Saksi Sejarah, Politisi Ulung, Perintis Bhayangkari NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Saksi Sejarah, Politisi Ulung, Perintis Bhayangkari NTT


Mama Onie (ketiga kiri) didampingi Jacky Uly (keempat kiri) saat pengresmian nama RS Bhayangkara menjadi RS Bhayangkara Drs. Titus Uly Kupang oleh Kapolda NTT Irjen Pol Agung Sabar Santoso  pada 10 Juli 2017. (FOTO: DOK KELUARGA)

TOKOH

Saksi Sejarah, Politisi Ulung, Perintis Bhayangkari NTT


In Memoriam Leonie Victoria Uly-Tanya, Peraih Kartini Award Timor Express I-2019 (1)

Rabu 17 Februari 2021 pagi, Nicky Uly, mengunggah dalam statusnya di media social Facebook, mereka sedang dirundung duka. Sang ibu, Leonie Victoria Uly-Tanya, yang kerab disapa Oma Onnie, berpulang di usianya yang ke 93 tahun. Siapa sangka, almarhumah adalah sosok yang banyak berjasa bagi Polri dan NTT, sehingga meraih predikat sebagai KARTINI NTT dalam sebuah program yang digelar oleh Timor Express, yakni Kartini Award, pada 26 April 2019 di Aston Hotel Kupang.

STENLY BOYMAU, Kupang

NAMA ini sangat disegani di zamannya, dalam masa pergolakan. Dia adalah istri Kombes Pol (Purn) Titus Uly, KIKDA (Kepala Inspeksi Kepolisian Daerah) Timor dan kepulauannya yang wilayahnya meliputi seluruh NTT, Bima, hingga Kiser dan Saumlaki. Jabatan itu kini bergantinama menjadi Kapolda NTT.

Ditemui Timor Express (Jawa Pos Group), pertengahan Maret 2019 lalu, Oma Onie yang ketika itu berusia 91 tahun, didampingi dua putranya, Irjen Pol (Purn) Jacky Uly (mantan Kapolda NTT dan Kapolda Sulawesi Utara), dan Nicky Uly (anggota DPRD Kota Kupang sekarang) dan satu putrinya, Nona Uly.

Usianya yang sudah sepuh, menyebabkan kondisi fisiknya tak lagi gesit. Mata dan telinga yang tak lagi berfungsi maksimal, membuat Oma Onie hanya sesekali menyela, meluruskan setiap sejarah yang dikisahkan putranya, Jacky Uly yang kini anggota Komisi II DPR RI. Jacky, sebagai anak tertua, lalu membuka lembaran demi lembaran sejarah kedua orang tuanya. Termasuk seperti apa peran seorang tokoh hebat, Onie Uly-Tanya.

Dia adalah perempuan hebat, yang berada di garis depan setiap perjuangan suami dan kaum perempuan, di tahun1940-an, ketika negara ini sedang bergolak. Dia mungkin satu diantara sekian saksi hidup, sejarah perjuangan bangsa, yang kini masih hidup saat saya temui waktu itu.

Oma Onie, lahir di Sabu pada 18 Mei 1928, dari pasangan ayah Saul W Tanya dan mama Yohana Hidelilo. Karena dia adalah salah satu putri raja Sabu Timur, maka dia mengenyam pendidikan yang cukup. Dia tamatan MULO saat itu, sehingga jika diajak berbahasa Belanda, sangat fasih. Setelah menikah pada 15 Oktober 1944, banyak yang dilakukannya bersama suami tercinta.

Diantaranya, ikut menyaksikan pengibaran bendera merah putih di Lapangan Bakunase, pada 18 April 1945. Aksi heroik itu dilakukan suaminya Titus Uly dan beberapa pejuang kemerdekaan, atas perintah Izak Huru Doko selaku Ketua Umum PDI, kepada Alfons Nisnoni selaku Ketua Harian, dan Titus Uly sebagai Wakil Ketua. Tindakan ini tergolong nekad, karena mereka tak gentar, walau Indonesia belum dideklarasikan sebagai sebuah negara yang merdeka.

Empat bulan kemudian barulah Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur Jakarta, mendeklarasikan kemerdekaan RI. “Setelah itu ada pembukaan pendaftaran polisi. Papa daftar dan lulus. Ketika tiba di Makassar, mama minta ikut pergi. Mereka baru menikah dan punya anak satu. Papa lalu pergi ke Hollandia, namun masih singgah di Makassar. Saat itu di Makassar sedang pergolakan peristiwa Westerling. Tahun 1946. Saat itu, E. R. Herewila ikut dicari bersama R. W. Monginsidi. Herewilla bertemu mama di Jl Gotong Gotong Makassar, pada malam hari, untuk berdiskusi. Mama tidak bisa bertemu secara langsung karena mereka pejuang. Papa pergi ke Papua, selama enam bulan,” kisah Jacky. Usai tamat pendidikan kepolisian, Titus Uly ditempatkan di Pos Polisi Sawah Besar Jakarta.

Setibanya di sana, dia ingin bergabung dengan pejuang di Jogja. Dititiplah Mama Onie di Prof W. Z. Johannes, dan tanpa sepengetahuan sang isteri, Titus lalu ke Jogja dengan kereta api. Namun tak lama karena Prof W. Z. Johannes memanggil pulang karena Mama Onie menangis karena mau melahirkan. Sepulangnya dari sana, Titus Uly ditempatkan di Perak, Surabaya.

