Ternyata Pdt. Lorry Beri Tanda Kematiannya Melalui Lukisan Bunga Korona dan Perempuan Menangis | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Ternyata Pdt. Lorry Beri Tanda Kematiannya Melalui Lukisan Bunga Korona dan Perempuan Menangis


Pdt. Lorry Lena-Foeh semasa hidup. (FOTO: STENLY BOYMAU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Ternyata Pdt. Lorry Beri Tanda Kematiannya Melalui Lukisan Bunga Korona dan Perempuan Menangis


In Memoriam Pdt. Lorryane Lena-Foeh Sm.Th., Tokoh Sadar Inflasi dari GMIT (2)

Pdt. Lorry Foeh, semasa hidupnya adalah sosok perempuan serba bisa. Menjalani panggilannya sebagai seorang pelayan Kristus, tidak merubah karakternya sebagai seorang yang familiar, humanis, serta kreatif. 15 Februari nanti, seharusnya dia berulang tahun yang ke-60. Di hari yang sama pula, dia resmi menjalani masa emeritasi. Atau masa purna layan sebagai seorang pelayan di GMIT. Banyak mimpi sudah dirancangnya, yakni mengembangkan kreatifitas merangkai bunga, melukis, membuat gerabah dan banyak lagi. Namun ada dua lukisan yang ternyata berisi pesan penting. Tentang akhir dari jalan hidupnya.

STENLY BOYMAU, Kupang

Benar. 15 Februari nanti adalah hari terakhir, dimana Pdt Lorry Foeh menjalani tugas kenabiannya, sebagai pewarta kabar baik. Tentang keselamatan kekal. Dan sebenarnya dia pun sudah sangat siap menyongsong tanggal itu. Malah sangat bersukacita, dengan mengontak sahabat sepelayannnya untuk mendesain liturgy yang indah sebagai syukur atas penyertaan Tuhan semasa dia melayani-Nya.  Dia ingin agar momen ini menjadi spesial, karena dia sudah mengakhiri tugasnya secara baik. Paripurna.

Pdt. Lorry adalah seorang tokoh yang sangat perfectionis. Sesuatu yang ada di tangannya, akan menjadi indah. Dan ini diakui oleh banyak kalangan. Dia penyuka seni. Malah menjadi arsitek. Hal ini dibuktikan dengan tempat pelayanannya, didesain baik, sehingga tamannya cantik.

Tahun 2016, gereja Horeb Perumnas sudah menjadi buah bibir kebanyakan, karena halamannya ditata cantik. Tak hanya dipenuhi banyak bunga, melainkan lahan-lahan tidur yang selama ini dipenuhi semak, disulap menjadi bedeng-bedeng sayuran. Semuanya organik.

Di tahun 2018, ketika juri Kupang Green and Clean (KGC) yang diprakarsai Timor Express ke sana, kami semua dibuat kagum. Saya bersama Alm. DR. Johny Kiuk, serta Juventus Beribe dari Dinas LHK Kota Kupang, mengelilingi halaman itu. Ada sawi, kol, cabe, jeruk nipis, serai, seledri, dan banyak lagi.

Hal yang sama, nampak di pastori jemaat GMIT Baitel Maulafa. Gereja yang salah satu pendirinya Ir. Marthen Luther Dira Tome itu juga penuh tanaman. Tidak saja bunga, melainkan ada tanaman buah, bunga, juga sayuran. Ada pula batang-batang kayu yang ditanam di polybag. Di dalam pastori, berjajar puluhan gerabah berbagai ukuran yang dia produksi. Ada sebuah patung kepala Proklamator RI, Soekarno. Dibuatnya sama persis aslinya.

Di penghujung September 2020 lalu, saat saya ke sana, Pdt. Lorry mengajak saya masuk ke ruang tamu pastori. Di sana, setidaknya lima buah lukisan, dijajar di atas kursi. Selebihnya dia pajang di atas beberapa gerabah yang sudah jadi. Ada tiga lukisan yang dijelaskan pada saya dengan sangat bersemangat. Lukisan pertama, Pdt. Lorry mengaku melukis sketsa wajah Gubernur NTT, Viktor Bungtillu Laiskodat. Lukisan itu belum jadi, masih hitam putih. “Adik Stenly, musim korona begini beta sonde keluar rumah. Beta hanya di rumah sa, selain urus tanaman, beta buat lukisan. Ini, beta ada lukis Pak Gub. Hanya belum jadi. Masih butuh waktu, beta ada sibuk sedikit. Nanti su sonde sibuk lai baru beta lanjut,”ujarnya saat itu.

