Gelapkan Harta Ika, Hakim Vonis M. Iqbal Penjara 3 Tahun 6 Bulan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Gelapkan Harta Ika, Hakim Vonis M. Iqbal Penjara 3 Tahun 6 Bulan


KETERANGAN PERS. Ketua Majelis Hakim PN Maumere, Rokhi Maghfur, SH (kiri) bersama dua anggota majelis hakim yang menyidangkan perkara penggelapan memberi keterangan pers kepada awak media terkait vonis kasus tersebut, Senin (15/2). (FOTO: KAREL PANDU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Gelapkan Harta Ika, Hakim Vonis M. Iqbal Penjara 3 Tahun 6 Bulan


MAUMEERE, TIMEXKUPANG.com-Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Maumere menjatuhkan vonis 3 tahun 6 bulan terhadap Muhamad Iqbal, 56, lantaran terbukti menggelapkan harta milik Ika Lupita Yuli Astuti, 49. Ika Lupita merupakan istri siri dari Iqbal, warga Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka.

Kasus penggelapan dengan nomor perkara 108/Pid.B/2020/PN.Mme ini divonis hakim PN Maumere dalam sidang yang digelar Senin (15/2) lalu.

Dalam putusan sidang tersebut, majelis hakim majelis yang terdiri dari Rokhi Maghfur, SH (Ketua), Widyastomo Isworo, SH., dan Agung Satria Wibowo, SH., masing-masing sebagai anggota juga memerintahkan agar harta benda milik Ika Lupita Yuli Astuti diserahkan kepada pembali barang yang dijual oleh Iqbal.

Ketua Majelis Hakim, Rokhi Maghfur kepada wartawan di Maumere, Kamis (18/2), mengatakan bahwa berdasarkan putusan hakim, barang yang dijual pelaku itu harus dikembalikan kepada orang dimana barang tersebut disita.

“Iqbal divonis 3 tahun dan 6 bulan penjara karena terbukti secara hukum menggelapkan barang milik saksi korban. Kami menghukum sesuai dengan perbuatannya, karena itu barang-barang yang disita harus dikembalikan kepada orang dimana barang itu disita,” kata Rokhi.

Sebelumnya dalam sidang yang dipimpin Rokhi Maghfur itu, terdakwa Muhamad Iqbal terbukti melanggar pasal 372 KUHAP karena menggelapkan sejumlah barang sesuai yang tertera dalam berkas perkara seturut laporan Ika Lupita Yuli Astuti selaku korban. Putusan tersebut setara dengan tutuntan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Atas putusan hakim tersebut, Ika Lupita kepada media mengaku tidak puas lantaran sejumlah barang bukti yang ada dalam laporannya tidak dikembalikan kepada dirinya selaku pelapor.

Barang bukti yang dimaksudkan Ika berupa 1 unit sepeda motor Honda Beat warna hitam dengan nomor polisi EB 5689 BJ milik ayah Ika Lupita, 1 sertifikat tanah atas nama Titik Astutik yang adalah ibu kandung Ika Lupita, dan 1 unit mobil Toyota Chalya dengan nomor polisi AB 1933 FJ milik Ika sendiri. Barang-barang ini tidak dikembalikan kepadanya sebagai korban. Atas fakta tersebut, Ika Lupita lantas meminta bantuan hukum kepada Lorens Welin, SH., dan rekan untuk menempuh upaya hukum lainnya.

“Saya tidak puas dengan keputusan hakim. Kasus ini saya yang melapor kepada penyidik hingga akhirnya disidangkan di PN Maumere, namun saya sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Sementara barang-barang saya diserahkan kepada pembeli,” ungkap Ika.

Menurut pengakuan Ika Lupita bahwa 1 unit mobil Toyota Chalya dengan nomor polisi AB 1933 F merupakan miliknya yang dibuktikan dengan BPKB atas nama dirinya serta faktur pembelian yang dikeluarkan oleh PT. Astra Daihatsu Motor selaku diler tempat mobil tersebut dibeli. Atas ulah Muhamad Iqbal, Ika Lupita mengaku mengalami kerugian mencapai Rp 300 juta.

