Gereja: Merasakan dan Menyembuhkan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Gereja: Merasakan dan Menyembuhkan


Gabriel A. I. Benu. (FOTO: DOK. PRIBADI)

OPINI

Gereja: Merasakan dan Menyembuhkan


(Refleksi atas Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ke-29)

Selayang Pandang

Setiap tanggal 11 Februari, Gereja Katolik secara khusus memperingati Hari Orang Sakit Sedunia. Tahun ini peringatan Hari Orang Sakit Sedunia memasuki usianya yang ke-29 tahun. Peringatan ini menjadi suatu bentuk tanggungjawab dan pelayanan Gereja kepada orang-orang yang mengalami sakit penyakit di dalam kehidupannya. Gereja hadir untuk merasakan sekaligus menyembuhkan mereka yang menderita baik secara fisik maupun mental akibat penyakit maupun tekanan kehidupan yang membebani.

Di lain pihak, peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ini juga menjadi aplikasi nyata dari keberpihakan Gereja pada mereka yang lemah, miskin, dan terpinggirkan. Keberpihakan ini pada dasarnya adalah pilihan mendasar demi penghormatan atas martabat manusia dan tentu tanggungjawab sosial kemanusiaan yang ada di dalamnya.

Gereja melalui Konsili Vatikan II secara khusus dalam Konstitusi Pastoral Gaudium Et Spes telah menegaskan bahwa, “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang saman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.” (GS 1) Dasar inilah yang turut menegaskan keterlibatan Gereja dalam misi pelayanannya pada dunia secara khusus kepada mereka yang sakit dan tak berdaya.

Gereja: Merasakan dan Menyembuhkan

Hanya satu Gurumu dan kamu semua adalah saudara” (Mat 23:8). Kutipan Injil Matius ini merupakan tema yang diangkat secara khusus sebagai tema peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ke-29 pada tahun ini. Tema ini diangkat dalam hubungannya dengan Kritik Yesus pada “kemunafikan orang-orang yang gagal mempraktikan apa yang mereka kotbahkan” (bdk. Mat. 23:1-12). Bila dibaca dalam konteks dewasa ini, Yesus hendak mengkritik hidup beriman yang masih berputar pada pengetahuan akan Tuhan (Fides quae) dan belum atau bahkan tidak sampai pada iman sebagai pengalaman akan Tuhan (Fides qua). Perhatian, kepedulian, pelayanan dan dukungan kepada mereka yang sakit adalah wujud nyata pengalaman akan Tuhan.

Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang percaya kepada Kristus perlu merefleksikan mementum ini. Terhadap mereka yang menderita sakit dan bahkan olah karena pengalaman sakit itu mereka tersingkir dari kehidupan, Gereja (saya dan anda) perlu berupaya untuk hadir dan terlibat bersama mereka. Momentum peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ini menjadi titik awal sekaligus akhir untuk melihat sejauh mana keterlibatan Gereja Keterlibatan itu tidak lain adalah sejauh mana kita turut merasakan dan menyembuhkan mereka yang sakit.

Keterlibatan untuk merasakan dan menyembuhkan mereka yang sakit ini perlu dijadikan sebagai aksi solidaritas antarsesama manusia sembari mengingat bahwa, “pengalaman sakit membuat kita menyadari kerentanan diri dan kebutuhan akan orang lain.”

Gereja (saya dan anda) yang merasakan penderitaan orang-orang sakit adalah Gereja yang semakin menyadari kerentanan dirinya. Menyadari bahwa dia pertama-tama membutuhkan bantuan Kristus, Sang Guru. Tentang keterlibatan Gereja untuk merasakan penderitaan orang-orang sakit, Paus Fransiskus bertolak dari perikop Luk. 10:30-35 menulis,  “Tuhan meminta kita untuk diam dan mendengarkan, untuk membangun relasi langsung dan personal dengan orang lain, untuk merasakan empati dan kasih sayang, dan untuk membiarkan penderitaan mereka menjadi milik kita saat kita berusaha melayani diri mereka”.

