Catatan Truk Flores Terkait Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Bikin Miris | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Catatan Truk Flores Terkait Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Bikin Miris


BEBER DATA KEKERASAN. Pimpinan Truk-F, Suster Esthocia, SSps, didampingi Staf Divisi Perempuan dan Anak, Heny Dunang saat menyampaikan data kekerasan terhadap perempuan dan anak yang diadvokasi lembaga itu bertempat di aula Theresia Avila Maumere, Senin (8/2). (FOTO: KAREL PANDU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Catatan Truk Flores Terkait Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Bikin Miris


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Data Divisi Perempuan Tim Relawan Untuk Kemanusian Flores (Truk-F) terkait angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sikka dan Ende selama tahun 2020 ternyata bikin miris.

Pimpinan Truk-F, Suster Esthocia, SSps, Senin (8/2) di Maumere menyebutkan, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak selama tahun 2020 meningkat drastis.

“Selain masalah Covid-19 yang melanda Indonesia, kita juga masih diterpa maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Data Komnas Perempuan selama bulan Maret hingga Mei 2020 saja, ada sebanyak 1.299 kasus kekerasan terhadap perempuan dewasa dan anak perempuan. Demikian pula yang dilaporkan dari Kabupaten Sikka dan Ende, terus saja terjadi,” ungkap Suster Esthocia.

Suster Esthocia mengatakan, Divisi Perempuan Truk-F sebagai lembaga yang menyediakan layanan kepada korban, terus melakukan edukaksi kepada masyarakat dan menuntut tanggung jawab negara untuk menghadirkan kebijakan yang responsif gender. Salah satu cara yang dilakukan Truk-F adalah mempublikasikan catatan akhir tahun data kekerasan terhadap perempuan dan anak (Catahu).

“Catahu ini dipublikasikan untuk memberikan gambaran kepada publik tentang besaran angka kasus dan korban, bentuk-bentuk kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak, pola kekerasan, tren kekerasan dan rekomendasi. Data yang disajikan merupakan data kasus riil yang diadukan langsung oleh korban kepada Truk-F,” kata Suster Esthocia.

Suster Esthocia mengungkapkan, sepanjang tahun 2020, Truk-F menangani dan mendampingi 114 orang perempuan dan anak korban kekerasan. Rinciannya, dari 60 korban, sebanyak 41 anak perempuan dan 19 anak laki-laki. Sementara perempuan dewasa yang mengalami kekerasan sebanyak 54 orang. Jika dibandingkan tahun sebelumnya (2019), hanya terdata 92 orang korban. Dengan demikian, jumlah korban kasus kekerasan sepanjang tahun 2020 mengalami kenaikan sebesar 24 persen.

Suster Esthocia menguraikan, kasus kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga (KDRT) selama tahun 2020 berjumlah 87 korban (76 persen). “Ini jumlah yang melakukan pengaduan ke Truk-F,” sebut Suster Esthocia.

Tahun-tahun sebelumnya, demikian Suster Esthocia, angka KDRT menduduki urutan pertama dari sisi jumlah korban. Sementara tahun 2020 tercatat 73 korban KDRT. Dari jumlah korban tersebut, sebanyak 28 orang korban berstatus isteri. 14 orang berstatus isteri sah, sementara 14 orang lainnya berstatus isteri tidak sah. Selain itu, sebanyak 41 korban kekerasan dialami oleh anak-anak, dimana sebanyak 4 orang diantaranya berstatus family.

Suster Esthocia menambahkan, 54 orang dari 73 korban itu mengalami tindak kekerasan psikis. Sebanyak 22 orang masih anak-anak, sedangkan 32 orang adalah perempuan dewasa. Selanjutnya kekerasan fisik dialami 48 orang korban. Rinciannya 21 orang dialami anak-anak dan 27 dialami oleh perempuan dewasa. Sedangkan khusus kekerasan seksual dialami oleh 11 orang. Tiga orang diantaranya masih anak-anak, family 1 orang, dan 7 isteri mengalami marital rape (Perkosaan dalam perkawinan).