Ika Lupita Astuti selaku korban merasa telah ditipu oleh Muhamad Iqbal yang tak lain adalah suami sirinya. Muhamad Iqbal secara diam-diam menggelapkan sejumlah barang milik orang tuanya yakni 1 unit sepeda motor, sertifikat tanah yang telah dikuasakan kepadanya, dan barang Ika Lupita sendiri berupa perhiasan, uang serta 1 unit mobil Toyota Chalya dengan nomor polisi AB 1933 FJ yang mana dokumen asal usul mobil tersebut tidak tercantum dalam BAP penyidik.

“Saya merasa tertipu oleh Iqbal, sehingga harta saya dan milik orang tua dijual secara diam-diam oleh Iqbal,” sesal Ika.

Lorens Welin, kuasa hukum Ika, ketika dikonfirmasi media, Kamis (18/2) di PN Maumere, mengatakan, pihaknya akan melakukan gugatan kepada para pihak yang terlibat dalam kasus penggelapan barang milik kliennya selaku korban. Selain gugatan, pihaknya juga akan melaporkan kepada intitusi masing-masing pihak yang terlibat dalam persoalan tersebut.

“Saya akan melakukan gugatan kepada para pihak yang terlibat dalam kasus penggelapan barang milik Ika. Selain itu kami juga akan melaporkan kepada institusi yang terlibat dalam penggelapan itu,” tegas Lorens.

Lorens mengatakan, majelis hakim mendasarkan pengembalian barang sitaan sesuai Pasal 46 KUHAP yang mengamanatkan bahwa barang atau benda yang dikenakan penyitaan dikembalikan kepada orang atau kepada mereka dari siapa benda itu disita.

Dalam hal ini, kata Lorens, 1 unit sepeda motor Honda Beat warna hitam dengan nomor polisi EB 5689 BJ milik Sudarmo yang adalah ayah Ika Lupita dikembalikan kepada Muhamad Iqbal selaku terdakwa. Satu sertifikat tanah seluas 200 meter persegi atas nama Titik Astuti selaku ibu kandung korban dikembalikan kepada Wiwin Lestari yang diketahui sebagai pihak yang membeli tanah tersebut dari terdakwa Muhamad Iqbal. Serta 1 unit mobil Toyota Chalya dengan nomor polisi AB 1933 FJ yang adalah milik Ika Lupita sendiri dikembalikan kepada Darwis.

Lorens juga mempertanyakan 1 unit mobil Toyota Chalya dengan nomor polisi AB 1933 FJ yang dokumennya tidak dimasukan dalam BAP malah tetap dijadikan sebagai barang sitaan oleh penyidik. “Kalau penyidik tahu bahwa tidak ada nama pemilik mobil tersebut, kenapa mobil tersebut harus disita? Saya menilai ada kepentingan dalam kasus ini, maka kami akan lapor dan kami gugat sebagai perbuatan melawan hukum,” tandas Lorens.

Lorens juga menilai majelis hakim tidak jeli dalam memutus kasus tersebut. Karena yang dirugikan dalam perkara itu berada pada pihak korban yang melapor. “Ini menyangkut hak Ika Lupita selaku korban. Kita jangan berlindung dibalik KUHAP,” kata Lorens yang menambahkan pihaknya sedang menyusun rancangan gugatan atas kasus tersebut.

Dokumen Asal Usul Mobil Tak Ada dalam BAP

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum, Kejari Sikka, Eka Ilham Ferdiyadi, SH., MH., kepada awak media, Kamis (18/2), menjelaskan, dalam BAP yang diterima pihaknya, tidak tertera dokumen kepemilikan 1 unit mobil Toyota Chalya dengan nomor polisi AB 1933 F.

“Satu unit sepeda motor Honda Beat warna hitam dengan nomor polisi EB 5689 BJ lengkap dengan nomor rangka dan nomor mesin atas nama milik Sudarmo. Juga satu sertifikat tanah atas nama Titik Astuti, lalu satu unit mobil Toyota Chalya dengan nomor polisi AB 1933 F sama dan nomor rangka sama. Milik siapa tidak dicantumkan. Yang saya baca dalam berkas ini seperti ini, tidak ada saya kurangi dan saya lebih-lebihkan. Selanjutnya sesuai KUHAP barang sitaan kita kembalikan kepada orang tempat barang itu disita,” jelas Ilham.

Menyinggung soal wewenang jaksa untuk mengecek dokumen asal usul mobil sebagai salah satu alat bukti, Ilham mengaku dirinya tidak banyak tahu tentang hal tersebut. “Saya nggak banyak tahu tentang hal ini,” ujar Ilham. (Kr5)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top