Di sisi lain, keterlibatan Gereja untuk ikut berempati dengan orang-orang sakit tidak semata-mata bercorak pasif. Keterlibatan Gereja adalah keterlibatan aktif. Terlibat untuk bangkit bersama dalam upaya menyembuhkan yang sakit. Upaya paling utama dan terutama untuk menyembuhkan mereka yang sakit ialah menuntun mereka untuk sampai pada keterbukaan diri untuk menyadari bahwa penyakit yang mereka alami bukanlah kutukan Tuhan. Gereja perlu hadir untuk menyembuhkan hati dan pikiran serta membawa mereka yang sakit pada suatu tahapan hidup untuk menyadari bahwa pengalaman sakit adalah saat Tuhan menghendaki mereka untuk melihat kehidupan secara lebih bermakna. Bahwasanya mereka tidak mampu hidup dalam kesendirian, egoisme, acuh tak acuh, eksklusif dengan sesamanya, alam maupun dengan Tuhan sendiri.

Selanjutnya, keterlibatan Gereja untuk menyembuhkan mereka yang sakit adalah dengan menyadari tugasnya sebagai elemen penting dalam memperjuangkan mereka yang terabaikan dan terlindas oleh ketidakadilan sosial akibat kemiskinan, ketidakberdayaan dan akses yang terbatas pada sarana-sarana pendukung kehidupan semisal kesehatan, pendidikan dan lapangan pekerjaan.

Misi Gereja di Tengah Wabah Pandemi Covid-19

Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ke-29 di tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Peringatan pada tahun ini terjadi di dalam suasana dunia yang penuh duka dan kecemasan akibat mewabahnya Covid-19. Dinamika kehidupan berubah drastis. Laju pesebaran virus yang masif dan signifikan membuat pemerintah membatasi gerak kehidupan. Orang-orang dipaksa hidup dalam adaptasi kebiasaan baru (AKB), suatu mode kehidupan berdasarkan protokol-protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Di tengah keadaan serba sulit dan terbatas ini, misi Gereja harus tetap berjalan dengan pergeseran bentuk-bentuk pelayanan. Katekese iman dan perayaan-perayaan Sakramen dilakukan secara terbatas bahkan dilakukan secara daring. Pertanyaannya, bagaimana dengan misi pelayanan kepada mereka yang sakit?

Dalam konteks pandemi ini, tugas dan misi Gereja bagi orang-orang sakit tentu mengalami beberapa perubahan. Interaksi langsung tentu sangat dibatasi oleh protokol kesehatan demi mengantisipasi penyebaran covid-19. Pembatasan-pembatasan itu, tidak berarti Gereja tidak menjalankan misinya. Menurut saya misi Gereja pada orang-orang sakit dalam konteks pandemi ini ialah pada upaya-upaya pencegahan pencegahan.

Gereja sebagai rekan kerja pemerintah di dalam menata kehidupan bersama secara khusus pada masa pandemi ini, menyerukan, mendorong dan menjaga secara ketat protokol-protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Di samping itu juga sebagaimana pesan Paus Fransiskus pada peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ini, Gereja perlu terus-menerus menyerukan dan mengingatkan pemerintah mengenai dampak pandemi yang telah memperburuk ketidaksetaraan dalam sistem perawatan, terbatasnya perawatan bagi orang sakit, lansia yang lemah dan rentan, pengelolaan sumber daya kesehatan dan sosial yang koruptif hingga pada perhatian pada tenaga medis yang dengan profesional telah berkorban, bertanggungjawab dan cinta kepada sesama mereka yang sakit.

Penutup

Akhirnya pada peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ini, Gereja tetap mendorong agar semakin banyak manusia bertumbuh di dalam kesetiakawanan yang bertanggungjawab dan peduli pada sesama yang menderita dan kehilangan akibat sakit terutama di masa pandemi ini. Kesetiakawanan yang peduli dan bertanggungjawab di antara setiap orang, terutama di antara tenaga kesehatan dan mereka yang sakit pada akhirny akan menumbuhkan rasa saling percaya sebagai syarat penting di dalam mengupayakan kesehatan.

Semoga semua orang yang sedang sakit di rumah sakit maupun di rumah sakit mendapat anugerah kesehatan dari Tuhan melalui perhatian tenaga kesehatan maupun keluarga. Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat agar kita mesti lebih berbenah diri. Salam sehat dan salve. (*)

*) Alumnus Fak. Filsafat Unwira; Bekerja di Seminari St. Rafael Oepoi-Kupang

Komentar Pembaca

Baca Selengkapnya
Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top