Nakes dan Cerita di Balik Ruang Isolasi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Nakes dan Cerita di Balik Ruang Isolasi


dr. Merty Taolin (FOTO: DOK. PRIBADI)

OPINI

Nakes dan Cerita di Balik Ruang Isolasi


Oleh: dr. Merty Taolin *)

Hari demi hari terus berjalan. Tidak berasa hampir setahun kami para tenaga kesehatan (Nakes) atau tenaga medis berjuang melawan pandemi Covid-19. Sebagai garda terdepan, kami tidak bisa menghindar dari tugas profesi ini. Sekalipun kami harus rela mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, keluarga, bahkan mempertaruhkan nyawa kami.

Rasa takut dan khawatir kadang datang menghampiri, menyelimuti keseharian kami. Hanya berbekal doa kepada Sang Kuasa lah yang memberi kekuatan kepada kami. Sungguh menjadi beban yang rasanya berat buat kami.

Memakai alat pelindung diri (APD) berjam-jam, mengenakan baju coverall yang berlapis-lapis yang baru bisa dilepas jika semua prosedur penanganan sudah terselesaikan. Ketika semua kebutuhan pasien sudah terpenuhi. Keringat kami bercucuran, rasa haus dan lapar kami tahan. Bahkan ketika tiba-tiba ingin buang air besar dan buang air kecil, kami harus menahannya juga. Terpaksa kami mengenakan pampers. Hal yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Mata kabur di balik APD sudah menjadi hal biasa, kadang sampai keringat dingin dan berkunang-kunang, yang kadang menyebabkan kami tumbang dan pingsan, karena dehidrasi dan kelelahan.

Kasus Covid-19 di Kupang dan di NTT saat ini semakin melonjak. Jumlah pasien yang di rawat pun semakin banyak. Ada yang harus mengantre di IGD karena belum mendapatkan tempat.

Dalam kondisi ruangan yang disiapkan terbatas, kami kesulitan mengatur ruangan agar bisa menampung semua pasien yang datang. Fasitilas kesehatan di tempat kami, mungkin juga sebagian besar rumah sakit di NTT tidak seperti di daerah lainnya yang sudah  maju.  Banyak keterbatasannya. Apalagi sarana yang kami gunakan saat ini disiapkan dengan darurat dan tergesa-gesa, karena kasus Covid-19 demikian cepatnya menanjak.

Ketika renovasi dan penyiapan ruang perawatan Covid-19 belum terselesaikan. Kami sudah harus menerima pasien Covid-19 yang bergejala sedang sampai berat untuk dirawat.

Menolak untuk merawat, tidak munkin kami lakukan. Karena merujuk ke tempat lain pun, tidak dimungkinkan. Kami menjadikan gedung bekas asrama yang tidak digunakan lagi. Renovasi belum selesai, pasien Covid-19 yang memerlukan rawat inap sudah membludak. Mau dirawat dimana lagi? Akhirnya dengan kelengkapan seadanya, tempat yang sebenarnya belum siap ini, kami gunakan untuk perawatan isolasi.

Gedung ini terpisah dari kompleks gedung rumah sakit.  Belum ada selasar, dan saat awal belum semua ruangan dilengkapi dengan kelengkapan standard. Namun demikian, aktifitas penanganan pasien Covid-19 harus segera berjalan. Hal yang dirasakan paling berat adalah, ketika perawat dengan APD harus mendorong oksigen yang berat untuk melayani pasien yang terus menerus harus diganti tabung oksigennya. Kebutuhan oksigen pasien Covid-19 sangat tinggi. Bisa 6-8 tabung sehari, tergantung tingkat kerusakan paru yang terjadi.

Berbeda dengan penanganan pasien rawat inap umumnya. Pada penanganan pasien korona, ada berbagai keterbatasan yang tidak bisa dihindari. Salah satunya adalah jadwal kunjungan petugas masuk ke dalam untuk  mengunjungi pasien, yang tidak bisa dilakukan setiap waktu, melainkan pada jadwal tertentu. Mengingat, setiap masuk ke ruangan pasien Covid-19, kembalinya dari sana, petugas harus menanggalkan APD-nya. Kondisi ini disiasati dengan menggabungkan bebrapa kegiatan menjadi satu. Waktu kunjungan petugas, sekalian dilakukan  pemeriksaan, pemberian obat, dan pengantaran makanan. Untuk keluhan-keluhan yang sifatnya tidak emergensi, tidak bisa ditangani setiap waktu.

Kesulitan lain yang kami hadapi adalah saat menerima pasien pasien baru dengan kondisi berat yang memerlukan penanganan yang ekstra cepat atau emergensi, dimana hasil swab PCR sebagai pemeriksaan standar untuk memastikan bahwa pasien tersebut benar-benar terpapar Covid-19, belum bisa dilakukan. Mengingat ada yang lebih penting, yaitu tindakan penyelamatan nyawa, yang perlu dilakukan segera.

