Perang Melawan Covid-19, Pemkot Kupang akan ‘Persenjatai’ RT-RW | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Perang Melawan Covid-19, Pemkot Kupang akan ‘Persenjatai’ RT-RW


Wawali Kupang, dr. Herman Man saat menjadi pembicara di Obrolan Malam FAN-WVI-Pemkot, Sabtu (13/2). (FOTO: Tangkapan layar YouTube FAN)

KABAR FLOBAMORATA

Perang Melawan Covid-19, Pemkot Kupang akan ‘Persenjatai’ RT-RW


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Sejak kasus pertama terkonfirmasi positif Covid-19 muncul di NTT, khususnya di Kota Kupang pada 9 April 2020 lalu, hingga kemarin (13/2), di Bumi Flobamora sudah ada 7.283 kasus korona. Dari jumlah itu, yang sudah sembuh sebanyak 4.169 orang, sementara dirawat di rumah-rumah sakit maupun karantina mandiri sebanyak 2.919 orang, dan yang meninggal dunia berjumlah 195 pasien.

Dari total kasus di NTT, setengahnya ada di Kota Kupang, yakni sebanyak 3.379 kasus terkonfirmasi positif korona. Dari jumlah itu, yang masih dirawat 1.874, sembuh 1.419 orang, dan meninggal 86 pasien. Disamping itu, untuk pasien berstatus probable di Kota Kupang ada 44 kasus.

Mirisnya, dari jumlah itu, yang meninggal tercatat 42 orang, dan masih dirawat dua orang. Catatan pasien probable sembuh di Kota Kupang belum ada. Selanjutnya yang berstatus suspek ada 442 kasus, dimana dalam pantauan 5 kasus, selesai dipantau 427 kasus, dan meninggal 10 orang.

Bagaimana dengan yang kontak erat? Gugus Tugas Covid-19 NTT mendata ada 3.563 kasus kontak erat di Kota Kupang. Masih dipantau 22 kasus, dan selesai dipantau 3.541 kasus.

Menyikapi tingginya angka penularan Covid-19 Kota Kupang, Forum Academia NTT (FAN) bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Pemkot Kupang menggelar Obrolan Malam bertajuk “Kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat dan Gerak Komunitas di Kota Kupang” secara virtual, Sabtu (13/2) malam.

Moderator FAN, Dominggus Elcid Li kepada TIMEXKUPANG.com menjelaskan, obrolan ini untuk mengetahui bagaimana strategi Pemkot Kupang dalam menangani pandemi Covid-19 dengan penerapan pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), juga pandangan ahli kesehatan masyarakat, dan aktivis akar rumput serta warga tentang strategi memerangi Covid-19.

Elcid menyebutkan, Obrolan Malam ini menghadirkan empat pembicara, yakni Wakil Wali (Wawali) Kota Kupang, dr. Hermanus Man, Dr. dr. Hyron Fernandez, M.Kes (Ketua IAKMI Provinsi NTT), Pdt. Emmy Sahertian (Aktivis FAN), dan Agus Nahak, salah seorang warga Kelurahan Kayu Putih, Kota Kupang. Host obrolan ini adalah Irene Arifajar dari WVI, dan Wilson Therik (FAN).

Dalam obrolan yang dipantau langsung TIMEXKUPANG.com melalui kanal FAN diakun YouTube, Wawali Herman Man mengatakan bahwa saat ini Pemkot Kupang sedang berusaha meredam laju peningkatan kasus Covid-19 dengan menerapkan PPKM. Bahkan sedang mempertimbangkan untuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berskala Kecil atau mikro (PPKMBK) ditingkat RT/RW.

“Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan tiga aspek penting, yakni kesehatan, ekonomi, dan aspek sosial,” ungkap Herman Man.

Terkait penerapan pembatasan kegiatan masyarakat berskala kecil, Herman Man mengatakan bahwa, Pemkot Kupang akan ‘mempersenjatai’ aparatur di tingkat RT/RW sebagai garda terdepan bersama masyarakat dalam memerangi pandemi ini. “Intinya adalah pelibatan masyarakat secara nyata dalam upaya pencegahan Covid-19 ini,” ujar Herman.

Persenjatai yang dimaksud Wawali Herman adalah mendukung peran RT/RW dengan anggaran khusus sehingga mereka bersama Satgas di Kelurahan dapat bekerja secara maksimal memastikan setiap warganya menjalankan protokol kesehatan dengan 5M dan 3T.

Herman menjelaskan, Pemkot memang belum mengeluarkan edaran mengenai peran Satgas Kelurahan dalam memerangi pandemi hingga ke tingkat RT/RW. Meski demikian, sebut Herman Man, pihaknya telah merumuskan sedikitnya lima tugas yang harus dilakukan di 51 kelurahan pada enam kecamatan di Kota Kupang.

