Jadi Aktor Intelektual, Advokat Senior NTT jadi Tersangka | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jadi Aktor Intelektual, Advokat Senior NTT jadi Tersangka


ROMPI PINK. Pengacara Ali Antonius mengenakan rompi pink sambil menutup wajahnya berjalan menuju mobil tahanan usai ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan pemberian keterangan palsu di Kejati NTT, Kamis (18/2). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Jadi Aktor Intelektual, Advokat Senior NTT jadi Tersangka


Peradi NTT Nilai Tak Ada Keadilan di Negeri Ini

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Kasus dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan aset tanah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar) berbuntut panjang. Kali ini penyidik Tipidsus Kejati NTT tanpa ragu menetapkan saksi dan penasehat hukum (PH) yang juga sebagai penegak hukum sebagai tersangka.

Saksi dan PH ditetapkan sebagai tersangka usai diperiksa dan melakukan rekonstruksi di Kejati NTT dalam kasus pemberian keterangan palsu pada sidang Pra Peradilan dengan pemohon tersangka Agustinus CH Dulla di Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang.

Tersangka Fransiskus Harum dan saksi Zulkarnain Djuje mengaku dalam kesaksian palsunya itu atas setingan PH, Ali Antonius.

“Dua saksi setelah memberikan keterangan di persidangan, lalu kami amankan dan diperiksa kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Dalam keterangan dan bukti-bukti yang ada, ternyata ada keterlibatan PH sebagai otak intelektualnya,” kata Kasi Penkum Kejati NTT, Abdul Hakim, Kamis (18/2).

Menurutnya, kasus tersebut mulai terbuka dan jelas setelah dilakukan rekonstruksi. “Keterangan Fransiskus Harum dan Zulkarnain Djuje bersesuaian dengan keterangan Agustinus Dulla bahwa semuanya atas arahan Ali Antonius sehingga penyidik langsung tetapkan sebagai tersangka,” jelasnya.

Abdul Hakim menyebutkan, dari hasil rekonstruksi terdapat tiga adegan, dimana tersangka Fransiskus Harum dan saksi Zulkarnain Djuje dihubungi oleh tersangka mantan Bupati Mabar, Agustinus CH. Dulla untuk membicarakan terkait strategi dalam gugatan pra peradilan yang akan diajukan. Pertemuan itu dihadiri Ali Antonius, dan dua saksi lainnya.

Adegan kedua, lanjut Abdul Hakim, terkait pembuatan surat pernyataan yang dimana disebutkan bahwa tanah tersebut berlokasi di Kerangan bukan di Pantai Kerangan.

Dua tersangka juga mengakui bahwa mendapatkan uang perjalan ke Kota Kupang sebesar Rp 2.000.000 dari tersangka Agustinus CH. Dulla. Uang itu diambil di ruang kerja Agustinus CH. Dulla yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Mabar.

Adegan terakhir yakni pertemuan antara tersangka Fransiskus Harum dan Zulkarnain Djuje serta Ali Antonius di kediaman Ali Antonius di Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM), kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Dalam pertemuan itu, kedua tersangka dalam rekonstruksi mengaku bahwa semuanya diarahkan oleh Ali Antonius selaku pengacara dari Agustinus CH. Dulla dalam mengajukan pra peradilan melawan Kejati NTT.

Bahkan, kata Abdul Hakim, dalam rekonstruksi itu, tersangka Fransiskus Harum dan saksi Zulkarnain Djuje menangis menyesali karena telah mengikuti arahan Ali Antonius selaku pengacara Agustinus CH. Dulla.

BACA JUGA: Penuhi Panggilan Jaksa, Ali Antonius Didampingi 4 Pengacara Kawakan

Kedua tersangka yang diwawancarai usai rekonstruksi dengan tegas menegaskan bahwa mereka menjadi korban dari perbuatan Ali Antonius yang mengarahkan untuk memberikan keterangan di dalam persidangan Pra peradilan di PN Kelas 1A Kupang.

Arahan itu, kata kedua tersangka terjadi saat pertemuan di kediaman Ali Antonius di Kelurahan TDM sekitar tanggal 10 Februari 2021.

“Kesaksian Ali Antonius berbeda dengan fakta. Seolah-olah dia “menari” di atas mayat kami berdua yang tidak tahu menahu soal hal itu,” ujar tersangka Fransiskus Harum sambil menangis ketika rekonstruksi.

Ali Antonius, saat rekonstruksi menegaskan dirinya tidak pernah mengarahkan kedua tersangka untuk memberikan keterangan demikian dalam menghadapi sidang pra peradilan.

“Mereka memberikan keterangan atas inisiatif sediri bukan melalui arahan saya,” tuturnya.

Fransisco Bernando Besi, PH tersangka Ali Antonius yang juga pengurus Peradi NTT menilai penetapan tersangka dan penahanan terhadap kliennya itu sebagai bukti matinya keadilan di negeri ini.

“Ini bukti meninggalnya proses keadilan secara hukum. Tidak ada nurani bagi penegak hukum, karena menurut kami beliau menjalankan profesinya sebagai advokat,” ujar Sisko sapaan akrab Fransisco Besi.

Meski demikian, Sisko mengaku menghargai proses hukum yang tengah dilakukan Kejati NTT. Sebagai bentuk dukungan Peradi, lanjut Sisko, Peradi NTT akan melakukan pendampingan dalam proses hukum selanjutnya.

“Kalau pun berbeda pandangan dengan teman-teman penyidik di Kejati NTT, itu merupakan hal biasa, tetapi tentu kami punya pendapat dan pandangan yang berbeda,” tandasnya.

Sebelumnya, Ali Antonius mendatanghi Kantor Kejati NTT sekitar pukul 10:00 wita didampingi empat orang kuasa hukumnya, yakni Philipus Fernandes, SH, Fransisco Bernando Bessi, SH., MH., CLA., Yohanis D. Rihi, SH., dan Nixon Mesakh, SH.

Ali Antonius memenuhi panggilan pemeriksaan tersebut merupakan yang kedua kalinnya. Pada panggilan pertama melalui PH, diminta untuk ditunda karena Ali Antonius beralasan mengalami kelelahan. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top