Targetkan PAD Rp 200 Juta, PD Pasar Pakai Cara Ini | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Targetkan PAD Rp 200 Juta, PD Pasar Pakai Cara Ini


PASAR OEBOBO. Inilah salah satu pasar tradisional di Kota Kupang, yang terletak di wilayah Kelurahan Fatululi, Kota Kupang. Gambar diabadikan Senin (22/2). PD Pasar menggenjot pendapatan asli daerah dengan menaikkan sewa kios. (FOTO: FENTI ANIN/TIMEX)

BISNIS

Targetkan PAD Rp 200 Juta, PD Pasar Pakai Cara Ini


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditetapkan untuk Perusahaan Daerah (PD) Pasar, tahun ini sebesar Rp 200 juta. Tahun 2020 lalu, dari target PAD yang ditetapkan untuk PD Pasar sebesar Rp 130 juta lebih, yang berhasil dicapai hanya sebesar Rp 78 juta lebih.

Meski target PAD 2020 yang ditetapkan sebesar Rp 130 juta tidak tercapai, tahun ini Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang tetap mematok target PAD PD Pasar tahun ini naik menjadi Rp 200 juta.

Asisten II Setda Kota Kupang, Elvianus Wairata menjelaskan, kenaikan PAD yang ditetapkan pada sidang pembahasan anggaran murni tahun 2021, memaksa direktur dan jajaran PD Pasar harus bisa membuat terobosan.

“Saya memberikan arahan kepada Direktur PD Pasar dan jajarannya agar membuat terobosan baru yang inovatif agar dapat berpengaruh pada peningkatan atau capaian PAD yang ditetapkan, karena banyak potensi di pasar yang bisa dimanfaatkan,” kata pejabat yang akrab disapa Ely Wairata.

Dia menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan kajian kembali terhadap sewa lapak dan kios yang ada di Pasar. Karena Peraturan Daerah (Perda) yang dipakai adalah Perda tahun 2002.

“Sehingga direksi PD Pasar juga melakukan review kembali tentang tarif yang ada, dan juga memperluas jangkauan usaha agar mereka dapat mencapai target pendapatan yang ditetapkan,” ujarnya.

Masih menurut dia, tugas PD Pasar sendiri memang meningkatkan pelayanan serta kenyamanan masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. Tetapi PD Pasar juga harus memberikan kontribusi pendapatan kepada daerah.

Ely Wairata menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan PD Pasar saat ini adalah dengan menaikkan biaya sewa kios dan lapak. Ini harus diikuti dengan sosialisasi terlebih dahulu kepada para pedagang atau pengguna lapak.

“Mereka sudah jalankan untuk melakukan sosialisasi kepada pemilik lapak yang ada di pasar. Visi pasar sendiri yaitu bagaimana menciptakan pasar tradisional dengan ciri modern,” ujarnya.

Ely menyatakan, tugas Direksi PD Pasar adalah memperbaiki semua fasilitas, seperti toilet, tempat cuci tangan, dan lainnya serta memberikan kenyamanan kepada masyarakat. Juga pengelolaan sampah secara baik, perbaikan keuangan, mulai dari parkir sampai potensi pendapatan lainnya. “Dengan penataan kembali dan inovasi yang dilakukan, kita optimis target pendapatan bisa dicapai,” terangnya.

Sementara itu, Direktur PD Pasar, Ardi Kale Lena, menjelaskan, salah satu upaya untuk mencapai target PAD yang diberikan tahun 2021 adalah mengkaji kenaikan biaya sewa kios di pasar.

Ardi menjelaskan, Perda yang dipakai untuk menetapkan biaya sewa kios dan lapak di pasar merupakan pernyataan 2002, sehingga dinilai tidak relevan dengan kondisi sekarang. “Sudah saatnya Perda tersebut dilakukan penyesuaian,” kata Ardi.

Ardi mengungkapkan, awalnya, biaya sewa kios sebesar Rp 900 ribu per tahun, dinaikan menjadi Rp 1,7 juta per tahun, dan jika dikonversikan ke bulan, maka per bulan, pemilik kios membayar sewa sebesar Rp 150 ribu.

“Kenaikan ini tentunya didahului dengan kajian yang mendalam yang telah dilakukan sejak September tahun 2020 kemarin dan mulai diterapkan pada tahun 2021 ini,” ungkapnya.

Ardi menjelaskan, upaya menaikan biaya sewa kios tersebut juga akan dibarengi dengan perbaikan fasilitas dan Pelayanan seperti kebersihan, penerangan, dan lainnya.

Dia menjelaskan, jumlah kios di Pasar Kota Kupang, hampir mencapai 500 unit. Tetapi tidak semua berfungsi, dan harganya bervariasi, karena tergantung ukuran kios itu sendiri.

Sementara untuk lapak, kata Ardi, sewanya dihitung harian, per harinya pedagang membayar Rp 2.000, dan kebersihan Rp 1.000.

“Kenaikan biaya sewa kios ini juga tidak berlaku untuk semua pasar. Hanya di Pasar Oebobo dan beberapa pasar lainnya yang kondisi kiosnya sesuai standar kelayakan,” kata Ardi.

Sementara itu, salah satu pedagang yang ditemui di Pasar Oebobo, Siti, mengatakan, dirinya tidak setuju dengan kenaikan tarif yang ditetapkan PD Pasar.

Menurutnya, kenaikan ini sangat memberatkan, karena pemasukan atau konsumen yang berbelanja juga tidak tentu, dan kenaikan yang ditetapkan sangat besar.

Dia mengaku, awalnya dia membayar Rp 900 ribu, tetapi sekarang dinaikan menjadi Rp 1.700 ribu per tahun.

“Saya berjualan di sini sejak tahun 2018 atau 2019 lalu, dan kenaikan ini tentu sangat memberatkan. Kalau bisa jangan diterapkan,” pintanya. (mg25)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top