Gubernur Terus Genjot, Bank NTT Jadi Bank Devisa | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Gubernur Terus Genjot, Bank NTT Jadi Bank Devisa


BERSAMA. Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, diapit para komisaris dan direksi seusai pelantikan Direktur Pemasaran Dana Bank NTT, Paulus Stefen Paulus Messakh, di aula Fernandez Gedung Sasando, Kamis (11/2) lalu. (FOTO: STENLY BOYMAU/TIMEX)

Advetorial

Gubernur Terus Genjot, Bank NTT Jadi Bank Devisa


“NPL, Struktur dan Mindset di Bank NTT Harus Berubah, Buka Diri dengan Investor”

DUKUNGAN kepada Bank NTT agar menjadi bank devisa di tahun 2023 terus berdatangan. Malah Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) memiliki sejumlah konsep brilian agar bank yang dinahkodai Harry Alexander Riwu Kaho ini menjadi bank yang mapan. Memiliki modal inti minimum Rp 3 triliun di tahun 2023. Diantaranya adalah, Gubernur VBL menyerukan agar jumlah kredit macet (Non Performing Loan/NPL) harus turun, struktur harus terisi dan dalam kondisi prima untuk bekerja keras secara tim, serta mindset pada sistem Bank NTT harus berubah.

Penegasan ini disampaikan Gubernur VBL, saat melantik Paulus Stefen Messakh sebagai Direktur Pemasaran Kredit Bank NTT, pada 10 Februari 2021, di aula Fernandez lantai 4 kantor Gubernur NTT. Untuk diketahui, Paulus Stefen Messakh diangkat sumpah menjadi Direktur Pemasaran Kredit berdasarkan hasil persetujuan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas Penilaian Kemampuan dan Kepatutan calon Direktur Pemasaran Kredit sesuai surat OJK No. SR-427/PB.12/2020 tanggal 30 Desember 2020. Surat itu berisi usulan kepada Pemegang Saham untuk menetapkan dan mengangkat Paulus Stefen Messakh, SE sebagai Direktur Pemasaran Kredit pada PT Bank Pembangunan Daeran Nusa Tenggara Timur.

Kepada wartawan, Gubernur VBL sangat bersemangat ketika diwawanarai mengenai upaya yang dilakukan oleh Bank NTT saat ini, untuk mengejar predikat Tingkat Kesehatan Bank Dua (TKB II). Dan, baginya ini tidaklah mudah. Butuh sentuhan-sentuhan pada bank ini, agar terjadinya akselerasi di semua lini, hingga visi itu tercapai.

“Kedepan kita harus mengejar tingkat kesehatan bank menuju TKB II. Syaratnya seluruh direksi harus terisi. Kita bersyukur karena saudara Paulus Stefen Messakh ini setelah kita ajukan ke OJK, dinyatakan patut dan layak untuk dilantik menjadi Direktur Pemasaran Kredit,” tegas VBL.

Untuk diketahui, mengenai upaya Bank NTT meraih predikat TKB II ini, jajaran direksi tidak berpangku tangan. Melainkan sejak tahun lalu, mereka secara bersama-sama mencanangkan sebuah program, Go TKB II, dan program ini diarsiteki oleh Direktur Kepatuhan Bank NTT, Hilarius Minggu. Bank NTT sudah menghadirkan konsep-konsep, juga membentuk tim internal untuk mengawal semangat ini. Termasuk mendesain aplikasi untuk evaluasi dan monitoring, sudah sejauh mana realisasi program menuju ke TKB II.

Masih menurut Gubernur VBL, target yang harus dicapai oleh Bank NTT adalah berat. Karena, pada tahun 2023 mendatang, bank ini harus beroperasi sebagai bank devisa. “Target kita kan berat. Tahun 2023 kita harus operasi bank ini sebagai bank devisa. Karena itu seluruh NPL, struktur, dan mindset bank ini harus berubah,” tegas gubernur dengan nada serius. Baginya, jumlah kredit macet harus turun, struktur harus seluruhnya terisi serta mindset seluruh pihak yang mengabdi di Bank NTT harus diperbarui.

Untuk mendukung mimpi besar itu, dalam RUPS Luar Biasa 2021 yang diselenggarakan secara virtual melalui layanan video converence, dan dihadiri oleh seluruh kepala daerah itu, Gubernur VBL menegaskan bahwa seluruh Pemda harus aktif menghadirkan regulasi untuk ‘mengamankan’ posisi Bank NTT. Yakni, terkait dengan modal inti minimum Rp 3 triliun di tahun 2024.

“Dalam RUPS juga dibicarakan tentang Perda. Dan itu untuk sampai ke situ, setoran intinya harus Rp 3 Triliun di 2024. Tadi sudah diputuskan, masih beberapa Pemda yang belum menyelesaikan Perdanya,”ujar gubernur sembari menambahkan, pihaknya tidak semata menunggu Perda, melainkan membuka diri dengan hadirnya investor.

