celah batu. Tanaman itu pun tumbuh subur.

Saya yang saat itu menjadi konseptor dan juga oleh manajemen Timor Express dipercaya sebagai penanggungjawab kegiatan, membangun komunikasi dengan  Bank NTT, Bank Indonesia. Untuk program gerakan sadar inflasi. Gebrakan demi gebrakan dilakukan, kami bertemu sejumlah tokoh, diantaranya Romo Maxi Un Bria, Pr., dari Sta Maria Asumpta, juga Haji Muhammad dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan tokoh dari Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI).

Bibit sayuran disiapkan Bank Indonesia (BI), dan TimEx Kupang Promosindo sebagai pelaksananya. Pdt Lorry saat itu, sudah berlari lebih kencang. Dia bersama puluhan ibu di Maulafa, membuat banyak gebrakan. Ada pameran hasil pertanian dan sebagainya, yang membuat hasil pertanian mereka dipasarkan ke beberapa pusat perbelanjaan besar di Kupang.

Saat momen penutupan KGC 2018, yang berlangsung di Hotel Maya saat itu, Kepala BI Perwakilan NTT, Naek Tigor Sinaga, menyerahkan trophy kepada Pdt Lory, Romo Maxi Un Bria dan beberapa tokoh agama lainnya sebagai tokoh agama sadar inflasi. Mereka layak mendapat predikat itu, karena selain tugas pastoral, mereka sangat aktif berada di tengah masyarakat. Mereka memberi motivasi agar menanam aneka tanaman sayur di rumah.

“Ketika ditugaskan datang ke Baitel Maulafa, saya melihat banyak batu karang. Waduh, mau diapakan. Saya lalu berdoa, merenung, meminta jalan. Ada hikmat yang Tuhan beri, yakni batu pun bisa Dia rubah menjadi roti. Dari situlah kami mulai bekerja. Semula, saya menanam beberapa bunga, subur. Saya tanam lagi sayur, eh ternyata subur. Saya pikir, saya sudah menemukan lokasi yang tepat. Kami pun mulai bekerja, saya gandeng beberapa ibu, dan kami buat bedeng,” tegas Pdt Lorry, kepada saya di sebuah kesempatan.

Ada yang sangat membekas, ketika saya bertanya padanya saat itu. Di penghujung 2018. Apakah tidak menyita waktu pelayanan, karena harus mengurus sayuran. Lalu dia bantah. “Menjadi pendeta itu tidak hanya menanti waktu khotbah. Itu namanya karyawan. Pendeta itu pelayan, dia harus ada di tengah-tengah jemaatnya. Harus peka apa yang dibutuhkan jemaat. Saya ini pelayan, dan jemaat harus didorong manfaatkan potensi yang ada di sekitarnya. Di sini ada lahan, walaupun karang, kami menanam, dan ada hasilnya. Jemaat harus mapan dulu dari sisi ekonominya. Makanannya harus sehat. Sayuran harus sehat. Setelah kenyang dan sehat baru kita ajak kerja yang lain. Bagi saya itulah pelayanan,” ungkap Pdt. Lorry ketika itu.

Kegigihan Pdt. Lorry itulah yang membuatnya kembali meraih predikat sebagai yang terbaik, dalam even yang sama, yang Timor Express gelar tahun 2019. Dia terpilih sebagai Tokoh Agama Sadar Inflasi, untuk kali yang kedua. Karena keberhasilannya, Bank Indonesia menghadirkan dua sumur bor dengan debit yang besar, untuk melayani air bersih bagi jemaat setempat. Termasuk untuk menyiram tanaman sayur pada 17 lokasi yang sudah ada.

Kemampuannya bersosialisasi dan membangun jejaring dengan relasi, sangat baik. Tidak saja jemaat di Baitel Maulafa yang diajaknya bertani, melainkan dia pun bekerjasama dedngan masjid sekitar dan umat dari agama lain, untuk menanam sayur. Masih di tahun 2019, Pdt Lorry menggelar pameran hasil pertanian di halaman gereja, bertepatan dengan sebuah kegiatan gerejawi. Kegiatan itu hadir ratusan orang. Hadir Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL). Saat diajak ke klaster penanaman sayuran, yang berlokasi di sisi utara gereja, gubernur VBL kagum.

“Luar biasa. Sayuran ini ditanam di celah batu, dan tumbuh subur. Itulah NTT. Kita sebenarnya sangat kaya akan potensi,” tegas Gubernur VB saat itu. Ikut hadir mendampingi Gubernur, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. DR Merry Kolimon, Vikjen Keuskupan Agung Kupang, dan Ketua MUI NTT, H. Abdulkadir Makarim. (bersambung)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top