Oknum Guru SD Tolak Berdamai, Pengacara Tersangka Tetap Upaya Restorative Justice | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Oknum Guru SD Tolak Berdamai, Pengacara Tersangka Tetap Upaya Restorative Justice


BATAL BERDAMAI. Kasat Reskrim Polres TTU, AKP Sujud Alif Yulamlam, Kanit Tipiter Reskrim Polres TTU, Aipda Daniel Tutkei, pengacara tersangka SN, Robertus Salu dan orang tua serta keluarga kedua belah pihak saat melakukan upaya restorative justice, Minggu (28/2). Sayangnya upaya ini buntu karena pelapor tak mau menerima permintaan maaf tersangka. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Oknum Guru SD Tolak Berdamai, Pengacara Tersangka Tetap Upaya Restorative Justice


Dugaan Pencemaran Nama Baik Oleh Siswa SMA Terkait Postingan di Medsos

KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Langkah restorative justice atau keadilan restoratif terhadap kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh seorang siswa SMA di TTU berinisial SN karena memosting dugaan pungli di SDN Bestobe melalui akun platform media sosial facebook, tak menemui kata sepakat.

Upaya penyelesaikan proses hukum dengan mengedepankan pendekatan sosio kultural yang dilaksanakan di aula Satreskrim Polres TTU tersebut dihadiri Kasat Reskrim Polres TTU, AKP Sujud Alif Yulamlam, Kanit Tipiter Reskrim Polres TTU, Aipda Daniel Tutkei, pengacara tersangka SN, Robertus Salu, dan orang tua serta keluarga kedua belah pihak.

Disaksikan Timor Express, Minggu (28/2), upaya restorative justice terhadap kasus dugaan pencemaran nama baik tak menemui kata sepakat lantaran oknum Guru SDN Bestobe, Walfrida Une Naisoko tidak mau menerima kata maaf dari SN, yang kini berstatus tersangka, dan memutuskan untuk menunda proses restorative justice dalam kesempatan tersebut.

Kasat Reskrim Polres TTU, AKP Sujud Alif Yulamlam kepada sejumlah awak media, Minggu (28/2) mengatakan, langkah restorative justice merupakan instruksi Presiden melalui Kapolri kepada aparat kepolisian, bahwasannya dalam penegakan hukum, khususnya pelaksanaan dan penerapan undang-undang ITE, bagi tindak pidana pencemaran nama baik, dilakukan dengan pendekatan budaya.

Dikatakan, penetapan tersangka terjadi lebih dahulu pada Desember 2020 lalu sebelum keluarnya instruksi tersebut. Meskipun restorative justice pada kali kedua belum berhasil menuai kata sepakat, tetapi pihak Polres TTU akan tetap membuka ruang untuk langkah damai kembali dilakukan.

“Jika langkah restorative justice benar-benar tidak memberikan solusi untuk penanganan kasus tersebut maka Polres TTU, lanjutnya, akan melaksanakan proses hukum sesuai SOP,” jelasnya.

Kuasa hukum tersangka, Robertus Salu menyayangkan sikap dari seorang guru yang kemudian tidak bisa memaafkan seorang anak dalam hal ini muridnya untuk berdamai secara kekeluargaan.

Meski demikian, pihaknya akan selalu melakukan pendekatan untuk kemudian adanya upaya restorative justice dalam menyelesaikan kasus ini.

Selain itu, kata Robertus, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak penyidik dalam hal ini Polres TTU agar laporan pencemaran nama baik melaluinya medsos facebook ini dipending dulu sambil membuktikan ada tidak dugaan pungutan liar di sekolah.

“Tetapi jika klien saya bisa membuktikan bahwa itu adalah pungli, maka kasus dugaan pencemaran nama baik gugur dengan sendirinya,” pungkasnya. (mg26)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top