Menang Setelah Bertarung Melawan Covid-19, Wafat karena Faktor Usia | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Menang Setelah Bertarung Melawan Covid-19, Wafat karena Faktor Usia


KEBANGGAAN. Ketua TP PKK NTT, Ny. Julie Sutrisno Laiskodat, didampingi salah satu pejabat Pemprov dan Direktur Timor Express, Haeruddin, menyerahkan tropy kepada Mama Leonie Victoria Uly-Tanya, sebagai KARTINI NTT. Tropy diterima salah satu anak, Ridho Uly (kanan). Momen ini berlangsung di Aston Hotel, April 2019 lalu. (FOTO: DOK. TIMEX)

TOKOH

Menang Setelah Bertarung Melawan Covid-19, Wafat karena Faktor Usia


In Memoriam Leonie Victoria Uly-Tanya, Peraih Kartini Award Timor Express I-2019 (2)

KHARISMA Oma Onnie, ibarat magnet yang menarik perhatian kalangan luas. Di malam penghiburan, yang digelar keluarga di rumah tua almarhumah, di Jl. El Tari No, 7A Kelurahan Naikoten II, ratusan pelayat hadir. Tak hanya itu, ratusan krans bunga berbagai ukuran menghiasi sudut-sudut halaman hingga ke jalan raya El Tari. Usai ibadah, Nicky Uly mewakili keluarga, menyampaikan kata hati. Bahwa ibunda mereka meninggal setelah menang perang dengan Covid-19.

STENLY BOYMAU, Kupang

RABU (17/2) malam, yakni malam pertama jenazah Oma Onnie disemayamkan di rumah duka, nampak ratusan pelayat berdatangan. Seluruh kerabat jauh dan dekat, satu persatu memasuki tenda mengenakan busana perkabungan. Tak sedikit menggantung selendang motif, di leher.

Duduk persis di teras depan, mendampingi seorang pendeta dari GMIT Anugerah, nampak Nicky Uly, serta beberapa keluarga. Sedangkan jenazah berada di dalam ruang utama, dikelilingi anak, menantu, dan cucu-cucu.

Tak lama seusai ibadah penghiburan, Nicky pun berdiri menyambut pengeras suara, lalu atas nama keluarga, memberi informasi terkait riwayat sakit almarhumah, ibu kandung mereka.

“Mama bagi kami adalah sosok yang luar biasa. Saya kadang duduk dan bicara dengan Kak Jack (Jacky Uly). Kak, kita memang pernah menjadi pemimpin, namun kita kalah sama mama. Mama sejak dewasa sampai meninggal, selalu menjadi pemimpin,” tegas Nicky.

Pernyataan Nicky sangatlah benar. Karena jabatan Ketua Bhayangkari di zaman kemerdekaan sampai tahun 50-an, bukan jabatan yang melekat pada isteri seorang komandan atau kepala kepolisian, di berbagai tingkatan. Melainkan dipilih. Dan yang dinilai cakaplah yang layak meemimpin. Almarhumah, pernah bersaing dengan isteri seorang jenderal polisi, dan menang menjadi ketua Bhayangkari. Di Kalimantan.

Berbagai jabatan penting dipegangnya. Termasuk Ketua Himpunan Wanita Karya (organisasi sayap Partai Golkar) NTT. Belum lagi organisasi lain, termasuk pernah menjadi anggota DPRD NTT, menggagas pendirian sejumlah sekolah dan lainnya. Ketokohan dan kecakapan memimpin almarhumah semasa masih aktif itulah, yang membuatnya mengembang banyak jabatan.

“Padahal, papa dan mama banyak anak. Kami keluarga besar, namun mama bisa membagi waktu dan mengurus semua hingga tak ada satupun tercecer. Sukses di organisasi, lembaga, namun sukses juga di keluarga,” tegas Nicky lagi.

Malam itu, dia juga mengungapkan tentang riwayat sakit almarhumah. Bahwa Oma Onnie dirawat di RSUD Kota Kupang sebagai pasien dengan gejala Covid-19. Saat itu menurut Nicky, keluarga was-was. Karena usia mamanya yang sudah sangat sepuh, yakni 93 tahun, tentu agak sulit melawan ganasnya virus itu. “Nah daya tahan tubuh mama sudah turun, karena faktor usia. Namun kita hanya terus berdoa, ternyata mama berhasil mengalahkan virus. Luar biasa karena seorang lansia, berusia 93 tahun berperang melawan Covid-19, dan menang. Bagi kami ini sebuah hal yang sangat luar biasa. Sedangkan kita tau bahwa saat ini ada banyak orang muda yang kena, lalu meninggal,” tutur Nicky lagi.

