Tiga Tahun Buron, Jaksa Ringkus Wily Sonbay Terkait Korupsi Jalan Perbatasan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Tiga Tahun Buron, Jaksa Ringkus Wily Sonbay Terkait Korupsi Jalan Perbatasan


AKHIR PELARIAN. DPO terpidana kasus korupsi peningkatan jalan perbatasan Kefamenanu-Nunpo TA 2013, Wily Sonbay (bertopi) saat diamankan Tim Kejari TTU dan Tim Buser Polres TTU di sebuah kali di Desa Naob, Kecamatan Noemuti Timur, TTU, Senin (15/2) petang. Hingga berita ini dipublish, Willy telah dibawa ke Rutan Klas II Kefamenanu. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Tiga Tahun Buron, Jaksa Ringkus Wily Sonbay Terkait Korupsi Jalan Perbatasan


KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Pelarian Wily Sonbay, DPO kasus tindak pidana korupsi proyek peningkatan jalan perbatasan yang menjadi buronan selama kurang lebih tiga tahun berakhir Senin (15/2) sore.

Aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) TTU dalam senyap terus bekerja menuntaskan proses hukum kasus tindak pidana korupsi proyek peningkatan jalan perbatasan yang belum selesai proses hukumnya hingga kini.

Buktinya, Tim dari Kejari TTU di bawah pimpinan Pelaksana tugas (Plt) Kajari, Agustinus Baka didampingi Kasi Pidsus, Noven Bulan dan Tim Buser Polres TTU berhasil meringkus Wily Sonbay, di Desa Naob, Kecamatan Noemuti Timur, TTU.

Sesuai data yang dihimpun Timor Express dari sejumlah sumber terpercaya menyebutkan, Wily Sonbay diringkus Tim Kejari bersama Tim Buser Polres TTU di sebuah kali yang terdapat di Desa Naob.

Saat diamankan, Wily sementara mengendarai sebuah mobil dump truk saat hendak menuju ke kali. Saat diamankan, terpidana meminta kepada tim untuk menunjukkan surat perintah penangkapan.

Permintaan tersebut dipenuhi tim kejaksaan sehingga Willy yang telah menjadi DPO itu tak dapat berkomentar banyak, dan hanya pasrah. Tim Kejari TTU langsung mengamankan yang bersangkutan guna menjalani hukuman kurungan badan sesuai hasil putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) selama empat tahun.

Wily Sonbay langsung digiring Tim Kejari dikawal ketat Tim Buser Polres TTU ke kantor Kejari TTU guna menjalani pemeriksaan kesehatan dan interogasi.

Usai pemeriksaan kesehatan oleh tim medis, Wily Sonbay langsung dibawa ke Rutan Kelas II Kefamenanu untuk menjalani hukuman kurungan badan selama empat tahun penjara. Proses evakuasi menuju Rutan disaksikan langsung Plt Kajari TTU, Agustinus Baka yang telah mendapat promosi menjadi Kajari Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Turut hadir dalam proses evakuasi tersebut, yakni Kasi Pidsus, Noven Bulan yang juga dipromosi menjadi Kasi Intel Kejari Kota Kupang, Kasi Pidum Kejari TTU, Santy Efraim dan seluruh jaksa di Kejari TTU.

Plt Kajari TTU, Agustinus Baka Kepada Timor Express, Senin (15/2) malam mengatakan, terpidana Wily Sonbay merupakan kontraktor pelaksana CV. Berkat Ilahi yang mengerjakan jalan perbatasan. Berdasarkan putusan kasasi MA pada tahun 2018 lalu, putusan hukuman untuk Willy adalah kurungan badan selama empat tahun, uang pengganti kerugian negara Rp 613.123.206 subsidiair 1 tahun penjara, dan denda sebesar Rp 100.000.000 subsidiair 6 bulan kurungan badan.

Dikatakan, pasca putusan kasasi MA keluar, terpidana Wily Sonbay tidak kooperatif untuk menjalani hukuman tersebut dan berusaha melarikan diri. Bahkan selalu menghindar dari pantauan tim Kejari TTU.

Karena itu, terpidana Wily Sonbay akhirnya ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejari TTU sejak 2018 lalu, dan baru berhasil diringkus hari ini (15/2).

“Tidak ada manusia yang kebal hukum di bumi ini. Jika terbukti bersalah harus menjalani hukuman, bukan melarikan diri,” kata Agustinus.

Agustinus menambahkan, proses eksekusi terhadap terpidana Wily Sonbay, untuk perkara tindak pidana korupsi pengerjaan proyek peningkatan ruas jalan perbatasan Kefamenanu-Nunpo tahun anggaran 2013. Dalam pelaksanaannya ternyata terdapat kekurangan volume pekerjaan sehingga negara dirugikan sekitar Rp 600 juta lebih.

Dijelaskan, perkara ini juga telah dilakukan penyidikan oleh penyidik Kejari TTU tahun 2017 dan dilimpahkan ke pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Kupang dan diputus bersalah. Namun kemudian baik terdakwa maupun penuntut umum bersama-sama melakukan upaya hukum banding dan kasasi.

“Saat masih menunggu putusan kasasi Mahkamah Agung, penahanan terdakwa habis sehingga dikeluarkan demi hukum. Putusan Mahkamah Agung kemudian baru kami terima tanggal 18 September 2018, dan ketika mau melakukan eksekusi, terpidana tidak berada di tempat karena itu ditetapkan sebagai DPO,” jelasnya.

Atas penetapan status DPO tersebut, tim Kejari TTU berkoordinasi dengan Tim Buser Polres TTU melakukan pencarian dan baru berhasil menemukan terpidana di sebuah kali di Desa Naob, Kecamatan Noemuti Timur, TTU.

“Penangkapan tadi ini menunjukkan sinergitas antara Kejaksaan dengan Polri di dalam memberantas tindak pidana korupsi di Kabupaten TTU,” pungkasnya. (mg26)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top