Dirut Optimistis Capai Rp 3 T, Kinerja Bank Setara Dua Engine | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Dirut Optimistis Capai Rp 3 T, Kinerja Bank Setara Dua Engine


Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho. (FOTO: ISTIMEWA)

Advetorial

Dirut Optimistis Capai Rp 3 T, Kinerja Bank Setara Dua Engine


Alex: Kita Bersyukur Memiliki Pemegang Saham yang Sangat Komit Bank NTT Maju

RAPAT Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) Bank NTT 2021, yang berlangsung Kamis, 11 Februari 2021 menjadi sebuah awal yang baik bagi Bank NTT. Bagaimana tidak, dalam momentum itu, sudah disepakatinya langkah-langkah pemenuhan termasuk komitmen untuk menyetor modal, serta upaya strategis lainnya demi Bank NTT tetap eksis.

Kepada Timor Express di Kupang, akhir pekan kemarin, Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho menegaskannya. “Dalam RUPS kemarin, kita sudah bicara berbagai langkah startegis dan upaya lain, untuk bank ini ke depan. Termasuk dalam pemenuhan modal inti minimum Rp 3 T. Ada langkah-langkah pemenuhan termasuk komitmen untuk menyetor modal secara organik dan juga mengantisipasi kedepan sehingga tidak menyebabkan terjadinya kekurangan modal. Untuk itu, ada peluang agar kita mencari alternatif-alternatif lain,”tegas mantan Direktur Pemasaran Dana itu.

Secara gamblang dia sampaikan bahwa masih dalam momentum RUPS LB, bersama seluruh pemegang saham ,mereka membicarakan mengenai pemenuhan terhadap Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) terkait dengan daya tahan kelembagaan bank. Dan, salah satu kewajiban  yang dipenuhi agar bank-bank memiliki daya tahan kelembagaan, daya saing, daya tumbuh, maka mereka harus membutuhkan modal yang kuat.

Dalam POJK tersebut, diatur bahwa untuk tahun 2020, seluruh bank (Bank Pembangunan Daerah) harus memiliki modal inti minimum Rp 1 Triliun. “Terkait POJK tersebut, kita sudah lewat Rp. 1,7 triliun. Untuk tahun 2021, bank-bank diwajibkan memiliki modal minimum Rp 2 T. Kita puji Tuhan tinggal beberapa komitmen dipenuhi, berarti sudah ada pelampauan,”tegas Dirut Alex lagi.

Masih menurut Dirut Alex, pada tahun 2023, OJK memberikan dispensasi waktu sampai 2024, untuk mereka sebagai BPD, wajib memenuhi modal inti minimum Rp 3 T. Dan terkait dengan standar POJK tersebut, maka Bank NTT secara kelembagaan, sudah menyusun langkah-langkah strategis seperti mendesain program serta menyusun action plan.

“Kita sangat optimis karena komitmen  pemegang saham sangat kuat untuk secara oganik pemenuhan modal inti minimum ini bisa dipenuhi. Namun untuk memitigasi berbagai risiko, apa yang diutarakan Pak Gub itu sebuah pemikiran yang cerdas dan sangat brilian. Sebelum tiba saatnya, kita mencari jalan untuk proteksi. Mending sekarang kita persiapkan. Istilahnya kita jalan dua engine,” katanya.

Pernyartaan Dirut Alex sangatlah beralasan. Sebelumnya, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat sebagai pemegang saham pengendali, dalam RUPS LB, mempertegas mengenai langkah-langkah serta strategi yang harus diambil agar Bank NTT harus tetap eksis. Yakni mengevaluasi perkembangan pembuatan Perda APBD Kabupaten /Kota tentang penyertaan modal dalam rangka memenuhi modal inti minimum  Rp 3 Triliun seperti disyaratkan dalam POJK. Serta, gubernur membuka ruang hadirnya investor di Bank NTT.

“Kita butuh investor, dan ini sangat luar biasa. Rasa sense of belonging dari pemegang saham agar bagaimana mempertahankan bank ini untuk tetap eksis. Kita tidak saja bicara tentang pemenuhan modal inti minimum,” tambah Dirut Alex lagi.
Malah baginya, tidak hanya sekadar motivasi untuk memenuhi modal inti minimum, melainkan sudah jauh kedepan. Yakni  gubernur menurutnya, sudah memberi berbagai nasihat serta arahan agar Bank NTT mampu melakukan transformasi SDM, transformasi teknologi, transformasi layanan, serta yang paling penting, adalah tranfrosmasi budaya kerja.

