Derita Anastasia, Gadis Malang Penderita Kaki Gajah di SBD | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Derita Anastasia, Gadis Malang Penderita Kaki Gajah di SBD


DERITA FILARIASIS. Anastasia Arnonce Lende, warga Desa Pero, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, saat ditemui Senin (1/3). (FOTO: Fredi Bulu Ladi/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Derita Anastasia, Gadis Malang Penderita Kaki Gajah di SBD


Ingin Berobat ke Rumah Sakit, Keluarga Terkendala Biaya

TAMBOLAKA, TIMEXKUPANG.com-Tatapannya tajam. Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibirnya, ketika TIMEX mendatangi kediamannya di Desa Pero, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Senin (1/3).

Ia kaget dan tak menyangka didatangi wartawan. Dalam hati, ia berpikir, siapa gerangan yang menyampaikan keadaannya kepada sang pewarta. Ketika TIMEX memperkernalkan diri dan menyampaikan maksudnya, baru ia lepas dari rasa kagetnya. Sesekali ia berusaha untuk tersenyum saat diajak bicara. Namun hanya senyuman kecil.

Anastasia Arnonce Lende, itulah nama lengkapnya. Ia dilahirkan pada 10 Agustus 1999, buah kasih pasangan suami isteri Lukas Lende Bulu dan Yustina Bulu.

Anak pertama dari tujuh bersaudara ini menderita penyakit Filariasis Limfatik atau kaki gajah tepat di kaki kirinya. Penyakit ini telah dideritanya sejak berumur dua tahun.

Filariasis atau kaki gajah adalah pembengkakan tungkai akibat infeksi cacing jenis filaria. Cacing ini menyerang pembuluh getah bening dan ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Kesehariannya, Anatassia hanya berdiam diri di gubuk orang tuanya di kampung tersebut. Dengan bantuan tongkat, ia berusaha untuk berjalan di halaman rumahnya.

Anatassia hanya mampu berjalan sekira 2 – 3 meter. Ia merasa capek, karena tak mampu menggerakkan kakinya yang telah membengkak sejak lama. Terkadang, ia merasa iri melihat teman sebayanya sejak kecil beraktivitas setiap hari. Ke sekolah, membantu orang tua atau sekadar bersenda gurau. “Saya sudah tidak kuat lagi. Ingin mati saja karena saya sudah tidak berguna,” katanya berlinang air mata.

“Saya ingin sembuh juga tetapi keadaan ekonomi, karena kami orang miskin tidak mampu untuk berobat,” ungkapnya lirih dengan suara terbata-bata. “Saya ingin juga bermain dengan teman-teman dan mau ke sekolah, hanya tidak ada uang untuk pergi operasi ke rumah sakit di Bali,” lanjut Anastasia dengan ekspresi penuh harapan mendapatkan pertolongan dan perhatian.

Yustina Bulu, ibu Anastasia tak menyangka jika putri pertamanya itu menanggung beban berat seperti itu. Ia mengisahkan, anaknya tersebut dilahirkan dalam kondisi normal. “Lahirnya normal-normal saja,” katanya.

Sampai memasuki usia lima bulan, Yustina melihat kaki kiri putrinya berubah warna dari putih ke warna biru. Semakin usianya bertambah, kaki anaknya makin membesar.

Ia tak menyangka jika pembengkakan itu karena mengidap penyakit kaki gajah. “Kami hanya sekali membawa dia ke Puskesmas. Selebihnya tidak lagi,” ujarnya lirih.

Memasuki usia sekolah, kata Yustina, Anastasia pernah mengenyam pendidikan di sekolah dasar di kampungnya. Namun hanya sampai di kelas III SD. Anastassia tidak lagi melanjutkan ke kelas IV karena kondisi kakinya mulai membengkak dan sangat sulit untuk berjalan.

“Sehingga kami memutuskan agar dia tidak ke sekolah lagi. Padahal, ia kepingin sekali bersekolah seperti teman-teman lainnya,” ucap Yustina mengenang masa anaknya ingin bersekolah ketika berumur 8 tahun. “Mulai saat itu, ia tinggal di rumah,” tambahnya.

Di bale-bale rumahnya, Anastasia mengaku ingin sekali untuk sembuh dari penyakitnya itu. Ia mengaku mendapat dukungan dari semua anggota keluarganya. Namun harapan untuk sembuh seakan sirna karena untuk melakukan operasi terhadap kakinya harus dilakukan di Rumah Sakit Sanglah-Denpasar.

Orang tua Anastasia yang berporofesi sebagai petani membuat keinginannya itu seakan sirna. Seperti hilang harapan. “Pasrah saja sudah,” katanya lagi. (*)

Penulis: Fredi Bulu Ladi

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top