Dan yang membuat mereka bersyukur adalah, sehari setelah Oma Onnie dinyatakan sembuh dari korona, barulah meninggal. “Saya berkoordinasi dengan Kadis Kesehatan, terkait perkembangan sakit mama. Dan Kadis katakan, harus benar-benar dipastikan kondisi, apakah clear dari Covid-19 atau tidak. Dilakukanlah swab. Dan bersih. Sehingga mama diberi surat keterangan bersih, sehat dari pemerintah. Mama meninggal dalam keadaan sehat, sudah sehat.” Yang membuat sehingga sang ibu meninggal, menurut Nicky, adalah karena faktor usia. “Mama meninggal karena sudah sangat tua. Secara badaniah, sudah tidak sanggup. Dan ini hukum alam. Tuhan sudah katakan demikian, bahwa usia kita mentok sekian. Mama meninggal dalam keadaan sehat, tidak sakit, hanya karena fisiknya sudah lemah,” tuturnya.

Oma Onnie di Mata Jacky

Menurut Jacky Uly, dalam sebuah percakapan dengan saya setidaknya dua tahun lalu, ketika saya merampungkan data tentang Oma Onnie sebagai nominator KARTINI NTT AWARD yang digelar Timor Express tahun 2019, mantan Kapolda NTT itu menceritakan kekagumannya. Baginya, pengorbanan ibunya sangat luar biasa. Dia mengaku tidak mampu jika berada pada posisi ibunya saat itu. NTT memang tak bergolak secara fisik seperti di Jawa, namun ibunya dituntut berbaur dengan setiap orang yang tidak bisa dipastikan siapa kawan, siapa lawan. Saat itu, di masa kemerdekaan.

BACA JUGA: Saksi Sejarah, Politisi Ulung, Perintis Bhayangkari NTT

“Mama harus menyatukan mereka, termasuk keluarganya yang adalah ibu-ibu Bhayangkari. Karena saat itu mungkin hanya sekitar satu persen saja Bhayangkari yang sekolah. Yang lain tidak. Mama harus kerja ekstra membimbing mereka,” kata Jacky.

Sebagai anak, lanjut Jakcy, mereka sudah sering ditinggal pergi ibunya yang mengurus banyak hal. Baik politik, sukarelawan dimana-mana, mengurus Bhayangkari dan sebagainya. “Kami hanya ketemu mama pagi dan sore. Siangnya selalu kegiatan. Dan banyak kesibukannya,” sambungnya.

Sementara bagi Nicky Uly, ibunya adalah seorang politisi yang tak pernah belajar ilmu politik. Darah politisi mengalir dalam tubuhnya. “Politisi ini lahir sendirinya. Mama adalah anak dari W. Tanya, Raja Sabu. Nah, S. W. Tanya ini pernah membela rakyat Sabu di Pengadilan Makassar dan menang melawan pemerintah kolonial Belanda tahun 1930,” tutur Nicky.

Fakta ini ditulis dalam disertasi DR. Gleen Steven Farram dari Faculty of Law, Bussines and Politic, Charles Darwin University di Darwin, yang berjudul From Timor Koepang to Timor NTT, a political history of west Timor 1901-1967.

Waktu itu S. W. Tanya, ayah kandung Oma Onnie, juga Ketua Timorsche Verbond Sabu, sebuah gerakan politik yang memperjuangkan Indonesia merdeka. Dan ketika Jepang tiba, sudah menjadi tradisi bahwa raja-raja akan melawannya. Sehingga akibatnya adalah, raja Sabu ini ditangkap dan dihukum mati. Satu hari menjelang eksekusi, S. W. Tanya melarikan diri dari Pulau Rote sebagai tempat eksekusi dan ditangkap lagi di Pulau Sabu. Namun bersamaan dengan jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, lalu Jepang kalah perang, maka S. W. Tanya selamat.