Ketika petugas menyampaikan, bahwa pasien tersebut dicurigai Covid-19, dan perlu penanganan secara Covid-19, mereka tidak mau menerima. Bahkan menyudutkan rumah sakit dan menuduh rumah sakit sengaja meng-covid-kan pasien, menuduh rumah sakit memanfaatkan pasien untuk keuntungan rumah sakit, menolak tidak mau diperlaukukan sebagai pasien Covid-19, tidak mau dirawat di ruang isolasi, menolak arahan petugas yang mengimbau agar keluarga jaga jarak dengan pasien, dan berbagai permasalahan lainnya yang sering muncul dan menimbulkan konflik.

Belum lagi kalau pasien tersebut kemudian meninggal, dimana hasil PCR belum ada. Konflik akan menjadi lebih besar lagi. Keluarga seringkali menolak dimakamkan secara Covid-19. Ketika dijelaskan kepada keluarga, tak jarang mereka mencaci maki dengan bahasa yang sangat kasar bahkan perlakuan fisik yang tidak pantas dilakukan mereka kepada kami. Selain itu kami kadang mengalami kesulitan untuk koordinasi dengan lintas sektor dalam hal pemakaman pasien.

Apakah ada keuntungan nakes di balik semua ini? TIDAK! Kami malah berdoa setiap hari kalau perlu segera berakhir pandemi ini. Kami lelah kami merindukan keluarga kami juga. Kami ingin istirahat yang cukup. Kami ingin bisa bekerja normal seperti dahulu. Psikis nakes sangat terbebani. Beberapa di antara nakes kami terpaksa harus berkonsultasi dengan psikolog/psikiater. Kami bahkan tidak bisa merawat keluarga kami sendiri yang sakit di luar sana. Bahkan orang tua nakes yang meninggal pun nakes yang bersangkutan kesulitan untuk melihat orangtuanya karena di angggap sebagai kontak erat pasien Covid-19 dan berhadapan dengan stigma nakes sebagai pembawa virus beresiko untuk keluarganya saat pulang.

Dalam beberapa situasi, keluarga ada juga yang menolak pasien tersebut untuk dirawat, ketika dinyatakan  atau dicurigai Covid-19. Mereka kemudian minta pulang paksa atau mencoba berobat ke rumah sakit lain, berharap di sana tidak dinyatakan Covid-19. Tentunya kondisi ini sangat berisiko. Bisa terjadi penularan Covid-19 ke orang sekitarnya. Barangkali takut terhadap stigma sosial yang sering  terjadi di masyarakat, meskipun sudah dijelaskan, bahwa beberapa gejala khas dan gambaran rongten dan CT scan menunjukkan gambaran khas Covid-19, keluarga  maupun pasien tetap menolak dan memilih pulang paksa.

Pandemi Covid-19 kini masih berlangsung dan semakin melonjak. Kami berharap pemerintah terus menyediakan tempat karantina untuk para nakes Covid-19. Ketersediaan tempat karantina untuk tenaga medis harus tercukupi. Kami pun ingin pulang tetapi berhadapan dengan stigma masyarakat ini, dan kami tidak ingin menularkan virus ini kepada keluarga di rumah. Ruangan di rumah sakit bukanlah tempat ideal bagi para pejuang medis untuk istirahat melepas rasa lelah fisik dan mental.

Tidak hanya petugas medis, petugas pemulasaran jenazah pun mulai kewalahan. Dengan segala keterbatasan tenaga, hampir setiap hari ada pasien yangg meninggal tanpa mengenal waktu, terutama saat pasien meninggal di waktu malam hari. Semua petugas akan bekerja melewati jam kerja dan kekurangan waktu untuk istirahat. Banyak nakes mulai tumbang. Ada yang dinyatakan positif Covid-19. Ada yang tumbang karena kelelahan, tapi karena keterbatasan nakes kami tetap berkorban bekerja ekstra untuk saling membantu satu dengan yang lain, bahkan dokter dan perawat yang dalam keadaan hamil pun turun untuk melayani.

Hal positif yang bisa kami ambil dari semua ini dan yang paling kami syukuri adalah kami di beri kesempatan untuk dapat menolong orang lain sesuai  sumpah profesi kami. Saat pasien dinyatakan sembuh walau hanya ucapan terima kasih dan doa, itu adalah kebahagian yang luar biasa untuk kami. Kami tenaga medis selalu berharap dan berdoa. Semoga situasi ini segera bisa diakhiri, dan kita semua bisa beraktifitas lagi seperti dahulu. Kami juga berharap, pemerintah, masyarakat, dan semua pihak bisa mendukung kami.  TOGETHER WE FIGHT! (*)

*) Dokter Penanggung jawab ruangan Covid-19 RSB Drs. Titus Uly Kupang

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top