Lalu kami beralih ke lukisan di sebelahnya. Lukisan itu sudah jadi. Saya tidak terlalu serius mendengarnya yang saat itu, menjelaskannya penuh semangat. Lukisan itu dipajang di atas sebuah kursi. Warna lukisan itu merah, dan sudah ia bingkai. Dia menyelesaikannya tanggal 21 April 2020, dan dalam lukisan itu ada tulisannya.

“Ini, mama buat ini lukisan. Mama kasih nama korona. Diawali dari satu titik kecil, lalu meluas memenuhi bumi. Mama ingin semua tau, ini sangat berbahaya. Korona ini berbahaya, jadi kita harus hati-hati,”jelasnya saat itu. Dia menunjuk beberapa lukisan tentang Covid-19.

Lalu, kami ke lukisan di sebelahnya. “Ini, mama juga ada lukis tapi belum jadi. Korona ini buat banyak orang menangis. Sebenarnya ini lukisan punya hubungan dengan lukisan yang tadi. Mama lukis seorang perempuan menangis, karena korona ini buat banyak orang kehilangan. Bumi mama lukiskan sebagai seorang ibu yang sedang menangis,” urainya.

Saat itu, sambil lalu saya mendengarnya. Tidak ada firasat. Bahkan karena terburu-buru ingin segera pamit, kami pun duduk sejenak di halaman depan pastori, sambil menanti Om Semuel Lena, sang suami sedang dalam perjalanan ke rumah.

BACA JUGA: “Tugas Kenabian Tidak Hanya Dilaksanakan dari Atas Mimbar, Turunlah ke Jemaat…”

Kami banyak berdiskusi di sana. Mengenai apa yang akan dibuatnya seusai purna layan menjadi pendeta. Masa emeritasi, merupakan sebuah masa yang akan diisinya dengan banyak kegiatan. Dia bersyukur karena sudah menciptakan kemandirian pangan dan ekonomi bagi puluhan ibu rumah tangga di Baitel Maulafa.

Mereka mendapatkan asuransi kecelakaan kerja dari BPJS Ketenagakerjaan, serta kebun-kebun sayur mereka terus berproduksi. Dia juga mengisahkan, kini sedang membangun sebuah kebun sayur yang luas di Naibonat, yang direalisasikan atas kerja sama dengan adik-adiknya.

“Maka sekarang sedang kembangkan kebun sayur baru yang luas, di Naibonat. Ma Dessy dan suaminya Bapa Ima (Dessy Ballo-Foeh dan suaminya Imanuel Ballo, Red) ada tanah beberapa hektar sehingga kami tanami sayuran organik. Seluruhnya organik. Mama sebenarnya mau Stenly tolong tulis dulu. Banyak rumah sakit kita yang membeli sayuran tidak sehat. Ada zat kimianya. Makanya mama mau tawarkan untuk kerja sama, ambillah sayuran dari Baitel Maulafa, kami siap support, semuanya sayur sehat. Agar pasien makan sayuran bebas zat kimia, biar cepat sembuh,”bebernya saat itu.

Lukisan bunga korona karya Pdt. Lorry Lena-Foeh. (FOTO: STENLY BOYMAU/TIMEX)

***

Mungkinkah seseorang bisa memprediksi caranya menghadap Sang Khalik? Kamis (4/2) lalu, saya mendapat satu pesan WA dari adik almarhumah, yakni Dessy Ballo-Foeh, anggota DPRD Kabupaten Kupang. Tidak saya bayangkan, isi pesannya sama seperti yang disampaikan Almh. Pdt Lorry semasa hidup, ketika saya mengunjunginya tahun lalu di pastori.

“Mama pendeta banyaak melukis…dan saat pandemi kemarin mengisi waktunya dengan membuat lukisan.. Saat dia pergi, baru katong tau apa cerita di balik ini. Tiga lukisan ini mama pendeta bilang, ini adalah lukisan bunga korona. Dia melukiskan virus korona dalam bentuk seni dan simbolnya adalah bunga sesuai kecintaannya pada tanaman.