BACA JUGA: Gubernur Terus Genjot, Bank NTT Jadi Bank Devisa

Bagi Bank NTT menurut Dirut Alex, ini adalah arahan dan nasihat yang luar biasa untuk memacu dan memicu setiap insan Bank NTT untuk segera berubah menyesuaikan secara cerdas, adaptif, dengan new normal, dengan cara kerja yang kreatif, inovatif, profesional dan sungguh-sungguh.

“Inilah modal yang bagi kami membangkitkan semangat Bank NTTT sehingga walau dalam situasi sulit, pandemi Covid-19, kita bersama-sama dengan seluruh nasabah dan mitra melakukan perubahan-perubahan transformasi, demi tetap terjaganya akselerasi pertumbuhaan,” katanya.

Lebih jauh menurut Dirut Alex, sesuai komkitmen Bank NTT dengan OJK dan pemilik bank, bahwa pihaknya sedang berjalankan program Go TKB 2 atau, menuju ke tingkat kesehatan bank dua yang sehat. Dan ini hanya bisa dicapai dengan menekan tingginya kredit macet pada bank tersebut. Hingga di titik ini, Dirut Alex berani buka-bukaan, bahwa sejauh ini jumlah kredit macet di Bank NTT terus menurun dari tahun ke tahun. Bahkan mereka benar-benar menunjukkan komitmennya, membereskan kasus kredit macet dengan membentuk tim, serta ‘memburu’ uang milik masyarakat yang sedang mengendap di tangan penerima kredit macet.

“Terkait NPL kita, semula 4,8 sudah turun menjadi 4,2 dan trendnya terus menurun. Bagi kami ini sebuah fakta baik. Semoga dengan kehadiran pak Dirpem baru ini, segera turun dari 4,2 menjadi di awah 4. Dan kami meyakini itu. 3,7 atau 3,5 atau 3,6. Langkah-langkah sudah diambil, action plan sudah dibuat dan tinggal Pak Dirpem Kredit yang baru mengeksekusinya. Bersinergi dengan tim dan semua sumber daya yang ada, segera mewujudkan langkah-langkah itu dan saya percaya Pak Stefen sangat mampu untuk melaksanakan tanggungjawab ini,” pungkas Alex optimistis.

Dirpem Stefen: Perang dengan NPL

Tantangan dari kalangan internal untuk menurunkan kredit macet Bank NTT, disambut baik oleh Direktur Pemasaran Dana Bank NTT yang baru, Paulus Stefen Messakh. Beberapa menit seusai dilantik, Stefen, sosok muda energik dan lulusan terbaik dari Short Course di Rumah Perubahan Prof. Dr. Renald Kasali ini langsung tancap gas. Dia menyatakan perang terkadap kredit macet. Apapun alasannya, penunggak kredit akan dikejar sampai manapun.

“Pertama-tama, saya berterimakasih atas kepercayaan yang Tuhan beri pada saya ini. Kalau ditanya apa saja kerja saya, saya mau katakan bahwa saya menyatakan perang dengan NPL/kredit macet. Itu tekad saya. Bank ini harus menjadi bank yang sehat, bank terbaik, dan itu adalah mimpi kita semua,” tegas Stefen, Rabu kemarin di Kupang.

Pernyataannya sangatlah beralasan, dia diserahi tanggungjawab yang besar untuk melakukan upaya penyelamatan dan penyelesaian kredit secara optimal. “Langkah berikutnya adalah, melakukan langkah restrukturisasi kredit-kredit macet yang secara prospek usahanya, etikat baik debiturnya bisa diperoleh kembali. Dan langkah berikut yaitu penyelesaian kredit yang mana langkah ini akan ditempuh dengan cara litigasi dan non litigasi,” tegas alumnus SMAN 1 SoE itu.

Dia merinci, non litigasi yaitu Bank NTT akan melakukan negosiasi, penagihan yang maksimal dengan debiturnya dan jika upaya ini gagal, maka pihaknya akan melakukan pendekatan melalui jasa pihak ketiga, yakni kejaksaan sebagai pengacara Negara untuk mengomunikasikannya dengan debitur yang tidak kooperatif. “Langkah-langkah ini sebenarnya bukti komitmen kami unbtuk menyelesaikan kredit macet yang ada sesuai temuan regulator OJK yang harus ditindaklanjuti. Sudah prinsip kami bahwa setiap kredit macet harus diselesaikan secara baik sesuai kepercayana yang sudah diberikan kepada saya,” tutupnya. (boy)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya Advetorial

To Top