Lepas Ekspor 36 Ton Kopi ke Belanda, Ini Harapan Bupati Matim | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Lepas Ekspor 36 Ton Kopi ke Belanda, Ini Harapan Bupati Matim


EKSPOR KOPI. Bupati Matim, Agas Andreas bersama pengurus Asnikom dan Rikolto dalam acara pelepasan ekspor Kopi Fine Robusta di Keluarahan Mando Sawu, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Rabu (24/2). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

BISNIS

Lepas Ekspor 36 Ton Kopi ke Belanda, Ini Harapan Bupati Matim


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Kopi asal Kabupaten Manggarai Timur (Matim), mulai dipasarkan ke luar negeri, tepatnya ke negara Belanda. Hal itu ditandai dengan acara pelepasan ekspor 36 ton Kopi Fine Robusta oleh Bupati Matim, Agas Andreas, di Keluarahan Mando Sawu, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Rabu (24/2).

Hadir dalam kesempatan itu Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Matim, Jhon Sentis, sejumlah pimpinan OPD, camat Lamba Leda Selatan, pihak perusahaan penghubung, sejumlah kepala desa dan lurah, petani kopi, dan perwakilan dari Bank NTT Cabang Borong.

“Kegiatan pelepasan Ekspor Kopi Fine Robusta baru bisa dilaksanakan hari ini (24/2), setelah sempat tertunda dari November dan Desember 2020 lalu. Tertundanya pengiriman itu karena ada halangan yang sangat mendasar,” ujar Kadis Pertanian Matim, Jhon Sentis, dalam kesempatan itu.

Sentis menyebutkan, 36 ton kopi yang diekspor itu dikirim dalam dua kontainer, dimana kopi-kopi ini merupakan hasil dari bekerja sama Asosiasi Petani Kopi Manggarai (Asnikon).

Pengiriman ke luar selama ini, kata Sentis, langsung dari Asnikom. Bahkan dari perorangan. Tetapi jumlahnya tidak banyak. Menurutnya, ini menjadi konsen dari Rikolto, sebagai perusahaan penghubung dengan petani kopi.

“Pengiriman hari ini, sudah ada kerja sama dengan Pemda Matim. Pengirimana selama ini masih langsung dari perorangan dan jumlahnya kecil. Rikolto yang membantu para petani kopi di Matim melalui kelompok atau organisasi Asnikom. Kopi yang berasal dari Matim ini akan dikirim ke salah satu perusahaan set up di Belanda,” beber Sentis.

Pada kesempatan itu, Sentis menyampaikan apresiasi kepada Rikolto Indonesia karena telah memberi pendampingan serta fasilitas kepada petani kopi di Matim. Sentis berharap, Rikolto Indonesia terus berperan di hilir untuk sektor pasar.

Sementara itu, Bupati Agas, mengatakan kegiatan pelepasan ekspor kopi itu memberi nilai tambah yang semakin besar bagi masyarakat Matim, khususnya petani kopi. Dengan adanya ekspor ini juga, diharapkan bisa membangun pasar yang lebih luas lagi.

Bupati Agas menyampaikan terima kasih kepada Rikolto dan Asnikom, serta semua pihak yang bergerak di usaha produksi kopi. Dimana bisa menghasilkan ekspor kopi yang keempat. Terima kasih juga kepada petani kopi, karena tanpa petani kopi, tidak mungkin perkebunan bisa menghasilkan kopi yang baik dan bermutu tinggi.

“Sejarah kopi di Manggarai didukung oleh Belanda itu sendiri. Itu dibuktikan dengan masih ada bendera Belanda di Desa Colol, Kabupaten Matim. Ini merupakan momen yang sangat pas untuk kita di Matim, yang awalnya didukung oleh Belanda,” kata Bupati Agas.

Agas ingin Kopi Colol di Matim menjadi salah satu merek tersendiri untuk kopi bubuknya. Bupati Agas juga meminta agar Asnikom tidak sekadar membeli, tapi juga sama-sama melakukan pendampingan. Sehingga mutu kopi tatap terjaga. “Saya juga harapkan kerja samanya, agar kualitas kopi tetap dijaga dan minat dari luar negeri untuk kopi dari Matim terus meningkat,” harap Bupati Agas.

Kepala Program Rikolto Indonesia, Nonie Kaban, menyampaikan apresiasi serta rasa bangga atas pencapaian Asnikom yang merupakan mitra Rikolto sejak tahun 2010. Menurut Nonie, kali ini merupakan ekspor keempat dengan jumlah kiriman besar.

“Ekspor hari ini jumlahnya sangat banyak. Ini kita bisa melihat pesanan yang terus meningkat, dimana awalnya hanya membeli sebanyak 600kg, kemudian meningkat ke enam ton, lalu sembilan ton, dan hingga sekarang sebanyak 36 ton,” ungkap Nonie.

Hal in, kata Nonie, menggambarkan bahwa kualitas kopi yang dihasilkan oleh petani Matim sangat berkualitas. Nonie pun berharap agar kualitas ini terus dipertahankan, dan ditingkatkan. Kerja sama ini akan berlangsung selama delapan tahun. Nonie berharap agar Pemkab Matim mendukung program ini guna meningkatkan pendapatan petani berupa fasilitas yang dibutuhkan.

Manager Asnikom, Damasus Agas, mengatakan, ekspor kopi ini untuk memenuhi esanan pembeli kopi asal Belanda, yakni This Side Up (TSU).
Menurut Damasus, Kopi Manggarai di Eropa terutama Kopi Robusta dari Matim, belum memiliki pesaing di dunia. Hal itu yang membuat mereka melakukan perjanjian yang cukup panjang dengan Asnikom. “Ini juga merupakan mekanisme pasar. Cita rasa Kopi Robusta Manggarai umumnya, termasuk dari Kabupaten Matim cocok untuk selera orang Eropa,” katanya. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top