Pemerintah Dinilai Ingkar Janji, Pemilik Lahan Segel SMP-SMA Wederok | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemerintah Dinilai Ingkar Janji, Pemilik Lahan Segel SMP-SMA Wederok


SEGEL. Ahli waris almarhum Frederik Lenggu saat menyegel akses masuk ke SMPN Wederok di Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka. Keluarga ahli waris menilai pemerintah ingkar janji sehingga memutuskan menyegel sekolah ini. Gambar diabadikan Rabu (10/2). (FOTO: PISTO BERE/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Pemerintah Dinilai Ingkar Janji, Pemilik Lahan Segel SMP-SMA Wederok


BETUN, TIMEXKUPANG.com-Pemilik lahan yang menjadi lokasi berdirinya SMP Negeri dan SMA Negeri Wederok, di Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka terpaksa menyegel dua sekolah tersebut.

Pemilik lahan yang merupakan ahli waris dari almarhum Frederik Lenggu dan almarhumah Dominika Abuk memutuskan menyegel sekolah itu dengan alasan bahwa pemerintah telah mengingkari janjinya ketika awal penyerahan tanah itu. Janji pemerintah itu berupa kebijakan memperhatikan anak-anak almarhum Frederik Lenggu agar bisa dipekerjakan di intasi pemerintah setempat.

Terfena A. Lenggu, salah satu ahli waris saat ditemui Timor Express di kediamannya, Rabu (10/2) menjelaskan, saat penyerahan lahan untuk pembangunan sekolah, pemerintah berjanji akan memperhatikan anak-anak dari pemilik lahan berupa pemberian pekerjaan di pemerintah sebagai tenaga kontrak.

Menurut Terfena, selama ini pemerintah sudah menunaikan janjinya dengan merekrut beberapa anggota keluarga ahli waris dan dipekerjakan di instansi pemerintahan, yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebanyak tiga orang, kantor Camat Malaka Barat (1 orang), Kantor Dinas PUPR (1 orang), dan satu orang bekerja di SMA Negeri Harekakae.

Dikatakan, saat memasuki tahun 2021, SK kontrak daerah keluar, ternyata beberapa nama dari keluarga ahli waris itu sudah tidak ada dalam kontrak.

“Kenapa saat ini nama anak-anak kami dikontrak tidak keluar. Saat penyerahan tanah kan dengan perjanjian, agar anak-anak diperhatikan siapapun pemimpinnya,” ungkap Terfena.

Karena sudah tidak ada lagi nama anggota keluarga ahli waris dalam SK kontrak daerah, kata Terfena, keluarga memutuskan menyegel agar tidak ada lagi akses ke dua sekolah itu.

“Kami sudah kasih tanah untuk bangun sekolah SMP dan SMA, kenapa anak-anak kami tidak diperhatikan. Kami sangat kecewa karena kami merasa pemerintah telah melanggar perjanjian,” tegas Terfena.

Terfena menegaskan, walaupun Pemerintah berganti pemimpin atau dalam situasi apapun, agar tetap memperhatikan keluarga pemilik lahan. “Kami hanya butuh perhatian pemerintah sesuai perjanjian. Kita ini seperti mengemis, padahal kita serahkan tanah ke pemerintah dengan perjanjian jelas. Penyerahan tanah itu dengan perjanjian di atas materai. Kami hanya butuh diperhatikan, kami tidak butuh pengawai negeri. Semua lahan sudah diserahkan secara gratis,” urai Terfena yang tampak kesal.

Terpisah, Kepala SMP Wederok, Yohanes Bria, S.Pd, saat ditemui Timor Express di ruang kerjanya, Rabu (10/2) mengatakan, terkait penyegelan sekolah tersebut ia tidak mengetahui apa masalahnya.

“Saya sendiri tadi pagi baru di informasikan oleh guru-guru bahwa sekolah sudah disegel oleh pemilik lahan,” ungkapnya.

Menyikapi persoalan ini, dirinya akan mengadakan rapat dengan guru-guru agar mencari solusinya.

Menurut Yohanes, ia ditugaskan untuk mengelola sekolah ini. “Terkait persoalan sampai sekolah ini disegel sampai saat ini kami belum mengetahui persoalannya,” katanya.

Yohanes menambahkan, ia akan berusaha melakukan mediasi dengan pihak keluarga, jika tidak ada jalan penyelesaian, baru disampaikan ke dinas.

“Tentu sekolah harus menyelesaikan secara interen, dengan solusinya. Kami masih cari solusi terbaik, sebab kita tidak ingin para siswa menjadi korban,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Kepala SMA Negeri Wederok, Wandelinus Tahu Bria S.Pd. Wandelinus mengaku dirinya belum mengetahui pokok persoalan hingga adanya penyegelan itu. Karena itu, Wandelinus mengaku akan menempuh upaya mediasi dengan orang tua dan tokoh masyarakat guna mencari solusi penyelesaian masalah ini agar para siswa tidak menjadi korban.

Ketua Komite SMA Negeri Wederok, Alfonsius Tae Bria saat ditemui usai rapat bersama guru-guru mengatakan, pihaknya belum mengetahui pokok masalah dibalik penyegelan sekolah ini. Alfonsius mengaku masih mencari informasi dan upaya untuk dapat menyelesaikan persoalan ini. (mg30)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top