“Kita sudah siapakan dengan upaya lain, menawarkan saham minimun sesuai aturan perundang-undangan ke pihak investor. Untuk itu kita belum putuskan mana yang berminat, tapi kita sementara persiapkan agar 2024 nanti saat ditetapkan aturan baru ini, bank ini sudah dapat diselesaikan,”pungkas gubernur.

BACA JUGA: Lantik Stefen Messakh Jadi Direktur Pemasaran Kredit Bank NTT, Gubernur VBL Bicara Bank Devisa

Pernyataan ini sangatlah beralasan, karena memang di dalam RUPS LB Bank NTT 2021 itu, salah satu agendanya adalah laporan proses penerbitan Peraturan Daerah dan rencana penambahan setoran modal masing-masing Pemerintah Daerah dalam rangka pemenuhan modal inti Rp 3 Triliun diakhir tahun 2024. Dan setiap kepala daerah saat itu melaporkan progress Perda tersebut.

Komut: Semua Pemda Beri Support

Komisaris Utama Bank NTT, Juvenile Jodjana, di sela-sela pelaksanaan RUPS LB Bank NTT 2021, di kantor gubernur pun menyambut apa yang ditegaskan Gubernur VBL dalam pernyataannya kepada media. Bahwa demi akselerasi dalam percepatan kinerja perbankan maka pihaknya mempercepat proses pengisian jabatan Direktur Pemasaran Dana Bank NTT yang lowong saat ini, pasca berakhirnya masa tugas Absalom Sine. Sebagai antisipasi, jabatan ini sementara dipegang oleh Direktur Utama, Harry Alexander Riwu Kaho.

“Kita segera mencari pengganti Direktur Dana. Tadi Pak Gubernur sudah menyampaikan kepada kita kriteria-kriteria yang cocok seperti apa. Kalau kita berhasil meraih TKB II di bulan Juni nanti, kita akan fokus mencapai Bank Devisa dalam dua tahun ini. Artinya kita perlu Direktur Dana yang menguasai aspek-aspek perbankan dalam pengembangan, apabila kita sudah men capai bank devisa,” tegas Juvenile sembari menyebut standar kualifikasi calon direksi baru itu. Diantaranya harus menguasai produk-produk  LC dan sebagainya.

“Karena itu, ke depan kita akan lebih berhati-hati lagi mencari pengganti Direktur Dana. Semoga satu dua bulan ini sudah selesai prosesnya,”tegas dia lagi. Sedangkan dalam mencapai modal inti Rp 3 triliun, menurutnya, seluruh Pemda memberi support positif.

“Hampir seluruh Pemda support. Ada satu dua yang masih berproses Perdanya namun rata-rata semua support. Tetapi, kita ini kan sekarang dalam kondisi ‘krisis’ dalam pandemi Covid-19 sehingga bisa saja, dalam Perdanya sudah ada, namun realisasinya tidak sebesar itu. Ini kemungkinan yang bisa terjadi. Bisa saja. Ada penyesuaian potongan. Contoh, tadinya Pemda Malaka yang bisa support Rp 15 M, namun hanya bisa merealisasikan Rp 10 M,”tegas Juvenile. Sehingga atas fakta itu, pihaknya harus ekstra hati-hati, jika di Perda menyebut sebuah angka namun ternyata terjadi refocusing karena kejadian luar biasa.

“Ini kita harus hati-hati sehingga Pak Gub tidak mau menganmbil risiko, melainkan mengambil sikap berhati-hati, dengan strategi menggandeng investor.  Strategi investor ini, syaratnya adalah yang bisa membantu bisnis Bank NTT itu sendiri. Dan sahamnya pun tidak boleh lebih dari Pemprov. Misalnya saat ini saham Pemprov 27 persen, maka dia harus 20,” bebernya.

Baginya, kerjasama dengan investor haruslah dijajaki sejak sekarang. “Karena ini soal waktu. Ini soal 2024. Kalau kita menunggu, tiba-tiba tidak mampu, kita baru cari investornya, bisa saja tidak ada, atau malah harganya sudah tinggi,” tambahnya.

Dan terkait rencana menggandeng investor, menurutnya, pihak komisaris Bank NTT mendukung penuh. “Karena ini penting. Modal ini penting. Karena ke depan, bank itu berlomba-lomba dan modal itu menjadi prioritas. Dan bank yang tidak mencapai modal Rp 3 T, akan dimerger atau dilikuidasi. Atau turun menadi BPR. Kita kan tidak mau itu, turun ke BPR. Malu kan. Nah, pride kita itu di sini,”tegas Juvenile lagi.

Dan pihaknyanya bersyukur karena saat dibahas dalam RUPS LB beberapa jam sebelumnya, seluruh pemegang saham setuju.  “Tadi (Saat RUPS), semua sepakat. Dewan Komisaris dan Direksi, kita mencari investor. Bagi saya ini bagus. Kita butuh investor yang berpikir untuk jangka panjang, dan bukan short time go. Di beberapa daerah juga demikian. Group Chairul Tanjung juga sudah di Bengkulu, dia sudah masuk ke Sulut Go. Ini sesuatu yang lumrah,” pungkasnya. (boy)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya Advetorial

To Top