BACA JUGA: Kekerasan Seksual di Sikka Capai 615 Kasus, Sr Esthocia Ungkap Hal yang Bikin Miris

Bukan cuma itu saja. Suster Esthocia juga membeberkan adanya kekerasan ekonomi atau penelataran rumah tangga yang dialami oleh 61 orang korban. Sebanyak 38 orang diantaranya dialami oleh anak-anak, dan 24 orang lainnya dialami oleh isteri. Lebih mirisnya lagi terdapat dua kasus KDRT dimana isteri dijual oleh suaminya sendiri.

“Kekerasan terhadap perempuan dan anak memang terus meningkat, bakan ada dua kasus KDRT dimana suami tega menjual isterinya kepada lelaki hidung belang,” sebut Suster Esthocia.

Salah satu staf Truk-F Bidang Divisi Perempuan dan Anak, Heny Dunang kepada media ini menambahkan, dari 73 korban KDRT, terdapat 69 orang mengalami kekerasan berlapis.

Dikatakan, tahun 2020 juga terjadi kekerasan dalam pacaran dan tercatat 14 orang mengalami kekerasan seksual. Sebanyak 7 orang dialami oleh anak-anak dan 7 orang lainnya dialami oleh perempuan dewasa. Dari 14 kasus kekerasan seksual itu, sebanyak 9 orang korban positif hamil.

Sementara dalam ranah komunitas sepanjang tahun 2020, kata Heny, tercatat sebanyak 27 orang melakukan pengaduan ke Truk-F. Dari jumlah pengaduan itu, sebanyak 17 orang mengalami kekerasan seksual, dimana 12 orang masih berstatus anak-anak dan 5 orang dialami perempuan dewasa.

Heny juga membeberkan, kekerasan psikis dialami oleh 3 orang anak dan 8 orang perempuan dewasa. Kekerasan fisik dialami oleh 4 orang korban, dimana dua diantaranya dialami dua orang anak dan dua orang perempuan dewasa. Kekerasan berbasis gender on line dialami oleh satu orang, sementara perdagangan perempuan dewasa terjadi di pub yang dialami oleh empat orang korban.

Heny menyebutkan, dilihat dari status pendidikan, baik terhadap pelaku maupun korban, ternyata beragam status pendidikan mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi (S1 dan S2). Para korban terdiri dari pelajar, ibu rumah tangga, PNS, guru, bidan, karyawan swasta, wiraswasta, pembantu rumah tangga, dan papa lele sayur. Sedangkan pelaku terdari PNS, dosen, tokoh agama (pastor), polisi, karyawan swasta, guru, mahasiswa, buruh, tukang ojek, petani, nelayan, wiraswasta, perangkat desa, montir, pelajar, calo, dan pemilik Pub.

“Para korban dimulai dari pelajar ibu rumah tangga, hingga PNS, pegawai pada perusahaan swasta sampai pada pembantu rumah tangga,” ujar Heny.

Heny menyebutkan, untuk Kabupaten Sikka, Truk-F menerima pengaduan dari 92 korban. Jumlah ini tersebar di Kecamatan Paga, Mego, Lela, Bola, Talibura, dan Waigete. Kemudian Kecamatan Kewapante, Nelle, Nita, Alok, Alok Timur, Koting, Kangae, Hewokloang, Doreng, dan Magepanda.

Sedangkan untuk Kabupate Ende, Truk-F menerima pengaduan dari 10 korban. Para korban berasal dari Ende Tengah (5 orang), Wewaria (2 orang), Penggajawa (1 orang), Wolomaru (1 orang), dan Watoneso (1 orang). Untuk Kabupaten Ngada Truk-F menerima pengaduan dari 5 orang korban yang berasal dari Riung. Sementara di Kabupaten Lembata ada 6 orang yang mengadu. Mereka berasal dari Omesuri, dan Kabupaten Sumba Barat Daya sebanyak 1 orang yang berasal dari Waetabula. (Kr5)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top