KP-DMW Resmi Pimpin Sumba Timur, Mari Bersatu untuk Sumba Timur | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

KP-DMW Resmi Pimpin Sumba Timur, Mari Bersatu untuk Sumba Timur


MELANGKAH PASTI. Bupati Sumba Timur, Drs. Kristofel Praing, M. Si dan Wakil Bupati, David Melo Wadu, ST. (FOTO: YOPPY LATI/TIMEX)

Advetorial

KP-DMW Resmi Pimpin Sumba Timur, Mari Bersatu untuk Sumba Timur


TIMEXKUPANG.com-Lima pasang kepala daerah terpilih di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hasil  Pilkada Serentak 2020 resmi dilantik oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat pada Jumat, 26 Februari 2021 lalu di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, di Kupang.

Acara pelantikan dihadiri oleh tamu undangan yang terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Para bupati hanya didampingi para isterinya dan Ketua DPRD masing-masing. Salah satu pasangan yang dilantik adalag Bupati  dan Wakil Bupati Sumba Timur Drs. Kristofel Praing, M. Si (KP) dan David Melo Wadu, ST (DMW)

Pengambilan sumpah dan pelantikan Bupati dan Wakil Bupati itu didasarkan pada Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 131.53-267 Tahun 2021 tanggal 19 Februari 2021 tentang Pengesahan Pengangkatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah hasil Pemilihan Kepala Daerah serentak Tahun 2020 di Kabupaten pada Provinsi NTT. Yang kemudian dirubah dengan Keputusan Mendagri Nomor 131.53-370 tanggal 24 Februari 2021 tentang perubahan atas Keputusan Mendagri  Nomor 131.53-267 Tahun 2021 setelah adanya keputusan Mahkamah Konstitusi terkait sengketa Pilkada (Kabupaten Manggarai Barat, Red).

Pengambilan sumpah dan pelantikan diawali dengan  pengucapan janji jabatan oleh para Bupati dan Wakil Bupati yang dipandu oleh Gubernur NTT.  Diikuti oleh pengukuhan oleh rohaniwan Protestan dan rohaniwan Katolik. Setelahnya para Bupati dan Wakil Bupati menandatangani janji jabatan dan pakta integritas. Acara dilanjutkan dengan  pemasangan tanda pangkat jabatan, penyematan tanda jabatan dan penyerahan keputusan Menteri Dalam Negeri oleh Gubernur NTT.  Serta diakhiri dengan penandatanganan naskah pelantikan oleh Gubernur NTT. Gubernur NTT sendiri tidak memberikan sambutan lazimnya dalam setiap pelantikan kepala daerah.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pelantikan Ketua TP PKK/Dekranada Sumba Timur Ny. Merliaty Simanjuntak sebagai Ketua TP PKK/Dekranasda  Sumba Timur oleh Ketua TP PKK NTT,  Julie Sutrisno Laiskodat.

Perhelatan Politik Selesai

Bupati Sumba Timur Drs. Kristofel Praing, M. Si k media ketika ditanya pesannya menegaskan bahwa sejak dirinya bersama wakil bupati dilantik sehingga tidak ada lagi perbedaan di masyarakat dan saatnya masyarakat untuk bersama membangun daerah itu dibawa kepempinan keduanya.

“Pertama, bahwa perhelatan politik di Sumba Timur kita telah selesaikan dan hari ini telah dilantik pemimpin Sumba Timur dan mulai hari ini, tidak ada lagi perbedaan dan kami siap memimpin Sumba Timur untuk lebih baik dari sebelumnya,” katanya memberi pesan kepada masyarakat Sumba Timur.

Untuk Program Kerja di-100 hari pertama, hal pertama yang akan dilakukannya adalah konsolidasi di birokrasi. Baginya, kunci keberhasilan program kerja yang akan dijalankannya selama lima tahun ke depan ada pada birokrasi. Dia tidak menampik bahwa di kalangan birokrasi terdapat perbedaan pilihan politik, namun baginya dengan adanya bupati dan wabup yang baru maka semua perbedaan itu akan disatukan kembali guna bersama-sama, bahu membahu membangun Sumba Timur.

“Kita akan melakukan konsolidasi di birokrasi sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik dan berbagai perbedaan yang selama ini mungkin saja ada bisa kita sinergikan sebagai bagian dari bagaimana membangun Sumba Timur secara bersama,” ungkapnya.

Khusus untuk penataan Kota Waingapu sebagai ibukota kabupaten, Kris Praing akan melakukan penataan dengan menjalankan program “Waingapu BERHIAS” yakni Bersih, Hijau dan Asri menuju Kota BINTANG yakni Bersih, Indah dan Menyenangkan.

