Lagi, Banjir Rendam Sawah di Rote Ndao, Petani Rugi Ratusan Juta Rupiah | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Lagi, Banjir Rendam Sawah di Rote Ndao, Petani Rugi Ratusan Juta Rupiah


TERGENANG. Kondisi sawah yang tergenang air menyerupai lautan di lokasi persawahan Harno'a, Desa Sotimori, Kecamatan Landu Leko. Gambar diabadikan Selasa (23/2). (FOTO: Efraim Surah for TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Lagi, Banjir Rendam Sawah di Rote Ndao, Petani Rugi Ratusan Juta Rupiah


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Setelah merusak belasan hektar sawah di Fatelilo, Kecamatan Pantai Baru, banjir kali ini kembali menerjang 64 hektare lahan sawah di Desa Sotimori, Kecamatan Landu Leko, Selasa (23/2). Akibatnya, petani merugi hingga ratusan juta rupiah.

Terdapat tiga lokasi yang diterjang banjir. Sejumlah tanaman pertanian seperti padi, jagung juga kacang tanah tergenang air. Tiga lokasi itu, yakni Sosana dengan kerusakan lahan 3,2 hektare, Danobui 4,1 hektare, dan Harno’a dengan kerusakan mencapai 57,4 hektare.

“Ada tiga lokasi yang terendam banjir setelah hujan. Dan paling banyak terdampak di lokasi Harno’a,” kata Kepala Desa Sotimori, Kecamatan Landu Leko, Aser Bulan, saat dikonfirmasi Timor Express, Rabu (24/2).

Menurutnya, usia tanaman padi di atas lahan tersebut telah memasuki fase bunting atau berusia enam puluh hari setelah ditanam. Termasuk tanaman jagung dan kacang tanah.

Semua sawah milik petani di lokasi Harno’o, kata Aser, banjir merendam hingga tanaman tak terlihat, dimana ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.

“Padi sampai tenggelam karena ketinggian air lebih dari padi,” kata Aser. Dia mengatakan, ukuran tersebut diketahui saat beberapa petani mencoba menyelamatkan beberapa barang di dalam rumah yang dibangun persis di tengah sawah.

Kejadian banjir ini, demikian Aser, diakibatkan oleh intensitas hujan yang sangat tinggi pada Selasa (22/2) dini hari.

Hujan yang mulai mengguyur wilayah itu sekira pukul 01.30 wita. Karena intensitasnya sangat tinggi, sehingga hanya beberapa jam, sawah-sawah berubah bak lautan.

Tanaman jenis Kacang tanah, sama sekali tak terlihat. Begitu pula tanaman padi yang hanya nampak bagian paling atas. Itu pun tak terlalu banyak, karena yang nampak sebagian hanyalah tanaman jagung.

“Hanya jagung yang bisa terlihat sebagian, karena tanamanya tinggi. Sedangkan padi hanya bagian ujung, itupun hanya di beberapa petak sawah. Kalau kacang tanah sama sekali tidak terlihat,” beber Aser, yang mengaku bencana ini sudah ditinjau dan didata penyuluh dari Dinas Pertanian Kabupaten Rote Ndao.

Terpisah, ketua lokasi persawahan Harno’a, Frans Hun, yang dikonfirmasi Timor Express, mengakui kerusakan tersebut. Menurutnya, semua tanaman yang terendam terancam gagal panen.

“Tidak ada harapan lagi untuk tanaman padi. Karena saat ini, padi sudah masuk fase bunting. Apalagi kacang tanah,” kata Frans Hun. “Pada fase bunting ini, tanaman padi tidak terlalu banyak membutuhkan air,” tambahnya.

Khusus di lokasi Harno’a, kata Frans, paling banyak petani sawah yang lahannya terdampak banjir ini. Jumlahnya mencapai 40 petani. Total kerugian yang ditaksir Rp 151.550.000.

Kerugian ini dihitung berdasarkan kerusakan tanaman padi, dengan nilai jual Rp 50.000 per kaleng/blek (wadah khusus pengukur padi yang sering digunakan). Sehingga khusus tanaman padi, ditaksir Rp 3.013 blek padi yang rusak akibat banjir.

Sementara di lokasi Danobui, ditaksir 886 blek, dengan nilai kerugian lebih kurang Rp 44.300.000. Sedangkan di lokasi Sosana lebih kurang 219 blek atau senilai Rp 10.950.000. Totalnya mencapai Rp 206.800.000.

“Kami sangat mengharapkan perhatian pemerintah atas kejadian ini. Sebab, hanya dari hasil olah lahan itulah kami bisa mencukupi kebutuhan keluarga kami,” harap Frans. (mg32)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top