Bahkan lukisan di bawah Mama Nona selalu bilang bosong liat itu beta lukiskan bunga korona dalam satu titik dan akhirnya begitu banyak mengelilingi setiap sudut sampai penuh. Selesai dia melukis bunga korona yang selalu diulang-ulang penjelasannya pada katong kakak adik, dia melukis seorang perempuan dengan air mata. Dia bilang ini adalah air mata perempuan yang sedih dan kehilangan. Dia sudah melukiskan kisah hidupnya sendiri,”demikian Dessy, dalam WA-nya kepada saya.

Tak hanya itu, dua minggu sebelum kematiannya, yakni akhir Januari lalu, almarhumah sendiri mengatur dan memajang lukisan-lukisan ini di pastori. Biasanya lukisan perempuan menangis ini dipajang di atas meja saja, namun dua minggu lalu, dia membersihkannya dan memajangnya di ruang depan.

Benar, ternyata dia sudah memberi tanda bahwa waktunya tak lama lagi, dia segera pergi dengan cara yang dituangkannya dalam lukisan. Saat di pemakaman, raungan tangis kian menjadi, tatkala hanya ada dua kuntum mawar yang menemaninya dalam liang lahat. Satu kuntum diberi oleh GMIT melalui tangan Pdt Sam Pandie, satunya lagi diberi oleh keluarga, melalui tangan Dessy Ballo-Foeh. Sakit memang, seorang penyuka bunga, perangkai bunga handal, kepergiannya ditemani dua kuntum mawar. Dan hanya dilemparkan dari jauh.

Lukisan perempuan menangis karya Pdt. Lorry Lena-Foeh. (FOTO: STENLY BOYMAU/TIMEX)

***

Untuk diketahui, Pdt Lorry adalah seorang seniman. Ia kaya akan kreatifitas. Batang kayu atau akar kering di tempat sampah, bisa disulapnya menjadi sebuah maha karya mahal. Bahkan ketrampilannya merangkai bunga, dibutuhkan ketika beberapa kali NTT dikunjungi pejabat-pejabat negara. Presiden Suharto salah satunya. Dengan bangga, dia kisahkan bahwa saat itu, karena waktunya sudah sangat mendesak, dia diminta oleh panitia tingkat provinsi. Bahwa harus ada bunga segar. Saat itu belum ada usaha bunga segar di Kupang. Dia melibatkan puluhan ibu, mereka merangkai bunga-bunga indah, yang didatangkan khusus dari Jawa mengunakan pesawat, untuk menyambut presiden.

Belasan tahun melayani di ruang Instalasi Pemulasaran Jenazah (IPJ) RSU Prof. W. Z. Johannes Kupang, dianggapnya sebagai sebuah berkat besar. “Karena ternyata di sana, mama dikirim Tuhan untuk berkeliling Eropa. Disana mama banyak belajar tentang seni, merangkai bunga, dan sebagainya. Saat habis tugas, mama mau ajar banyak orang untuk menanam sayuran, bunga, dan sebagainya. Pak Gub sudah minta supaya mama kerja, tapi mama bilang sabar dulu. Ada lokasi-lokasi yang mau kita tanami bunga,”ujarnya semasa hidup.

Dan benar, dia pernah berkeliling Eropa dengan LSM Womintra, serta dalam kunjungannya ke Baitel Maulafa, Gubernur VBL mengapresiasi kerja kerasnya. “Kalau semua pendeta gerakannya seperti Ibu Pdt Lorry, maka sonde perlu ada gubernur lagi. Pak Gub mengapresiasi dan bertanya kapan Ma Non pensiun, bisa membantu Pak Gub membuat taman bunga di Amfoang. Bahkan Ma Non sudah ke Amfoang dan bersama kami di jalan, dia sampaikan ke kami bahwa akan membuat taman bunga di sana. Juga di Fatumnasi, kami sudah ke sana untuk melihat lokasi buat taman bunga.” Itulah sepenggal kisah, yang disegarkan kembali oleh keluarga. Sampai di sini, kita mestinya merenung, setiap kita pasti akan menuju ke sana. Selamat jalan Pdt Lorry, mama, kakak, saudari, dan kesayangan kami. Seluruh hidupmu, engkau gunakan untuk mengasihi orang lain. Tuhan menyambutmu di SorgaNya. (habis)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top