“Saat tugas, papa pekerjakan banyak gerilyawan, dia lalu dikirim ke Alor. Saat itu NTT tidak ada pergolakan bersenjata. Dia dianggap tidak setia tapi papa melakukan itu karena merah putih. Dari Alor, ditempatkan di Maumere enam bulan. Saat itu, institusi Polri terus mencari siapa orang-orang muda anggota Polri yang masih cinta NKRI. Lalu didapatilah bapa, sehingga ditugaskanlah beliau menjadi KIKDA. Papa yang menerima kedatangan Batalyon Siliwangi pimpinan Kosasih dengan pejuang-pejuang 1945 yang berpangkat Letnan seperti El Tari, Is Tibuludji, Amos Pah, Mooy dan beberapa lainnya,” tutur Jacky diamini Nicky saat itu.

Saat itu Kepolisian Negara menginstruksikan, pejuang-pejuang ini ditampung di rumah KIKDA karena saat itu belum aman. Karena di NTT tidak ada pergolakan bersenjata sehingga yang pro Belanda masih berkeliaran memegang senjata. “Takutnya membahayakan pejuang-pejuang kita, sehingga mereka disuruh tinggal di rumah. Aman baru pulang. Ibu saya sudah berperan banyak disana. Kosasih sebagai Dan Yon Siliwangi tinggal di dekat rumah kita, di dekat Stadion Merdeka (kini Kelurahan Oeba),” tutur Jacky Uly.

Dengan bertugasnya Titus Uly di NTT, dia akhirnya ditokohkan sebagai pendiri Polri di NTT. Ini didukung dengan sikapnya, setia membela merah putih. “Karena memilih merah putih itulah papa lolos dan disekolahkan di PTIK. Kalau bukan maka tidak mungkin lolos. Seleksinya sangat ketat,” tambah Jacky. Ketika menjabat sebagai KIKDA, ada dua blok polisi. Satunya masih ingin Belanda berkuasa, satunya lagi, agar Indonesia merdeka. Dan untuk menyatukan dua kubu ini sangat susah. “Namun papa sanggup menyatukannya sehingga berdirilah kepolisiandi NTT,” beber Jacky.

Sulit memang bangun polisi di NTT. Saat itu polisi belum ada kantornya, sehingga polisi meminta bantuan ke Usif Amarasi, H. A. Koroh dan dialah yang memberikan hibah tanah kepada Titus Uly. Itu karena masih ada hubungan keluarga juga. Tanah itu berlokasi di Fontein, sekarang Kantor Direktorat Lantas Polda NTT. Penyerahan hibah tahun 1950. Sebelum polisi pindah ke Fontein, kantor polisi Belanda bertempat di Jl. Urip Sumoharjo, yang kini menjadi kantor PT Telkom Kelurahan Merdeka.

“Saat itu mama masih muda, dan sudah ada empat anak. Ibu saya menjadi istri kepala polisi. Seorang Ketua Bhayangkari dari sebuah negara yang baru berdiri, yang anggotanya masih kurang jelas, mana yang pro Indonesia dan mana yang tidak. Saat itu mama sangat susah kerjanya, karena harus berkomunikasi dengan istri-istri anggota polisi. Kapasitasnya sebagai istri seorang KIKDA. Pada tahun 1958 saat NTT berdiri, barulah kerjanya agak sedikit ringan karena Bima sudah masuk NTB, Labuan Bajo ke sini masuk NTT. Begitu juga Saumlaki dan sebagainya,” papar Jacky.

Gesit Bangun Bhayangkari

Saat itu kondisinya sulit, karena banyak yang tidak bisa baca tulis. Nah saat menikah, seorang Leonie sudah tamat MULO, sehingga fasih bahasa Indonesia dan Belanda. Kemudian karena punya pengalaman berorganisasi sehingga dia emban sejumlah tanggung jawab. Sebagai istri anggota Polri yang masih muda, mereka melakukan beberapa pekerjaan. Diantaranya menerima kunjungan Bung Karno, kunjungan Bung Hatta, di tahun 1951. “Mama juga melakukan banyak pekerjaan besar, diantaranya panitia Hari Bhayangkara, sehingga saat di Jakarta, mereka berfoto bersama Presiden Sukarno, Wapres Bung Hatta, masing-masing dengan isteri, juga Kapolri saat itu, Sukamto, dan istrinya sebagai Ketua Bhayangkari. “Karena pengalaman beroganisasi itulah, sebagai pengurus mahasiswa, mama diangkat menjadi Ketua Bhayangkari se-Kalimantan Timur. Dulu, jabatan ini tidak melekat pada suami. Melainkan mereka musyawarah, dan Leonie terpilih, walaupun suaminya hanya seorang Asisten Operasi Polda Kaltim,” kata Jacky lagi.

Karena kegesitannya, membuat mama menjadi ketua dimana-mana. Di NTT, juga di Sukabumi, walau ada istri jenderal di sana. “Mama menyisihkan mereka dalam pemilihan karena kualitas. Indonesia di zaman itu, pendidikan sangat mewah. Apalagi bisa berbahasa asing dengan fasih. Nah jabatan-jabatan papa inilah yang membuat sehingga mama berpengalaman,” kenang Jacky.

Saat sang suami menjadi Kepala Dinas P dan K NTT, mama Onnie menjabat ketua Dharma Wanita, kemudian saat suaminya memimpin DPD I Partai Golkar NTT, dia menjadi Ketua HWK. Mama Onnie semasa aktif di Bhayangkari, terpilih menjadi anggota DPRD (NTT), mewakili Bhayangkari untuk Fraksi ABRI pada 1971.

Dia wanita pertama yang terjun ke panggung parlemen, dan pada 1977-1982 barulah ada seorang perempuan lagi di parlemen, yakni Tarotji Foenay. “Mama seorang politisi yang disegani, karena banyak membaca sejumlah literature baik dalam dan luar negeri. Prestasi lainnya, adalah inisiatif membangun SMP dan SMA Beringin di Kota Kupang. (Bersambung)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya TOKOH

To Top