Lima Bulan Belum Terima Insentif, Perawat Covid-19 di Belu Mogok Kerja | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Lima Bulan Belum Terima Insentif, Perawat Covid-19 di Belu Mogok Kerja


RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua. Sejumlah perawat di rumah sakit ini mogok kerja lantaran hak mereka berupa insentif Covid-19 belum dibayarkan selama lima bulan. (FOTO: JOHNI/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Lima Bulan Belum Terima Insentif, Perawat Covid-19 di Belu Mogok Kerja


Direktur RSUD Atambua: Bukan Kami Tahan-tahan

ATAMBUA, TIMEXKUPANG.com-Pihak manajamen RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua, hingga kini belum membayar insentif perawat atau tenaga kesehatan (Nakes) yang menangani pasien Covid-19. Tunggakan insentif yang belum diterima perawat selama lima bulan itu terhitung sejak Oktober 2020.

Sebagai bentuk aksi protes, sebanyak 20 perawat melakukan aksi mogok kerja sejak Senin (15/2) hingga hari ini (18/2). Sementara di ruang IGD terdapat empat pasien dengan gejala Covid-19 tertahan belum dipindahkan ke ruang isolasi karena perawat yang bertugas sedang mogok kerja.

Para perawat ini berencana mengadukan persoalan yang mereka alami ke Pelaksana harian (Plh) Bupati Belu, Frans Manafe. Para perawat memilih langkah ini sebab berulang kali mereka mempertanyakan hak mereka, namun belum mendapatkan jawaban pasti dari manajemen rumah sakit. Pihak manajamen RSUD Atambua memang berjanji membayar hak perawat, namun itu hanya sebatas janji, dan belum ada realisasi hingga aksi mogok itu berlangsung.

Sejumlah perawat mengaku, sebelumnya hak atas insentif itu dibayarkan setiap bulan dan lancar. Tetapi sejak Oktober 2020 lalu hingga saat ini insentif yang selalu dinanti-nantikan itu tak ada realisasinya. Sesuai perhitungan normal, bagi daerah zona merah setiap perawat berhak menerima insentif nakes sebesar Rp 7,5 juta per bulan.

Sejumlah sumber terpercaya kepada media ini Kamis (18/2) mengaku sangat kesal terhadap managemen yang mengulur pembayaran hak perawat Covid-19.

“Ini kan anggaran tahun 2020, tetapi kok heran belum bayar hak kami. Janji mau mau bayar sebelum libur Natal. Lalu ditunda akhir Desember 2020. Ditunda lagi awal tahun. Itu pun sampai sekarang tidak dibayar,” keluh salah satu perawat yang meminta namanya tak dipublish.

Ia menuturkan sesuai permintaan managemen para perawat sudah masukan nomor rekening dan kartu tanda penduduk (KTP) sebagai syarat pencairan karena alasan nilai anggaran cukup besar. Tetapi janji itu hingga saat ini belum juga direalisasikan.

Perawat lainnya menyebutkan bahwa mereka kesal karena saat mempertanyakan hak insentif, pihak managemen justru meminta para nakes ini membuat surat pernyataan, untuk berhenti sebagai perawat Covid-19.

“Kami ini kan sampai sekarang belum terima gaji. Insentif Covid-19 sudah lima bulan belum dibayar. Terus kita punya kebutuhan makan minum, transportasi mau bagaimana lagi. Kita yang urus pasien Covid-19 ini nyawa kita terancam,” ungkap nakes ini yang juga meminta namanya tak dipublish.

Sementara itu, Kepala Seksi Pelayanan Medis, RSUD Atambua, Elvi Sandu saat dikonfirmasi membenarkan adanya perawat Covid-19 yang mogok kerja, dan belum berkantor hingga saat ini. Para perawat yang mogok itu beralasan belum menerima dana insentif Covid-19.

Menurut Elvi, pihak RSUD Atambua sudah menjelaskan agar tenaga perawat Covid-19 normal melaksanakan tugasnya, karena hak mereka sedang diproses di Dinas Kesehatan. Sehingga tidak benar bila ada tudingan bahwa pihak manajemen menghalangi atau menghambat hak insentif perawat tersebut.

“Maaf bukan hak saya untuk menjelaskan terkait anggaran itu. Tetapi saya sampaikan bahwa saat ini sedang diproses di Dinkes. Kami dari RSUD bukan menghalangi tapi kita berusaha untuk mencarikan solusi. Mudah-mudahan besok sudah ada jalan keluar,” tandasnya.

Elvi menambahkan, alasan keterlambatan pembayaran karena ada aturan terbaru sehingga masih berproses. Sebab dana BTT bergabung dengan item dana Bok Dinas kesehatan, sehingga untuk pencairannya melalui Dinkes.

“Tidak benar juga bahwa ada ancaman untuk membuat pernyataan kepada perawat Covid-19. Yang dilakukan adalah meminta perawat untuk bersabar karena namanya hak seseorang tentunya akan dibayar,” jelas Elvi.

Terpisah, Direktur RSUD Atambua, dr. Batsheba Elena Corputty, membenarkan bahwa hak para perawat berupa insentif penanganan Covid-19 belum dibayar. Anggaran masih tersimpan di rekening. Pencairannya tentu melalui alur sebab anggaran kementerian dicairkan lewat Dinkes. Pihak KTU RSUD sudah menyiapkan administrasi lewat Dinas Kesehatan tetapi masih terhambat. “Bukan kami tahan-tahan. Kami sudah bangun komunikasi. Dinkes juga masih urus Dinkes punya yang belum juga cair,” tandasnya.

Terhadap keterlambatan pencairan insentif nakes, dr. Elena mengaku sudah menginformasikan kepada para perawat agar bersabar sebab uangnya sedang berproses. Karena proses pengklaimannya lewat Dinkes. Sedangkan untuk hak gaji tenaga kontrak belum diusulkan untuk dibayar karena SK kontraknya belum ada.

“Kalau sudah ada SK tentunya baru kami usul ke atas. Sedangkan PNS sementara proses. Masalah seperti ini setiap tahun itu sama. Kita bergerak karena berdasarkan dokumen anggaran, kalau sudah ada tentunya sudah bisa direalisasikan,” tegasnya.

Dokter Elena menambahkan, terkait empat orang pasien yang sedang dirawat di IGD masih dipantau dan belum di pindahkan ke ruang isolasi. Bila ada gejala indikasi tentunya akan dipindahkan. “Kita tetap berharap agar tidak ada lonjakan kasus Covid-19 di Belu,” pungkasnya. (mg33)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top