Sedangkan untuk lima tahun ke depan, Kris mengakui bahwa pemerintahannya bersama mewarisi pemerintahan yang sangat sulit di tengah Pandemic Covid-19 yang bukan saja melanda Sumba Timur secara lokal tapi secara global dan semua aspek berimbas. Meski demikian, ia sangat optimistis, dengan mengerahkan segalah daya dan upayanya yang ada untuk dioptimalkan sedemikian rupa sehingga dengan demikian masyarakat bisa keluar dari himpitan yang ada. Terkait kemiskinan yang masih melanda NTT dan semua kabupaten di NTT termasuk Kabupaten Sumba Timur, diakuinya bahwa realitas tak bisa dipungkiri bahwa Kabupaten Sumba Timur sebagai salah satu kabupaten yang dikategorikan miskin oleh Badan Pusat Statistik.

Ia menegaskan, sebagai salah satu kabupaten miskin, pihaknya tidak akan terlena dengan predikat tersebut namun akan berupaya untuk bekerja keras untuk keluar dari himpitan kemiskinan itu. Karena, baginya,  persoalan kemiskinan menjadi persoalan semua pihak, bukan hanya oleh pemerintah.

“Ini menjadi persoalan bersama, tidak saja pemerintah tapi juga dunia usaha, masyarakat sipil secara keseluruhan. Kita akan bahu membahu bagaimana kita keluar dari himpitan kemiskinan itu. Dan tiada pilihan lain, kita harus bekerja keras, kerja kerja dan kerja untuk Sumba Timur yang lebih baik,” katanya bersemangat.

Terkait bidang pariwisata guna mendukung Program Pemprov NTT yang menjadikan sektor pariwisata sebagai prime mover bagi sektor lainnya,  menurut Kris Praing, sangat mendukung program tersebut, apalagi Pulau Sumba merupakan Pulau Terindah versi sebuah Majalah di Jerman. Sebagai pulau terindah, hal itu menjadi satu tantangan tersendiri mana kala dunia dilanda Covid-19 dimana menurunnya kunjungan wisatawan ke Pulau Sumba.

“Di saat yang sulit seperti ini, kita tahu bahwa orang jarang datang tetapi pada saat yang sama tuntutan untuk meningkatkan pariwisata sehingga kita harus punya kiat-kiat tertentu bagaimana sesungguhnya di masa pendemi ini pun orang masih mau datang ke Sumba Timur,” katanya secara diplomatis.

Kris Praing juga menyinggung soal sektor peternakan apalagi, Sumba Timur dikenal sebagai gudang ternak. Namun perlahan-lahan predikat itu mulai sirna akibat tidak terkendalinya pengiriman ternak produktif keluar Pulau Sumba. Ia mengakui bahwa populasi ternak di kabupaten itu mulai menurun. Untuk itu, di eranya, kebijakannya adalah memperketat pengiriman hewan produktif ke luar.

Hal lain adalah memberikan keyakinan kepada pemerintah, baik pemerintah pusat dan provinsi, agar Sumba Timur yang sebelumnya menjadi lumbung ternak, tidak ada pilihan lain untuk meminta mendatangkan hewan yang bisa menjadi produk baru di Sumba Timur.

“Program kerja di bidang pertanian dengan sub sektor peternakan menjadi prioritas karena masyarakat Sumba Timur adalah petani peternak yang menyekolahkan anak dari hasil peternakan. Demikian pula dalam berbudaya dan relasi sosial sangat mengandalkan ternak. Dalam relasi sosial, belum sah kalau belum ada kerbau, sapi atau babi,” ujarnya.

Untuk sektor pertanian menurutnya, masih banyak lahan tidur yang belum dioptimalkan dengan baik. Untuk jangka pendek, dia akan berusaha agar daerah aliran sungai (DAS) yang ada dioptimalkan dengan baik. Apalagi, Sumba Timur dikenal sebagai daerah lahan kering, sehingga sangat membutuhkan sumber air yang banyak. Di sinilah, peran pemerintah untuk menghadirkan sumber-sumber air bagi daerah yang kering.

Kendala yang dihadapi petani adalah serangan hama belalang. Baginya, serangan hama yang terjadi setiap tahun sangat berat dirasakan oleh pemerintah dan masyarakat. Berbagai upaya telah dilakukan instansi teknis guna menghentikan serangan hama tersebut. Ke depan, lanjut dia, pihaknya akan memberikan perhatian ekstra terhadap serangan belalang jenis kumbara ini dengan kebijakan yang lebih baik.

“Hama belalang untuk saat ini sangat berat bagi kami di Sumba Timur. Berbagai upaya te;ah dilakukan oleh pemerintahan yang sebelumnya tapi kita akan lebih optimalkan dengan cara memutus mata rantai. Ini menjadi pekerjaan bagi intansi teknis yang lebih mengetahui tetapi dari segi kebijakan, kita harus pastikan kita harus minimalisir,” ucapnya. Serangan belalang  sangat berpengaruh pada hasil panen petani dan juga sangat berpengaruh pada penyediaan pakan ternak masyarakat. Mungkin saja ada mata rantai  yang terganggu. Itu yang harus kita pelajari sehingga bagaimana kita menanganinya akan lebih optimall,” demikian kata Kris Praing. (yoppylati)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya Advetorial

To Top