Pertama, membantu mendata seluruh warga kategori orang tanpa gejala (OTG). Kedua, mengejar orang dengan kontak erat. “Ini nanti bersama putugas kesehatan di setiap Puskesmas yang sudah ada timnya. Nanti satu orang bertugas cari dua orang yang punya kontak erat. Ini semua harus didata bisa 30 sampai 40 kontak, tergantung interaksi sosialnya. Itu harus dikejar semua, meski kita juga punya keterbatasan,” sebut Herman Man.

Selanjutnya ketiga, mengawasi pergerakan OTG. “Ini juga penting diawasi di tingkat RT/RW karena kasus di Kota Kupang saat ini tinggi karena ada yang OTG, tapi tidak tinggal di rumah. Nanti kita minta RT/RW awasi pergerakannya sehingga tidak jalan sembarangan,” sebut Wawali.

Keempat, memastikan warga di lingkungan RT/RW masing-masing sudah dilakukan 3T, yakni tracing, testing, dan treatmen. Ini nanti dilakukan bersama tim dari tenaga kesehatan di Puskesmas, karena 3T itu adalah urusan kesehatan, sedangkan 5M itu urusan masyarakat. Tenaga kesehatan bertugas melakukan tracing terhadap kontak erat, tugas RT/RW memastikan warga di wilayahnya yang kontak erat di-tracing. Karena itu, dibutuhkan kejujuran masyarakat agar bisa di-tracing.

Tugas kelima, kata Herman Man, adalah membentuk sistem keamanan lingkungan (Siskamling) di wilayahnya masing-masing. Bagaimana RT/RW memastikan agar warganya tertib pakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas di luar rumah.

Wawali menuturkan, upaya lain yang dilakukan Pemkot Kupang dalam mencegah dan menurunkan angka penyebaran Covid-19 adalah mengadakan Laboratorium PCR, yang diharapkan dalam waktu dekat sudah bisa beroperasi sehingga memudahkan dalam proses pemeriksaan sampel.

Saat ini atas permintaan Gubernur NTT, Pemkot me-refocusing anggaran lebih kurang Rp 80 miliar untuk penanganan pandemi ini, salah satunya mengalokasikan sepertiga anggaran itu sekira Rp 20 miliar hingga Rp 23 miliar untuk mengadakan Laboratorium PCR. Laboratorium ini ditargetkan dapat memeriksa sekira 400-500 sampel setiap hari untuk mencegah penumpukan sampel di laboratorium PCR milik Pemprov NTT.

Ketua Daerah Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hyron Fernandez mengatakan bahwa apa yang dikemukakan Wawali Herman Man terkait akan dilibatkannya masyarakat diunsur terkecil, yakni RT/RW ikut memerangi Covid-19 merupakan harapan yang perlu diwujudkan. Karena pelibatan masyarakat secara nyata merupakan kunci memerangi masalah pandemi.

Selama ini, kata dr. Hyron, aktor yang tampil masih dari pemerintah, sementara masyarakat diposisikan sebagai korban yang harus ditolong. Padahal dalam pendekatan public health, pemberdayaan masyarakat itu merupakan salah satu kata kunci yang paling penting.

“Pemberdayaan untuk apa? Pemberdayaan untuk pencegahan. Tadi Bapak Wawali sudah katakan bahwa 3T itu urusan kesehatan, dan 5M itu urusan masyarakat. Ya itu, tapi pelibatan masyarakat itu harus terorganisir. Itu kuncinya. Sementara itu, pelibatan masyarakat secara terorganisir kita tidak lihat selama ini,” ungkap dr. Hyron.

Menurut dr. Hyron, pelibatan RT/RW secara terorganisir adalah untuk mencegah terhadap pandemi ini. Selama ini upaya pemerintah dalam mencegah pandemi dengan menerapkan PSBB, PSBB regional, PPKM, setelah melalui evaluasi tidak berjalan maksimal karena tidak adanya pelibatan masyarakat dalam hal ini.

“Karena itu kami di IAKMI akan sangat senang dengan pendekatan yang langsung menjadikan masyarakat sebagai subyek untuk berperang melawan Covid-19. Sebenarnya kami harapkan dari dulu, tapi okelah belum terlambat karena curva kita juga belum pernah turun. Seluruh Indonesia belum pernah turun (Curva Covid-19, Red). Ini masih panjang kalau kita tidak perbanyak 3T dan implementasi 5M melalui masyarakat yang terorganisir,” tandas dr. Hyron.

Hal tak jauh beda dikemukakan Pdt. Emmy Sahertian, salah satu aktivis FAN yang juga menjadi pembicara dalam obrolan tersebut.

Menurutnya, penanganan pandemi ini tidak saja melihat sebagai bencana tapi perang, sehingga untuk memenangkan peperangan melawan pandemi harus dengan strategi menggunakan kekuatan basis di masyarakat.

Pdt. Emmy juga mengaku bahwa berdasarkan pengamatannya terhadap penanganan pandemi di wilayahnya, antara relawan, RT, dan Puskesmas tidak menunjukan adanya sinergitas yang baik. “Nah ini perlu diperbaiki sehingga ada sinergitas,” harapnya. (aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top