Untuk diketahui, S. W. Tanya, ayah Oma Onnie juga merupakan Ketua Marhaenis/PNI di Sabu. Beliau dipanggil khusus oleh Bung Karno ke Ende, untuk bersama beberapa orang, ditunjuk menjadi ketua PNI dan Marhaen di Sabu. Darah ini mengalir ke anak-anaknya. Kakak Oma Onnie pernah menjadi anggota DPR GR/MPR GR dari PNI.

DR Sam Tanya terpilih pada Pemilu pertama di Indonesia pada 1955. Adik kandung Oma Onnie, DR Viktor Tanya juga politisi dari Golkar dan pernah anggota MPR. Yoan Tanya, bapaknya DR. Bernard Tanya, juga politisi Golkar di Kabupatren Kupang. “Seluruh saudara kandung mama itu politikus. Mama apalagi. Kakek saya, pendiri PNI, pada tahun 1936-1938 terus berkomunikasi dengan Bung Karno dalam masa pembuangannya di Ende,” ujar Nicky.

Saksi Sejarah

Mama Onnie adalah saksi sejarah. Dia menyaksikan pergolakan ketika Jepang berkuasa, Belanda, Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi. Pada Jumat (19/2), Oma Onnie akan dimakamkan di samping makam sang suami, Kombes Pol (Purn) Titus Uly. “Hingga di sini, kami merenung, bahwa niat untuk dimakamkan di samping suaminya, sudah dia doakan. Sehingga Korona kemarin, tidak menjadi penghalang baginya. Dia berdoa, dan Tuhan mengabulkan, dia meninggal dalam keadaan sehat, dimakamkan di samping sang suami. Jika tidak, kita tau bersama, semua pasien yang meninggal karena Covid-19, tempatnya terpisah, di Fatukoa,” tutup Nicky.

Untuk diketahui, pada 26 April 2019, Timor Express bekejasama dengan TP PKK Provinsi NTT memberi anugerah kepada Oma Onnie, sebagai seorang politisi di zaman kemerdekaan, dan juga pendiri Bhayangkari di NTT. Oma Onnie, berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh perempuan hebat asal NTT, yang malam itu, menerima tropy sebagai KARTINI dari NTT yang berkontribusi bagi bangsa. TIMEX Kupang Promosindo, sebagai penggagas program ini, berniat untuk kembali menyelenggarakan program tersebut.

“Kami dari Timor Express, mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Mama Onnie, karena sudah ikut andil dalam membangun perempuan-perempuan dari NTT. Mama Onnie adalah tokoh penting yang dimiliki oleh daerah ini. Kami melakukan survei, dan beliau layak menyandang predikat sebagai KARTINI dari NTT. Semoga ke depan, program ini kembali dilanjutkan, untuk mengangkat harkat tokoh-tokoh perempuan dari Timur,” tegas Stenly Boymau, Direktur TIMEX Promosindo yang menyelenggarakan kegiatan itu. (*/habis)

BIODATA PRIBADI:

NAMA : LEONIE VICTORIA ULY-TANYA

LAHIR : SABU TIMUR, 18 MEI 1928

SUAMI : KOMBES POL (PURN) TITUS ULY (Alm)

AYAH : SAUL W. TANYA

IBU : YOHANA HIDA LILO

MENIKAH : 15 OKTOBER 1944

ANAK-ANAK:

  1. Johana Monica Uly
  2. DR. Ir. Yos Uly, MM
  3. Estherlina Uly, SmHk.
  4. Lenny Uly
  5. Irjen Pol (Purn) Drs. Y. Jacki Uly. SH., MH
  6. Ir. Nicky Uly, M.Si
  7. Dra. Nonce Uly
  8. Robby Uly, SE
  9. Ridho Uly, SH

KARIER ORGANISASI DAN POLITIK

• KETUA BHAYANGKARI SE-KALIMANTAN TIMUR

• KETUA BHAYANGKARI SIKKA

• KETUA BHAYANGKARI ALOR

• KETUA BHAYANGKARI TIMOR DAN KEPULAUAN (BIMA-SAUMLAKI)

• KETUA DHARMA WANITA DINAS P & K NTT

• KETUA HIMPUNAN WANITA KARYA NTT (GOLKAR)

• ANGGOTA DPRD NTT 1971-1977 DAN 1977-1982

• PENDIRI SMP & SMA BERINGIN KUPANG

• DAN PENGURUS BEBERAPA ORGANISASI LAIN

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya TOKOH

To Top